PERJUDIAN, PERASAAN

Setelah menanti panjang, aku kembali merindukanmu, Nas. Perasaan yang campur aduk karena belum dapat aku sampaikan kepadamu menjadi malapetaka. Dia menikamku secara berkala dan bertubi-tubi. Tanpa henti. Tanpa pernah punya belas kasih kepadaku seolah sedang menghantam dinding yang kokoh dengan tenaga lebih besar dari batalion perang bersenjata lengkap.

Ketika aku menulis surat ini, aku tengah berada di ujung malam yang tidak tenang. Beberapa teman kerjaku sedang bermain slot di sebuah situs judi yang aku tidak tau apa namanya. Namun salah satu diantara meraka berhasil mendapatkan kemenangan besar malam ini. Enam juta tujuh ratus sekian ribu. Nilai yang cukup besar, bahkan lebih besar dari gajiku selama satu bulan bekerja. Dan kau tau, Nas? Ketika dia hendak membagikan uangnya itu kepadaku, aku tak menerimanya.

Menurutku sangatlah tidak nyaman mendapatkan hasil dari sesuatu yang aku tidak tau. Selain agama melarang, aku takut kalau aku menerimanya malam ini, akan terjadi sesuatu yang tidak terduga esok harinya. Aneh saja, ada takut juga. Kalau kata ibuku, lebih baik tidak makan daripada harus merasa kenyang dari hal yang tidak baik. Kalau menurutmu bagaimana?

Sebenarnya, aku penasaran dengan bagaimana tanggapanmu tentang kejadian ini. Tentang perjudian yang membuat senang untuk sesaat itu. Namun kalau kau tanya bagaimana tentang pendapatku yang lainnya, aku akan berkata kalau lebih baik aku menunggu dengan pasti mengenai doaku untukmu. Untuk kita yang semoga saja tuhan kabulkan suatu saat nanti. Karena bagi-Nya, tidak ada yang tidak mungkin jika kita berharap pada-Nya.

Aku tau, kalau aku juga belum dapat memastikan perasaanku kepadamu ini seperti apa. Kau tau juga, bukan? Kalau perasaan memang selalu sulit untuk dijelaskan. Mungkin karena perasaan itu sifat aslinya hanya untuk dirasakan. Dinikmati secara sederhana, meski tidak jarang juga meminta untuk dibalaskan, bahkan lebih dari itu, perasaan yang aku pendam ini selalu mencoba untuk membunuhku.

Tapi begitulah perasaan, Nas. Sebuah cobaan dari tuhan untuk kita yang ingin memiliki sebuah keteguhan. Sebuah kekuatan. Sebuah hal yang memiliki tenaga lebih lama dan mulia. Yang harus menahan segala hal dengan penuh kesadaran karena resiko besar yang kelak akan terjadi kepada diri sendiri.

Aku sering mengeluh karena setiap tulisan yang aku tulis tidak pernah menemukan ritme dan gaya penulisannya. Kalau kata orang, mungkin belum menemukan karakternya. Belum menemukan identitasnya. Seperti diriku saat ini yang memiliki situasi serupa. Yang belum punya apa-apa kecuali harapan kepada tuhan untuk kita berdua.

Entahlah, aku sampai sekarang masih menginginkan kata “kita” itu menjadi sebuah kenyataan. Harapan agar aku dipersatukan denganmu di sebuah pelaminan lalu memulai cerita baru di hidup kita bersama-sama. Kalau menurutmu bagaimana, Nas? Apakah kau mau juga?

Tak perlu langsung menjawab, karena semua hal memang diciptakan oleh tuhan sebagai pembelajaran bagi kita. Bagimu dan bagimu. Meski kau tak menjawab “iya” dan justru menjawab sebaliknya, aku tak menyalahkanmu. Dalam hidup juga harus membiasakan diri dengan penolakan. Dan itu tak apa. Sebuah pelajaran bagiku mengenai perasaan.

Sebenarnya, aku tidak terlalu beruntung dalam hal percintaan, Nas. Aku selalu menemui jalan terjal dan dinding tebal ketika berhadapan dengan hal itu. Dan hingga sekarang, aku tidak tau apa alasannya. Hanya saja, dari seseorang yang aku pernah dengar, bahwa semakin banyak penolakan pasti akan lebih banyak juga pemberian dari tuhan. Karena tuhan kita tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian, bukan?

Sepanjang malam yang ramai dengan kawan yang bermain perjudian, aku justru melangitkan sebuah harapan. Meski tak terucapkan, namun hatiku berteriak namamu, Nas. Sambil berdoa agar kau dapat menikah denganku suatu hari nanti. Namun pertanyaannya, apakah itu juga termasuk dengan perjudian?

Maafkan aku, Nas. Maafkan aku karena telah menyembunykan perasaanku kepadamu meski kau mungkin telah mengetahui dari gerak-gerikku ketika aku tetap menghubungimu meski sering sekali kau tak membalas pesanku. Maafkan aku, karena terus mendoakanmu untuk menjadi milikku. Maafkan aku karena aku belum mampu untuk menikahimu saat ini.

Perjudian perasaan ini masih terus berlanjut hingga kini. Temanku yang tadi menang enam juta tujuh ratus sekian ribu rupiah, kembali memenangkan perjudiannya. Puratan rolletnya berhasil membawa uang sebanyak tiga juta sembilan ratus lima puluh ribu sekian rupiah. Malam ini menjadi miliknya. Sedangkan aku, malam ini masih belum menjadi milikmu. Menjadi “kita”.

Komentar

Postingan Populer