BUKAN AKU ORANGNYA

Malam sedang dingin. Sepasang manusia sedang duduk di atas balkon bersama lampu-lampu yang menyala remang. Dua gelas Wine telah tertuang. Hidangan tengah malam telah habis masuk ke dalam perut mereka. Kini hanya tersisa ribuan bintang yang menghiasai percakapan mereka berdua di sana.

“Menurutmu bagaimana kalau kita menikah saja?”

Kalimat itu keluar dengan tiba-tiba dari mulut seorang pria bernama Tara. Pria yang baru saja saja merayakan hari ulang tahunnya yang ke-27 tahun satu pekan lalu.

“Menikah, ya? Aku masih ragu untuk itu.”

Jawaban dari pertanyaan Tara tadi dibalas dengan nada suara datar tanpa ada rasa terkejut dari seorang wanita yang duduk di sebelahnya. Dia bernama Hening. Wanita yang satu umur dengan Tara namun lebih tua sedikit, berbeda dua bulan lebih cepat dia keluar dari rahim ibunya.

“Kamu masih ragu karena kejadian waktu itu?” kembali Tara bertanya kepada Hening sambil menatap ke arah langit.

“Sepertinya begitu, tapi enggak sepenuhnya. Aku ragu karena aku ingin menikmati hidup yang seperti ini. Hidup tanpa adanya ikatan dan berusaha untuk mengembangkan karir lebih tinggi lagi.”

Hening adalah wanita karir dengan dedikasi tinggi. Posisinya di kantor keuangan, kini telah menempati jajaran petinggi divisi. Lebih tepatnya, dia merupakan kepala divisi keuangan termuda. Kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil. Sayangnya, setiap hal yang terjadi dalam hidup selalu memiliki resiko dan pengorbanan. Hening memilih untuk mengorbankan kisah cintanya di masa muda, demi karir yang tengah dia kejar.

“Kamu sendiri, kenapa ingin menikah sama aku? Aku itu orangnya jarang ada di rumah, loh.” Kembali Hening berbicara kepada Tara.

“Justru karena kamu jarang ada di rumah. Kamu akan selalu punya alasan untuk pulang. Untuk ketemu sama orang yang sayang sama kamu. Untuk yang siap dengar cerita kamu, cerita petualangan kamu. Dan aku rasa, itu aku.”

Tara menjelaskan kepada Hening bahwa dirinya layak untuk menjadi suaminya. Meski Hening sedang merasakan ragu dalam dirinya. Dia percaya bahwa cinta yang menunggunya itu lebih berharga daripada cinta yang dia kejar. Yang tidak lari meski kita pergi terlalu jauh dan siap untuk menerima kepulangan kita dengan apa adanya.

Hubungan Hening dan Tara sudah terjalin cukup lama. Sejak pertemuan pertama mereka di toko kue tengah kota waktu itu. Mereka berdua akhirnya bertukar kontak dan berbicara panjang lebar. Bercerita apa saja. Tertawa dalam bentuk emotikon sama-sama.


Bunyi pesan masuk [Ting]

Tara : “Lagi ngapain?”

Hening : “Nggak lagi ngapa-ngapain. Baru mau pulang, barusan juga selesai rapatnya. Kalau kamu?”

Tara : “Lagi cari cara biar dua tiket bioskop yang aku udah beli nggak kebuang salah satunya.”

Hening : “Kamu beli dua tiket bioskop, tapi belum punya temen nonton?”

Tara : “Iya. Nonton bareng yuk. Tiketnya masih jam 8 malem nanti. Ini masih sempat sih, kalau kamu mau aku jemput sekalian.”

Hening : “Ini rencana yang nggak ada di jadwal aku sih. Tapi sayang juga kalau tiket kamu hangus secara cuma-cuma.”

Tara : “Jadi?”

Hening : “Aku tunggu di lobby kantor. 5 menit kamu nggak kelihatan, siap-siap aja kamu nonton sama bangku kosong.”

Tara : “Wih. Siap ibu kadiv. Saya segera meluncur.”


Akhirnya mereka berdua pergi bersama menuju bioskop. Mobil Tara sudah siap di lobby kantor Hening lebih cepat. Ternyata, Tara sudah menunggu Hening lebih dulu sebelum dia mengirim pesan kepada Hening. Raut wajah Hening nampak senang ketika sadar bahwa Tara sudah siap, berdiri menyambut seperti valley hotal bintang lima membukakan pintu mobilnya.

“Aku nggak nyangka, teryata kamu udah siap di bawah. Pakai acara bukain pintu mobil segala.”

“Tenang. Harga valley-nya nggak mahal kok. Cuma cukup jadi temen nonton film di bioskop aja.”

Setelah selesai menonton bioskop. Tara mengajak Hening untuk pergi ke toko kue dimana mereka bertemu untuk pertama kalinya. Toko kue milik Tara.

“Kita mampir ke toko dulu, ya? Ada kue yang ketinggalan.”

“Resep baru lagi?”

“Enggak, bulan ini nggak ada resep baru lagi. Nanti kamu pasti tau kok.”

Sesampainya di toko, Tara menyuruh Hening untuk tetap tinggal di dalam mobil saja. Katanya, “tunggu bentar, ya. Nggak lama.”

Benar saja, sekitar sepuluh menit, Tara kembali keluar dari dalam toko dan masuk ke dalam mobil sambil membawa satu kotak kue bolu cokelat.

“Wah. Aku inget ini. Kue bolu yang pernah aku beli di toko kamu. Aku mau dong.”

Dengan segera, Hening mengambil kotak kue yang masih di pegang oleh Tara. Dia membuka kotak kue itu dengan mata yang berbinar tidak sabar.

“Pelan-pelan. Nanti jatuh kue nya,” ucap lembut Tara kepada Hening.

Langsung saja, Hening tidak mendengar ucapan dari Tara itu. Kue bolu itu segera Hening kunyah. Senyumnya terpancar dengan pipi yang mengembang penuh karena di dalam mulutnya penuh dengan kue bolu buatan Tara.

“Hummm.. ini enak banget Tara. Aku suka.”

Kalimatnya tidak terdengar dengan jelas. Namun Tara sungguh sangat senang mendengarnya. Dia tersenyum sambil menatap ke arah Hening yang tengah kegirangan memakan kue bolu buatannya.

Sejak malam itu, cerita Hening dan Tara berlangsung lama. Hubungan mereka semakin dekat meski tanpa adanya tapi yang mengikat. Sesekali Tara dan Hening saling mengunjungi tempat tinggal masing-masing. Kadang untuk sekedar menginap, kadang untuk berbagi cerita curhat. Kadang salah satu datang untuk melepas penat.

Pelukan itu datang menyambar Tara seketika. Baru saja pintu apartemennya dia buka. Hening memeluknya sambil berkata, “Tara, aku capek.”

Tara tidak menghindar. Dia justru mendekap tubuh Hening dengan erat. Mereka berpelukan untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya, Tara menyuguhkan secangkir air putih.

“Minum dulu, Ning. Kamu capek kenapa?”

“Aku capek aja. Capek. Bener-bener capek.”

“Nggak mau cerita?”

“Enggak. Kayaknya lebih baik aku di sini dulu deh. Boleh kan, Tara?”

Tara yang berdiri sedikit lebih jauh dari tempat Hening duduk, hanya memberi anggukan pertanda setuju. Dia memperbolehkan Hening untuk menginap di apartement-nya.

Beberapa menit berlalu. Tara melemparkan handuknya kepada Hening yang masih duduk di sofa. “Mandi dulu, Ning. Pakai handuk aku. Siapa tau pikiran kamu bisa lebih tenang.”

Hening tidak berkata banyak. Dia hanya menjawab, “Iya.”

“Kalau kamu mau air panas. Bilang aja, biar aku siapin dulu.”

“Boleh, Tar.”

Tara lekas menuju kamar mandi. Membenahi jet shower air panas yang harus di setting secara manual. Dia memutar tuas satu persatu, mengecek air yang sudah terguyur jatuh, memastikan bahwa airnya tidak terlalu panas.

“Tara.” Suara Hening memanggil dari arah belakang Tara. Wajahnya nampak lesu. Pandangannya sayu. Tubuhnya sudah teramat letih. Tara memandang wajahnya. Tidak berkata apa-apa.

Dari balik kaca buram kamar mandi apartement Tara. Mereka berdua berciuman. Pelukan yang menyatukan rasa, terjadi dibalik sana. Hening dan Tara bercinta penuh rasa. Bukan cinta, namun sama-sama melepas rasa lelah.

Tengah malam tiba. Wine mereka masih tersisa setengah. Balkon apartemen yang semula penuh cerita, kini menemui percakapan terakhir mereka. Tara mengajak Hening menikah. Sedangkan Hening justru sebaliknya. Menolak halus dengan berkata, “makasih untuk semuanya. Mungkin kamu ingin menikah, Tara. Tapi aku rasa, bukan aku orangnya.”

 

- SELESAI -

Komentar

Postingan Populer