ESCAPE UNDER
Seorang anak kecil yang kehilangan orang tuanya mulai berjalan bersama rombongan imigran menuju kota mewah bernama Galilia. Kota dengan gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit, yang mampu melintasi awan dengan beton keras mereka. Kota impian yang sangat berarti untuk kaum bawah memulai hidup sejahtera mereka di sana. Dan itulah tujuan para imigran itu melalui terowongan Aksa itu. Termasuk anak kecil yang kehilangan orang tuanya. Dia bernama Louis Ortada. Tubuhnya kecil, kurus karena memang dia tidak pernah terurus. Lesung pipi yang menempel pada rahangnya menunjukkan bahwa Louis kecil itu benar-benar jarang sekali mendapatkan makanan yang layak untuk hidupnya. Sejak orang tuanya terbunuh dalam insiden demo saat itu, Louis bertahan hidup hanya mengandalkan dirinya sendiri. Mencari makanan sisa dari tempat sampah. Tidak jarang juga dia harus berhadapan dengan kaum bawah lainnya hanya untuk mempertahankan sisa makanan yang dia dapatkan. Sedangkan terowongan Aska adalah satu-satunya akses ilegal yang dapat menghubungkan Galilia dengan kota kaum bawah. Akses terowongan itu tidak sepenuhnya ditutup oleh kaum atas karena sebuah alasan. Mereka hanya meninggalkannya begitu saja bersama tumpukan sampah dari penghuni kota Galilia. Atau mereka lebih suka menyebutnya dengan, Aska Trash.
Perjalan Louis kecil bersama para imigran lain yang menyebrang melalui terowongan Aska akhirnya berakhir di hari ke tiga. Taman bunga megah menyambut mereka, tumpukan sampah yang sempat membuat nafas terasa sesak karena kecilnya kadar oksigen akhirnya berubah dengan udara segar yang mampu mereka temui di ujung pintu keluar. Informasi terkait imigran gelap dari kota bawah telah sampai pada penduduk pinggiran kota Galilia. Pemerintah, mengerahkan beberapa pasukan penjaga perbatasan untuk menangkap mereka. Termasuk dengan Louis kecil. Suara teriakan terdengar setelah salah seorang pasukan penjaga menembakkan pistol ke arah langit sebagai pertanda.
“Berhenti lalu diam di tempat,” ucap seorang petugas penjaga yang menjadi pemimpin regu tersebut. Semua orang mendengar teriakan itu. Namun dua orang imigran yang tidak ingin ditangkap berlari menjauh. Dan suara tembakan ke dua kembali terdengar.
“Doorrr!!!”
Kedua orang itu mati tertembak di depan mata Louis kecil. Matanya yang menyaksikan kejadian itu terbelalak tidak menyangka bahwa dunia kaum atas begitu bengis terhadap kaum bawah. Mereka tidak ragu untuk membunuh. Bahkan di depan anak kecil dan wanita yang tidak tau apa-apa. Hati Louis merasakan takut. Dia mulai sadar bagaimana dia kehilangan orang tuanya. Petugas penjaga kota Galilia yang membunuhnya. Saat itu juga, Louis kecil merasakan patah hati dengan fakta yang sebenarnya. Air mata yang mengalir jatuh tanpa suara itu membuat bara kecil dalam diri Louis. Seperti amarah yang amat dalam dengan rasa kecewa yang pekat. Dia bersumpah untuk tidak akan membiarkan kekejaman penduduk kota Galilia berkuasa sesuka hati mereka. Sejak saat itu, tatapan mata anak kecil itu berubah menjadi lebih tajam daripada sebelumnya.
“Tangkap mereka semua,” kata pemimpin pasukan penjaga dengan senyum angkuhnya sebelum dia berbalik badan lalu pergi meninggalkan Louis kecil dan para imigran lainnya.
** SELESAI **
Komentar