DARI MASA DEPAN

Namaku Galandra. Tanggal 25 Desember 2017. Aku merayakan natal bersama dengan Nico di losmennya. Beberapa anggur merah menemani di atas meja balkon. Dia hidup sendirian di Kota Praha. Impiannya menjadi seorang perancang bangunanlah yang membawanya terbang sampai ke kota ini. Dia berasal dari Maroko.

“Hey Galandra. What will you doing after this Christmas?”

“I don’t know. Maybe still do the something, like another day”.

“Just make a wish right now. Come on. I will be your friend for this”.

“Come on. Really?”

“Yeah, sure”. Nico mengajakku berdoa bersama pada malam natal itu. Sedikit keraguan, aku menuruti permintaannya. Kami berdua berdoa, berharap tentang hal yang kami inginkan masing-masing.

Selesai dengan malam natal itu. Aku tertidur di kasur kamar apartemenku dengan menggunakan sepatu yang belum terlepas dari kaki. Saat cahaya matahari masuk ke dalam kamar melalui kaca jendela yang terbuka. Aku terbangun. Mendapati seorang wanita sedang duduk sambil membaca sebuah buku di kursi tengah. Aku lekas tersadarkan.

“Who are you?”, aku bertanya dengan ekspresi terkejut kepada wanita itu.

Dia menjawab dengan santai setelah menutup buku yang dengah dia baca, “Ahh, kamu sudah bangun. Aku sudah siapin sarapan pagi buat kita makan berdua”.

“Ha?”, aku masih bertanya dengan bingung dengan apa yang sedang terjadi.

“Ah, sorry.. aku belum jawab pertanyaan kamu ya?”, wanita itu melanjutkan perkataanya. “Aku Mariska. Istri kamu dari masa depan”.

Aku yang belum paham dengan maksud dari perkataannya hanya bisa diam. Kemudian kembali mendengarkan penjelasan dari wanita bernama Mariska itu. “Yaa. Aku tau kalau kamu nggak akan percaya secepat itu. Nggak apa-apa. Yang penting sekarang kamu mandi, habis itu kita makan sarapan sama-sama. Aku tunggu di meja makan ya”.

Mariska tersenyum kepadaku, lalu pergi menuju meja makan. Aku berjalan mengikutinya dan berhenti di depan kaca. Seperti ada yang aneh di kakiku. Rasanya dingin. Saat aku melihat ke arah kaki, ternyata aku berjalan tanpa menggunakan sepatu.

Di meja makan, makanan telah telah siap. Sepiring roti gandum dengan olesan selai cokelat diatasnya. Aku masih tidak tau harus melakukan apa. Yang aku bisa hanya diam sambil memasang raut wajah kebingungan. Di ujung meja lainnya, Mariska dengan santainya memakan roti gandumnya.

“Kok belum di makan?”

“Ah, iya..”, jawabku singkat.

“Maaf ya, cuma sarapan sama roti gandum pakai selai cokelat. Habisnya kamu cuma ada itu aja. Oh iya. Aku lupa minumnya. Coba aku lihat dulu di kulkas kamu, ada minuman apa aja”, kata Mariska yang kemudian beranjak dari tempat duduknya. Berjalan menuju kulkas.

“Yah, nggak ada jus jeruk. Cuma ada Anggur”, ucap Mariska dengan nada kecewa. “Kalau air putih ada nggak ya?”

“Eh.. di.. sana..”, aku menunjuk ke arah lemari dapur.

“Oh di mana? Di sini?”, Mariska bertanya memastikan sambil memandangi pintu lemari yang ada di area dapur. “Nah, ketemu juga”, Mariska menghela nafas panjang. “Karena jus jeruknya nggak ada. Kita minum air putih aja, ya. Lagian air putih juga lebih sehat”.

Dia kembali berjalan menuju arah meja makan. Duduk lalu menaruh secangkir air putih di depanku. “Tunggu, kamu ini siapa?” aku bertanya kembali kepada Mariska.

“Aku.. Ma..ris..ka..”, jawabnya dengan roti gandum yang masih dia kunyah.

“Iya.. Mariska itu siapa?”

“Aku istri kamu”.

“Aku belum menikah”.

“Iya, tau kok. Aku istri kamu di masa depan”.

“Terus kenapa ada di sini?”

Mariska tak menjawab pertanyaanku. Dia mengalihkan topik pembicaraan dengan beranjak menuju ke arah jendela. “Praha.. Ternyata bener kata kamu. Praha itu indah kalau pagi hari”.

“Emangnya aku pernah bilang gitu?”

“Ehmmm..” Mariska diam sejenak, “Pernah”.

“Kapan?”

“Waktu di masa depan”.

Aku masih tidak paham dengan apa yang terjadi. Setiap aku bertanya tentang dirinya, dia selalu mengalihkan topik pembicaraan. Di pagi hari dengan matahari yang mulai naik, Mariska mengajakku keluar untuk menikmati keindahan kota Praha. Aku menemaninya. Kami berdua berjalan sama-sama.

Komentar

Postingan Populer