RUMAH UNTUK PULANG
Sejak pagi, sering ponsel ramai membisingi telinga. Satu panggilan tak terjawab, dua panggilan tak terjawab, panggilan lain masuk dari nama kontak yang berbeda. Zul mengangkat panggilan yang berikutnya. Staf kantor membrondong panggilan ke ponselnya tanpa henti di pagi hari.
“Pak Zul, tagihan yang ini kapan dibayarkan?” suara dari panggilan ponsel yang ke sekian.
Hampir semua orang menghubunginya untuk menagih tagihannya masing-masing.
“Iya, ini masih saya urus tagihannya. Uangnya sedang diputar untuk keperluan lainnya. Siang ini saya kabari lagi.”
Zul mencoba meredam emosi banyak orang termasuk dirinya juga yang tengah kebingungan. Salah satu anggota yang mengurus keuangan juga melaporkan hal yang sama.
“Uang kita tinggal segini. Harus bayar yang mana dulu?”
Kali ini Zul benar-benar kehabisan akal. Dia bingung sebingung-bingungnya. Rasanya kepala ingin meledak dan telinganya sudah panas memerah. Dalam batinnya juga bertanya, “yang mana dulu?”
Hingga jam makan siang tiba, panggilan kembali mengembang di layar ponselnya. Orang yang tadi pagi, kembali menagih janjinya. Namun kali ini Zul tidak mengangkatnya.
Seharian ini merupakan hari yang berat bagi Zul. Banyak hal yang tidak dapat dia kendalikan padahal seharusnya itu sudah menjadi kewajibannya. Posisi sebagai manager keuangan operasional seharusnya mampu membuat keputusan untuk anggaran yang akan dikeluarkan. Memperkirakan dengan managerial terstruktur seharusnya menjadi sebuah langkah awal untuk dapat membuat keputusan penting.
Sayangnya meski hal itu telah Zul lakukan, dia tetap saja kualawahan karena perencanaannya gagal. Semua orang meminta untuk cepat diselesaikan. Biaya tidak terduga yang seharusnya masuk dalam recovery keuangan, malah membengkak karena tekanan dari semua pihak.
Zul seolah ingin menyerah, namun apa daya, pesan atas semua tanggung jawab yang telah diamanatkan harus dia selesaikan. Dia memutuskan di hari itu untuk menghilang sejenak. Dan itu tidak apa-apa.
Malam harinya, Zul tetap terjaga. Tanpa batang rokok yang menyala, tanpa kopi panas yang mengepulkan asapnya, tanpa seorang teman di sampingnya, dia menatap bintang yang bertebaran di angkasa. Lamunannya menuturkan sebuah tanda tanya tentang bagaimana caranya untuk dia melewati ini semua.
“Kalau saja, saya bisa lebih baik dari ini. Apakah semua hal ini akan terjadi?” ucap Zul pada batinnya sendiri.
Selayaknya pimpinan yang harus tetap terlihat baik-baik saja di hadapan rekan tim-nya, Zul juga sama lemahnya dengan manusia lainnya. Dia tidak luput dari kesalahan, tidak luput juga dari kata ingin menyerah. Hal yang tiba-tiba dia ingat saat menatap bintang di langit adalah pesan ibunya.
“Kalau ada-apa dan nggak punya tempat cerita. Ingat satu hal Zul, kamu punya tuhan yang nggak kemana-mana dan siap kamu mintain pertolongan. Cerita ke tuhan kalau kamu sedang dalam masalah.”
Mengingat ucapan sang ibu, Zul lekas masuk ke dalam rumah dan mempersiapkan dirinya. Membasuh tubuhnya dengan air wudhu, lalu sholat kepada sang pencipta. Selesai sholat, dia tidak lekas beranjak dari sajadahnya. Dia melanjutkan lamunannya, namun kali ini dengan tangan yang mengadah ke langit. Entah apa saja yang dia ucapkan, Zul hanya meminta pertolongan dan akhirnya dia tertidur di sana.
Pagi hari tiba kembali. Kali ini masih tetap dengan panggilan ponsel seperti kemarin. Sama banyaknya. Namun Zul lebih dulu siap karena dia telah bangun lebih awal sebelum ponselnya ramai berbunyi. Sejak tertidur di atas sajadah semalaman, Zul bangun tepat bersamaan dengan Adzan Subuh. Dan dia memulai pagi yang lebih baik untuk hari ini.
“Halo, maaf baru bisa kasih kabar pagi ini. Pencairan akan dilakukan ketika bank buka di jam oparasional, ya.” Zul berbicara dengan nada tegas dan santai. Ternyata, semalam ketika Zul tangah pulas tertidur, pimpinan perusahaan memberikan pesan kepadanya. Uang dengan jumlah besar, masuk ke dalam rekening operasional.
“Pak Zul, hari ini pembayaran bisa lunas semua. Uangnya cukup bahkan masih ada sisa untuk ke depannya. Ibu direktur sudah kasih anggaran bersama dengan rencana pembayaran untuk kegiatan berikutnya.”
Tidak henti-hentinya Zul mengucap syukur. Senyum bahagia karena tuhan menyelesaikan masalahnya begitu mudah tanpa dia sangka. Meredakan semua hal yang dia resahkan dalam hatinya. Kini Zul jauh lebih tenang dari sebelumnya. Nasihat ibu yang tiba-tiba hadir malam itu membuat semuanya terlihat mudah.
Di titik terendah, seorang manusia lemah yang meminta bantuan kepada yang maha kuat pasti akan menemukan jalannya. Meski menyerah seudah ada di depan mata, namun uluran tangan dari sang pencipta akan tetap ada untuk kita yang bersedia berdoa kepadanya.
Zul kemudian melanjutkan cerita hidupnya bersama dengan rekan timnya. Mungkin perjalanannya belum selesai, mungkin masih ada masalah yang akan datang kepadanya. Namun Zul yakin, bahwa semua hal yang dilalui bersama restu tuhannya, pasti akan selesai. Karena, semua hal adalah pelajaran. Dan yang lebih penting, setiap pelajaran pasti ada hikmahnya. Bersyukur tanpa henti, berihtiar di jalan yang di ridhoi.
Komentar