SEBUAH KEKHAWATIRAN

Nara selalu percaya bahwa cinta adalah jawaban dari segala keraguannya. Namun semakin lama ia bersama Kala, ia justru menemukan cinta itu menghadirkan pertanyaan baru yang tidak mudah ia jawab sendiri.

Mereka bertemu pertama kali di sebuah acara kecil, bukan pertemuan yang megah atau penuh kebetulan manis ala film. Kala dengan tatapan realistisnya yang tenang datang sebagai pembicara, sementara Nara hanya duduk di barisan kursi paling belakang. Kala bicara tentang hidup: sederhana, logis, apa adanya. Sesuatu dalam diri Nara tersentuh. Sejak saat itu, ia tahu hatinya akan terus berlari ke arah pria itu.

Dan kini, beberapa tahun setelah pertemuan itu, mereka berdua duduk berhadapan di sebuah taman kota. Suara kendaraan bercampur dengan desir angin sore.

“Aku ingin menikah denganmu, Kala,” ucap Nara lirih, hampir tak terdengar. “Tapi aku takut… aku bukan perempuan yang cukup.”

Kala menatapnya lama, seakan sedang mengukur antara kata-kata dengan detak jantung Nara. “Kenapa kau selalu meragukan dirimu sendiri?”

“Karena aku tidak sehebat perempuan lain. Aku tidak cantik. Aku tidak pintar mengatur. Aku sering salah. Aku…” Nara menghentikan kalimatnya sendiri, matanya berkaca. “Aku hanya takut membuatmu kecewa.”

Kala menyandarkan tubuhnya. Ada jeda panjang sebelum ia menjawab. “Aku mencintaimu, Nara. Tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri. Hidup ini tidak hanya tentang perasaan. Pernikahan bukan sekadar janji di pelaminan, tapi perjalanan panjang yang menuntut lebih dari cinta. Aku realistis. Aku harus memastikan kita benar-benar siap.”

Kata-kata itu bagai pisau bermata dua. Menenangkan sekaligus menyakitkan. Nara ingin percaya, tapi rasa insecure dalam dirinya menggema semakin keras.

“Maksudmu… kau tidak yakin padaku?” tanyanya.

“Bukan begitu. Aku hanya… tidak yakin pada hidup ini.”

Jawaban itu membuat Nara terdiam. Untuk pertama kalinya ia sadar, cintanya pada Kala adalah keyakinan buta. Sementara Kala mencintainya dengan penuh pertimbangan. Dua dunia yang sama-sama benar, tapi sulit disatukan.

Mereka kembali diam. Hanya suara daun jatuh yang menutupi kegugupan.

“Kala…” suara Nara pelan. “Jika cinta saja tidak cukup, lalu apa gunanya kita sejauh ini?”

Kala menoleh padanya. “Gunanya… agar kita belajar. Bahwa rasa takutmu dan pikiranku yang terlalu realistis adalah ujian. Pertanyaan yang tidak bisa dijawab malam ini juga tidak bisa dijawab dengan satu cincin. Tapi… mungkin akan terjawab jika kita berani tetap berjalan.”

Nara menunduk. Hatinya berkecamuk. Ia ingin meyakinkan dirinya bahwa ia cukup. Ia ingin menggenggam tangan Kala dan berkata: Aku siap. Tapi lidahnya kelu.

Kala hanya menatap senja yang semakin pudar. Ada rindu yang tidak tersampaikan, ada kepastian yang tak kunjung mereka temukan.

Pada akhirnya, mereka pulang tanpa jawaban. Hanya dua hati yang sama-sama takut, sama-sama mencintai, tapi juga sama-sama mempertanyakan:

Apakah cinta memang selalu harus berakhir di pelaminan?
Ataukah, ada cinta yang dibiarkan menggantung, karena justru di situlah ia terasa paling jujur?

Komentar

Postingan Populer