PERTEMUAN PERTAMA (Part I)
“Ca, hidupku kok gini-gini aja ya?”
“Gini-gini aja, gimana maksud kamu?”
“Ya gini-gini aja. Beda sama kamu yang udah bisa jadi kepala divisi dan dapet fasilitas dari kantor.”
“Tenang aja, Gala. Semua tuh ada waktunya. Suatu saat nanti, kamu pasti bisa lebih dari aku. Lewat mimpi kamu sebagai penulis. Lagian ya, aku tuh nggak punya mimpi buat bisa dapet ini semua. I’m just do the step for the progress.”
“Iya, mimpi kamu kan cuma mau bisa hidup sederhana. Tapi malah dapet segalanya. Kok bisa sih, gimana caranya?”
“Nikmatin aja apa yang ada, Gala. Even, that thing make you cry or mad.”
“What if we change?”
“Maksudnya?”
“Gimana kalau aku jadi kamu, dan kamu jadi aku. Kita tukeran nasib gitu..”
“Aneh-aneh aja, kamu. Realistis aja, Gala. Meskipun kamu jadi aku, kamu belum tentu bisa kuat. Gitu juga sebaliknya. Jadi, nikmatin aja. Bersyukur.”
“Kepalaku berisik banget, Ca. Banyak hal yang membingungkan tapi nggak bisa aku ungkapin.”
Eca adalah teman berbagi ceritaku. Setidaknya untuk saat ini. Lalu bagaimana ini semua bisa terjadi? Aku juga kurang ingat kejadiannya. Semua hal berlangsung secara cepat dan tiba-tiba. Termasuk pertemuanku dengan Eca. Sore di stasiun kereta kota tua. Itupun kalau tidak salah. Tapi aku pernah bertanya kepada dia tentang, “Ca, kita kok bisa seakrab ini sih?”
Eca menjawab, “Mungkin udah jalannya. Mungkin juga udah waktunya. Aku nggak tau juga, Gala. Dunia memang selalu punya cerita yang kita sendiri nggak tau jalannya, tapi tiba-tiba aja sampai.”
“Kayak kita?” kataku.
“Iya. Kayak kita berdua,” balas Eca.
“Kita ketemu pertama di dalem kereta kan?”
“Stasiun kereta? Emangnya aku mau kemana waktu itu?”
“Masa kamu nggak inget?”
“Seinget aku sih, kita ketemu pertama di kedai kopi.”
“Apa iya?”
Komentar