PERAYAAN KECIL-KECILAN
Tanpa tujuan di usia muda. Aku sering bertanya pada diriku sendiri, apakah jalan yang aku tempuh ini sudah benar? Tapi kenapa terasa membosankan dan melelahkan. Kadang juga meresahkan. Ada jiwa dalam hati kecilku yang ingin meronta berteriak karena tidak tahan. Dan Eca, sekarang bagaimana kabarnya? Aku masih menunggu waktu untuk bisa bertemu dengan dia kembali. Beberapa pesan singkat yang aku kirim kepadanya juga masih sering dia balas. Namun apalah arti pertemanan jika tidak ada pertemuan di zaman yang serba canggih dan modern saat ini?
15.46 : “Gala… katanya kamu kemarin sakit? Sekarang gimana kabarnya?”
15.50 : “Udah baikan, Ca.. menuju sembuh..”
15.57 : “Kenapa nggak ngasih kabar sih?”
15.57 : “Kabar soal apa?”
15.59 : “Kabar kalau kamu sakit. Kamu di rawat di rumah sakit kan?”
16.05 : “Ngapain juga ngasih kabar ke kamu?”
16.10 : “Biar aku bisa jenguk kamu lah.. mau ngapain lagi?”
16.13 : “Udah ah, Ca.. nggak apa-apa lagi.. aku udah sembuh juga.”
16.15 : “Gini aja deh. Nanti malem aku main ke rumah kamu. Aku bawain sesuatu.”
16.17 : “Nggak usah. Aku udah sehat.”
16.25 : “Tunggu di rumah kamu. Nanti malem aku dateng. Kamu jangan kemana-mana. Sekarang aku mau balik kantor, siap-siap.”
Satu minggu lalu, aku memang sakit. Tidak cukup parah. Hanya Demam Berdarah. Tapi dokter memintaku untuk dilakukan rawat inap agar kondisiku bisa pulih lebih cepat. Dan aku tidak menolak, karena aku juga merasa bahwa aku membutuhkan hal itu untuk kembali sehat. Namun itu sudah satu minggu berlalu. Sekarang aku sudah sehat kembali. Aku sudah menjalani rutinitas seperti biasanya. Pagi bangun untuk bekerja, siang istirahat sambil makan, sore pulang ke rumah, dan malam kembali istirahat.
Pintu rumahku terdengar seperti ada yang mengetuk. Jam tujuh lewat sepuluh. Eca sudah tiba di depan rumahku. Ibuku mempersilahkannya untuk masuk lalu menunggu di ruang tamu. Tidak hanya itu, setelah memanggil dan memberitahu aku kalau Eca sudah menunggu, Ibuku menemaninya mengobrol di sana. Entah mereka berbicara tentang apa saja. Aku tidak tau. Setelah aku keluar dari dalam kamar lalu menuju ruang tamu. Aku lekas mengajak Eca untuk pergi keluar. Tidak enak jika harus mengobrol soal diriku di depan ibuku.
“Ca, kita cari makan di luar yuk.”
Eca mengiyakan ajakanku. Kami berdua pergi keluar dari rumahku. Sebelumnya, Eca meminta izin terlebih dahulu kepada ibuku. Dia bilang, “Saya izin keluar dengan Gala dulu, tante.” Sudah seperti seorang kekasih yang meminta izin kepada orang tua pacarnya. Ibuku mengizinkan, “Iya, hati-hati di jalan.” sambil bersiap di depan pintu rumah, aku menoleh ke arah ibu. Tatapannya yang ramah kepada Eca berubah menjadi sinis kepadaku. Seperti terdengar suara isi hatinya yang tidak ibuku ucapkan, dia memberikan pesan untuk jangan macam-macam dan jangan pulang malam-malam. Segera aku memalingkan wajah dari tatapannya. “Iya, aku paham,” dalam hatiku berkata demikian.
Aku dan Eca pergi dengan menggunakan mobil miliknya. Bukan milikku. Mobil berwarna hitam dengan gantungan action figure di kaca tengah yang biasa dia gunakan juga untuk pergi ke kantornya. Sepertinya ini mobil baru miliknya, fasilitas dari kantor yang dia dapatkan setelah resmi menjadi kepala divisi.
“Keren kamu, Ca.. udah bisa nikmatin fasilitas kantor.” ucapku saat aku menyetir mobil Eca.
“Ya, aku sih bersyukur aja karena udah dipercaya sama kantor buat bisa bawa mobil ini.” balas Eca yang duduk di sebelahku. Dia tersenyum, memberikan isyarat bahwa dia juga sedang bahagia dengan apa yang telah dia capai.
“Kamu sendiri gimana, Gala? Udah baikan? Kok bisa sih, kamu kena demam berdarah?” tanya Eca kepadaku beberapa saat kemudian.
“Ya namanya juga manusia, Ca.. pasti bisa sakit juga lah.. tapi sekarang udah sembuh.” jawabku.
“Kamu sih, pake acara susah makan.. jadi sakit kan!”
“Emang udah waktunya sakit aja, Ca.. Lagipula tuh ya, semua juga udah ada yang ngatur.”
“Tapi kalau sakit karena jarang makan, sama aja bo’ong. Gaji kamu lebih tinggi dari aku, Gala. Pergi makan, kek. Atau seenggaknya sehari tuh makan minimal satu kali, jangan sama sekali nggak makan.”
“Aku makan kok, Ca.. tapi mau gimana lagi.. kemarin sebelum sakit, aku lagi banyak mikir aja.”
“Emang kamu mikirin apa?”
“Banyak hal, Ca..”
“Tuh kan, jangan overthinking mulu. Kurang-kurangin tuh ngelamun kamu. Nggak baik juga buat kesehatan. Jangan biasain. Kalau kamu butuh temen buat cerita, kan kamu bisa hubungi aku. Ya mungkin kadang aku slow respond, tapi pasti aku bakal bales kok. Malah mungkin aja aku bakal telpon balik kamu. Nggak usah khawatir kalau kamu takut aku buka omongan ke orang lain.”
“Iya-iya. Bawel banget kamu.”
“Dih, kok gitu sih.. aku ini bilang kayak gitu karena aku nggak mau kamu kenapa-kenapa. Banyak loh, khasus bunuh diri di usia muda karena stress dan nggak punya tempat buat cerita.”
“Ya, nggak sampe bunuh diri juga, Ca.. aku masih punya mimpi buat bertahan hidup.”
“Jadi penulis?”
“Iyup. Tapi ada lagi yang lainnya.”
“Apa?”
“Kalau itu, RAHASIA.”
Percapakan di dalam mobil, di tengah perjalanan menuju tempat makan membuat waktu menjadi tidak terasa. Jarak yang lumayan jauh menjadikan kami berdua untuk lebih menikmati keindahan lampu kota dari balik kaca jendela. Hingga tiba di tujuan, aku memarkirkan mobil Eca di parkiran restoran jepang. Tempat favorit Eca saat dia ingin makan Sushi. Tapi kali ini, aku yang akan mentraktirnya.
“Wih, kamu tumben banget ngajak aku ke sini. Tempat kesukaan aku,” kata Eca yang duduk di depanku. Di dalam restoran itu, kami berdua duduk saling berhadapan. Di pinggir jendela kaca yang mengarah langsung ke arah luar. Yang memperlihatkan jalanan kota dengan beberapa kendaraan sedang berlalu lalang.
“Kali ini, biar aku yang traktir kamu makan. Pesan Sushi ke sukaan kamu, Ca. Aku mau tau selera kamu,” kataku membalas ucapan Eca tadi.
“Hehehe.. apaan sih. Aneh kamu, Gala.” jawab Eca.
Dia kemudian memilih beberapa menu Sushi yang biasa dia pesan. Aku tidak tau apa namanya. Tapi beberapa waktu kemudian pesanannya datang. Kami berdua makan bersama-sama sembari mengobrol tentang apa saja. Beberapa kali kami berdua tertawa dengan topik yang kami sedang bahas. Malam yang menyenangkan untuk Eca. Dan mungkin untukku juga. Kenapa? Karena itu adalah momentum pertama untukku merasakan makanan jepang yang bernama Sushi. Aku tidak pernah tau rasanya sebelumnya. Aku hanya sering melihat melalui video online, orang-orang yang makan dan menikmati hal itu. Rasanya aneh untuk suapan pertama di lidahku. Namun setelah Eca memberitahu cara menikmatinya. Aku menemukan rasanya.
“Ternyata enak ya, Ca..”
“Kamu belum pernah makan Sushi sebelumnya?”
“Belum.. tapi aku sering makan lemper pasar.”
“Beda, Gala.. jangan kamu samain.. meski sama-sama enak, tapi itu beda.”
Cara Eca menikmati Sushi-nya adalah dengan membalurkan saus hitam di atas sushi terlebih dahulu. Bukan mencelupkannya seperti orang-orang biasa melakukannya. Kemudian, setelah sushi basah dengan sausnya, baru diambil menggunakan sumpit. Saat Sushi masuk ke dalam mulut dan memulai gigitan pertamanya, Eca memejamkan mata untuk membayangkan kelezatan rasanya. Dan setelah menelannya, Eca mewajibkan untuk tersenyum sambil berkata, “terimakasih.” tapi karena dia biasa makan sendirian, jadi ucapan terimakasih yang dia wajibkan itu, hanya terucap di dalam hatinya. Sedang aku bertanya, “terimakasih untuk apa dan kepada siapa, Ca?”
Eca menjelaskan kalau ucapan terimakasih itu untuk segalanya. Untuk tuhan, untuk segala kejadian dalam hidup, dan untuk dirinya sendiri. Bagi Eca, ucapan terimakasih untuk tuhan adalah bentuk syukur dengan apa yang telah diberikannya kepada dia. Eca juga memiliki kebingungan tentang cara dia harus melakukan syukur seperti apa, jadi dia mengucapkan terimakasih itu sebagai cara yang dia tau. Lalu untuk segala hal yang terjadi dalam hidup, Eca mengucapkan terimakasih karena kalau dalam hidup memang tidak pernah ada yang tau jalan ceritanya. Dia hanya menikmati proses dalam setiap langkahnya. Entah itu yang membuatnya bahagia sampai tertawa, yang kadang juga membuatnya marah penuh amarah, hingga yang membuatnya sedih lalu meneteskan air mata. Dan untuk dirinya sendiri, Eca mengucapkan terimakasih. Dalam hidup yang tidak jelas arahnya mau kemana, dia berterimakasih untuk telah kuat bertahan sampai saat ini. Tidak ada yang tau dan tidak ada yang mengajarkan untuk cara bagaimana harus kuat dalam hidup. Termasuk dirinya sendiri. Tapi Eca, berusaha untuk tetap hidup demi dirinya sendiri. Mimpinya yang sederhana membuat dia bisa menikmati hidup dengan cara yang sederhana juga. Dan hal itulah yang aku sendiri tidak tau bagaimana caranya. Cara menjadi sederhana seperti Eca. Menikmati hidup sesuai kata hatinya.
Saat malam mulai semakin larut. Jalanan kota yang juga mulai sedikit sepi, membuatku dan Eca harus lekas untuk kembali pulang. Meninggalkan restoran jepang yang telah menyuguhkan makanan untuk kami berdua makan. Dengan hati yang berbisik riang, kami berdua melanjutkan obrolan di sepanjang perjalanan. Masih tentang topik yang membahas apa saja. Yang penting untuk kami berdua adalah menikmati waktu yang ada. Sejak terakhir kali kami berdua bertemu, aku sempat merasakan rindu dan sepi. Namun, saat bumi dan segala ceritanya telah membuat kami kembali bertemu, aku seperti tidak mau menyia-nyiakannya.
“Makasih ya,” kata Eca.
“Kali ini makasih buat siapa nih? Tuhan udah, kehidupan udah, diri sendiri juga udah,” kataku yang sedang fokus menyetir.
“Kali ini buat kamu, Gala. Makasih udah ditraktir.”
“Wih.. aku harus jawab gimana nih?” aku bercanda dengan Eca. Kemudian dia tertawa lalu membalas, “jawab sama-sama.. nanti kalau habis aku terima gaji bulanan, aku traktir kamu lagi.”
“Eh, nggak gitu juga kali, Ca.. Mahal.”
“Hehehe.. bercanda Gala.. serius amat.”
Sebelum sampai di depan rumah, aku menyempatkan untuk mampir ke Indomart. Searah, juga tidak jauh jaraknya. Aku mampir untuk membeli sebungkus rokok. Sejak selesai makan Sushi tadi, aku tidak sempat merokok karena aku kehabisan stock. Rasanya seperti ada yang kurang jika selesai memakan sesuatu tapi tidak merokok. Seperti kopi tanpa teriakan “Ahh.” Kurang mantab. Aku meminta Eca untuk tidak ikut turun dari mobil karena aku tidak akan lama di dalam sana. Setelah pegawai kasir Indomart memberikan rokok dan dia menerima uang pembayaran dariku, aku segera kembali ke dalam mobil. Eca yang menunggu sambil memainkan ponselnya, lalu lekas memasukkannya ke dalam tas setelah pintu mobil aku tutup dari dalam.
“Udah selesai beli rokoknya?”
“Udah kok. Ayo pulang.”
“Mana rokoknya?”
“Di dalam saku celana. Kenapa? Kamu mau?”
“Coba sini”.
Aku memberikan sebungkus rokok yang masih tersegel rapat dengan plastiknya kepada Eca. Dia menerimanya. Tidak dia buka tapi hanya dilihat olehnya. Dia bertanya tentang bagaimana jadinya kalau rokok ini tidak ada di dunia. Mungkinkah semua orang akan sakau karena kurangnya asap untuk dinikmati, atau justru bumi akan semakin bersih karena polusi udara yang berkurang. Tapi aku tidak menjawabnya. Aku hanya mendengarkan ocehannya, dia berbicara panjang lebar tentang hal itu. Eca sebenarnya tidak suka dengan laki-laki penghisap rokok. Menurutnya itu akan buruk untuk kesehatan. Dia lebih suka dengan laki-laki yang rajin berolahraga. Karena selain sehat untuk diri sendiri, olahraga juga akan berdampak baik untuk sekitar mereka. Keringat yang menetes ke tanah akan menyuburkannya, meski hanya satu tetes tapi bermanfaat. Pikiran Eca selalu dipenuhi dengan pertanyaan yang rasional, meski kadang dia juga suka berbicara tentang hal yang aku tidak pahami. Tapi aku senang mendengarnya.
“Gala.. kamu mau sampai kapan merokok?”
“Nggak tau, tapi tumben banget tanya gitu.”
“Kenapa?”
“Biasanya, orang lain akan bertanya alasan tentang kenapa mereka merokok. Bukan sampai kapan akan merokoknya.”
“Kalau itu sih, aku tau jawabannya.”
“Memangnya kenapa?”
“RA-HA-SI-A.”
“Dih, bales dendam nih ceritanya?”
Kami berdua tertawa bersama di dalam mobil Eca. Rasanya beruntung sekali, di tengah perjalanan yang aku sendiri masih bingung arah tujuannya ini bisa bertemu dengan Eca. Dari ketidaksengajaan yang kemudian berlanjut dengan percakapan panjang sampai saat ini. Pertemuanku dengan Eca mungkin belum aku ceritakan tapi percayalah, kadang peneman sepi itu datang tanpa undangan juga seperti kabar-kabar yang lainnya. Dalam bentuk apa saja. Dan di waktu yang kita tidak pernah sangka. Mungkin aku kadang terasa bingung sendirian. Tapi sejak ada Eca, hatiku menjadi tenang. Entahlah apa penyebabnya, yang jelas aku merasa tenang tanpa tekanan dari pihak manapun termasuk diriku sendiri.
Di depan rumah aku berhenti. Mobil Eca berada tepat bersandingan dengan pagar. Malam sudah semakin larut. Eca berganti tempat duduk, sekarang dia bersiap untuk pulang setelah mengantarkanku. Tidak sempat untuk masuk dan berpamitan kepada ibu, Eca memilih untuk menitipkan salamnya kepadaku.
“Titip salam buat ibu kamu, Gala.”
“Iya, tenang aja.”
“Ibu kamu tuh sayang banget sama kamu. Kamu nggak pernah cerita ke dia? Kan ibu kamu yang nemenin kamu dari kecil. Bahkan sebelum kamu keluar dari perutnya.”
“Ibu aku tadi cerita apa aja ke kamu?”
“Nggak banyak sih, cuma sedikit. Tapi seru cerita sama ibu kamu.”
“Nggak yang aneh-aneh kan?”
“Engga, tenang aja”.
“Yaudah, hati-hati di jalan. Nanti kalau udah sampe rumah, kabarin aku.”
“Ngapai? Kamu kangen aku ya?”
“Enggak kok. Udahlah, aku masuk duluan.”
Aku lekas menuju ke arah pintu rumah. Mobil Eca yang sedari tadi tidak mati mesinnya, mulai siap untuk beranjak. Dari arah yang berlawanan denganku, Eca berteriak, “Kalau kangen tuh bilang. Jangan dipendem sendirian, Gala. Nanti yang kamu kangenin nggak bisa bales kangennya.”
Komentar