GAGAL, SESAK, LALU PATAH HATI KEMBALI
Namanya Jem Ari Tenggan. Usia 31 tahun. Status belum kawin. Setidaknya itu penjelasan singkat yang dapat dijelaskan oleh KTP-nya. Manusia yang sering dipanggil dengan nama ‘Jem’ itu sudah memasuki usia siap menikah. Pekerjaan dengan jabatan sebagai kepala divisi pemasaran di perusahaan jam tangan, juga layak untuk diapresiasi. Gaji tiap bulannya sudah dua digit. Hanya menyisakan bangku kosong di sebelah kiri mobil pribadi serta rumahnya yang siap huni namun membutuhkan satu orang penghuni lagi.
Katanya, wanita itu tercipta dari tulang rusuk laku-laki. Jem masih penasaran, sebenarnya siapa yang akan menjadi istrinya nanti. Setiap malam, saat kesunyian datang tanpa permisi, membuat Jem tidak dapat tidur dengan tenang. Selalu ada gelisah yang dia rasakan. Bukan guling yang tidak dapat dipeluk atau bantal yang butuh di puk-puk. Melainkan kasur yang luas namun harus bangun sendiri di setiap pagi.
Dalam cerita menemukan seorang istri, Jem sudah melakukan beberapa hal. Seperti berkenalan dengan wanita melalui aplikasi, mengakrabkan diri lebih jauh dengan teman satu kantornya, bahkan pergi ke tempat-tempat yang katanya di sana akan bertemu dengan jodohnya.
Gue Mau Menikah.
Kini senja hadir mengiringi bahagia. Jem segera pergi menuju tempat yang sudah disepakati. Mobilnya melaju kencang dengan pedal gas yang diinjak dengan semangatnya. Jalanan yang biasanya macet, kini memberinya ruang. Semesta seperti sedang membuka sebuah peluang untuk Jem bertemu wanita yang dia suka.
Namanya Laras, teman satu kantor Jem. Dia sudah sangat lama suka dengan Laras. Lebih tepatnya sejak mereka masih bekerja dalam tim yang sama satu tahun yang lalu. Namun saat itu, Jem hanya bisa memendam rasanya kepada Laras. Saat dia masih menjadi seorang pengecut untuk dirinya sendiri. Bahkan, dia tidak berani mengajak Laras untuk mengobrol sama sekali keculai dengan sebuah alasan dan keperluan. Untuknya, Laras adalah salah satu wanita yang dapat menarik perhatiannya di kantor. Keberanian untuk dia bisa memulai obrolan bersama Laras, adalah pada saat mereka berdua menjabat sebagai ketua divisi. Jem pada divisi pemasaran, dan Laras pada divisi pengembangan.
“Jem, habis gue meeting, kita diskusi lagi yuk. Masih ada beberapa hal yang mau gue bahas sama lo,” kata Laras.
“Mau bahas apa, Ras?,” balas Jem yang saat itu sedang sibuk mengerjakan sisa deadline untuk minggu depan.
“Soal project yang harus kita selesaiin sebelum akhir bulan nanti. Kan, Pak Dirut tadi minta ke kita, kalau harus buat produk yang menarik buat costumer sama investor.”
“Oh, yang itu.” Sontak Jem teringat oleh tugas yang sempat dia lupa. “Boleh. Mau diskusi di mana? Ruangan gue atau ruangan lo?”
“Bebas sih.. Senyaman lo aja.”
“Oke, di ruang pantry atas aja kalo gitu. sekalian nyore, mumpung hari ini cerah.”
“Oke, jam 5 sore ya.”
Project pertama bagi Jem dan Laras. Awal dari obrolan panjang mereka dimulai di pantry atas kantor saat senja tiba. Saat semua kendaraan yang berada di area parkir kantor mulai pergi satu persatu. Jem sudah siap di sana. Dia duduk bersama dua cangkir kopi susu panas yang telah tersaji di atas meja. Kemudian, Laras datang bersama laptopnya.
“Lo, udah lama?” tanya Laras kepada Jem yang sudah menunggu sambil melihat ke arah luar jendela.
Langit senja yang indah sore itu teralihkan oleh suara Laras saat menyapanya dari arah belakang, Jem menoleh kemudian berkata dengan sedikit terkejut, “Eh, lo Ras. Engga, gue barusan aja dateng. Lo sendiri gimana, udah kelar meeting-nya?”
“Udah.. Selesai dari sana, gue langsung ke sini”, jawab Laras.
“Lancar?”
“Lancar kok, semua aman terkendali,” Laras memberikan simbol acungan jempol ke arah Jem untuk membuatnya yakin.
“Nih, kopi buat lo. Lo suka kopi susu kan?” sambil menyodorkan kopi kepada Laras yang baru saja duduk di sebelah Jem.
“Eh, ngapain lo repot-repot segala sih,” balas Laras sambil tertawa kecil.
“Udah, lo minum aja. Nggak gue racun kok. Hehehe.”
“Yeeee nyebelin lo.. hahaha..” Mereka berdua tertawa bersama, menatap langit yang perlahan gelap.
Senja yang perlahan redup, akhirnya mengantarkan mereka pada obrolan panjang yang sudah lama Jem harapkan. Dari dulu, Jem selalu punya harapan untuk dapat menghabiskan waktu bersama dengan Laras. Entah itu hanya sekedar membahas sebuah pekerjaan atau hal random lainnya. Seperti film favorit atau lagu yang biasa diputar waktu jam kerja.
Setelah obrolan hari itu, Jem dan Laras semakin sering menghabiskan waktu bersama. Keduanya memiliki ke kecocokan saat mengobrol. Biasanya, saat Laras sedang dalam mode serius, Jem akan mencairkan suasanyanya. Sesekali dia menggoda wanita karir itu dengan kata-kata mesra.
“Energi lo tuh unlinmited, ya? Nggak ada capek-capeknya kerja. Sayang tuh muka cantik lo cuma jadi pajangan aja.” Begitu kata rayuan receh ala Jem yang memang sering kali tidak nyambung dengan kalimat sebelumnya.
“Jem, gue tuh sebel bangettt, tadi pagi waktu mau ke kantor, di lampu merah ada banyak banget yang klakson-klakson. Padahal lampu tuh masih merah. Masa iya, gue harus nerobos? Kan ngeselin banget tuh orang-orang. Rasanya pingin gue katain aja.”
“Lah, terus yang lo lakuin apa dong?”, balas Jem setelah Laras menceritakan keluh kesahnya.
“Yaaa, gue cewek. mana berani gue”.
“Yee, lo mah.. lagian tuh ya, cewek itu nggak boleh nyetir sendirian tau.”
“Terus gimana gue ke kantornya? Naik taksi online gitu?” tanya Laras.
“Yaaa, gue sih nggak keberatan kalau harus anter jemput, Lo.”
“Dih, modus, lo.”
“Hehehe.. siapa tau, yeee kannnn…”
Setelah purnama ke dua. Jem dan Laras akhirnya menyelesaikan project yang ditugaskan. Hasil dari presentasi mereka berdua diterima dan diberi pujian oleh Pak Dirut. Untuk merayakan keberhasilan mereka, Laras mengajak Jem untuk makan di restoran tengah kota. Restoran Jepang dengan menu favorit Laras. Ramen Shio.
Sesampainya di restoran. Jem turun dari mobilnya mengenakan pakaian rapi. Aroma parfum yang memikat tercium hingga ke sudut paling pojok restoran. Dia berjalan dengan elegan menuju meja nomor dua. Laras yang sudah menunggu, berdiri menyambutnya dengan senyum manis di bibirnya. Dress berwarna merah membuatnya semakin cantik di mata Jem.
“Lo, keren banget malem ini, Jem. Gue sampe nggak nyangka kalau itu lo,” Laras memuji penampilan Jem.
“Lo, juga cantik, Ras. Lebih cantik dari biasanya,” sahut Jem bergantian memuji Laras yang duduk di hadapannya. Mata indah bersama wajah putih Laras membuat Jem merasa senang. Dinner malam ini sungguh istimewa untuknya. Kali ini, Jem telah menyiapkan sesuatu untuk Laras. Kotak merah berisikan cincin emas di kantong sudah dia siapkan dari rumah. Jem ingin melamar Laras.
Segelas anggur merah telah dituangkan. Menuggu hidangan datang, Laras membuka obrolan. “Gue seneng banget hari ini. Project kita berhasil di terima sama Pak Dirut.” Ekspresi bahagia tidak luput terpancar dari raut wajah Laras.
“Gue juga seneng, Ras. Kerja sama lo, bikin gue makin semangat. And what next? Kira-kira, kita bakal dapet project bareng lagi nggak ya?” Jawab Jem bersama sejuta senyumnya.
“Gue harap sih, kita bisa dapet project bareng lagi. But, you know what next on me? Gue mau nikah, bulan depan. Cowok gue, tadi pagi ngelamar gue. Dia dateng langsung ke rumah sama keluarganya,” ucap Laras kepada Jem dengan senang dan excited.
Jem yang mendengar pernyataan dari Laras itu meruntuhkan senyumnya. Dia terkejut. Dadanya terasa sesak. Dunia yang dia kira memberikan tanda bahagia melalui senja berwarna merah merekah di awal perjalanan, membuatnya tersadarkan. Bahwa ada sebuah masalah di baliknya. Hal tak diduga itu adalah kabar pernikahan dari wanita yang dia suka.
Jem masih tidak percaya, hingga dia bertanya kembali untuk memastikan, “lo beneran mau nikah, Ras?”
“Iya. Beneran. Nih cincin tunangannya gue pake,” Laras menunjukkan cincin di jari manisnya. Meyakinkan Jem yang sempat tidak percaya menjadi diam tanpa kata. Hanya helaan nafas panjang untuk dia menguatkan senyumnya kembali.
Akhirnya hidangan telah datang. Jem lekas berpamitan kepada Laras. Kotak merah dengan isi cincin emas itu tidak jadi dia tunjukkan. Jem tak sanggup melanjutkan Dinner malam itu. Hatinya sudah terlalu retak untuk melihat jari tangan halus Laras yang telah terpasang cincin tunangan. Jem pergi dengan alasan, “ada urusan mendadak”. Iya, urusan mendandak itu adalah rasa kecewa yang membuat dadanya terasa sangat sesak.
Dia kecewa kepada dirinya sendiri karena terlalu yakin bahwa Laras merupakan jodohnya. Dirinya tak tau, kalau Laras telah memiki seorang pacar. Rasa sesak dalam hati Jem, mengantarkannya pulang ke rumah yang sepi. Bangku kiri mobilnya masih kosong tak berpenghuni. Kembali pupus harapan untuk Jem bisa bangun bersama seorang kekasih di pagi hari. Kejadian setelah Dinner malam itu. Jem menjauh dari Laras. Merelakan wanita yang dia suka untuk melanjutkan hidup bersama orang lain.
*SELESAI*
Komentar