GERHANA

Menarilah bersama derai air mata

Merekahlah dengan luka yang menusuk jiwa

Nikmatilah duka itu hingga terbiasa

Pikiranmu sedang kacau dan itu tak apa

 

Pagi hari ini langit sedang cerah. Awan putih mengudara tipis. Semilir angin menggoyangkan hijau daun-daun yang bergelantungan di ranting pohon. Hari semua orang pasti merasakan senang. Seharusnya seperti itu, namun sayangnya tidak bagi Gerhana. Malam selalu dia nantikan untuk segera datang, sedangkan siang selalu menikamnya secara perlahan.

Gerhana. Namanya mewakilkan perasaan langit malam yang tenang dan sepi. Sama seperti perasaannya selama ini. Tak ada penghuni pasti yang mendiami di sana. Hanya dia sendiri, dan itu sudah biasa untuknya. Salah seorang temannya pernah bertanya kepadanya, “bagaimana rasanya?”

Gerhana hanya diam. Dia tak tersenyum. Tidak juga bersedih. Seperti semuanya sudah mati. Tidak ada lagi yang berwarna dalam hidupnya. Jika harus menyebutkan salah satu warna, Gerhana akan mengatakan bahwa “Hitam” adalah warna favoritnya.

“Kamu tau Na, bagaimana rasanya hidup tanpa rasa? Hampa. Sepi. Dan kadang juga menikam. Aku sering takut sendirian, namun harus aku terima kenyataannya seperti itu. Mau bagaimana lagi? Tidak ada yang bisa aku lakukan selain pasrah.”

Satu-satu nya manusia yang menemani Gerhana adalah Nina. Teman masa sekolah hingga kini mereka beranjak dewasa. Kemanapun dan apapun keluhan dari Gerhana akan selalu Nina dengarkan meskipun tidak jarang dia kehabisan kata-kata untuk memberi jawaban. Memang seharusnya seperti itu, tidak semua hal yang di dengar perlu diberikan masukan. Cukup untuk selalu ada di sana dan tidak pergi kemana-mana.

“Na..” begitu panggilan Gerhana kepada Nina. “Mimpi kamu apa?”

“Hmm.. sederhana. Punya pasangan dan hidup sama-sama,” jawab Nina.

Obrolan mereka selalu terjadi saat tengah malam. Di atas atap dengan pemandangan langit malam yang kadang mendung menjadi tempat fovorit mereka berdua untuk berbincang.

Rumah Nina tidak jauh dari rumah Gerhana, maka dari itu tempat mereka untuk selalu bertemu adalah di salah satunya. Orang tua mereka juga sudah saling mengenal sejak lama. Nina akrab dengan keluarga Gerhana, begitu juga sebaliknya.

“Malam ini nggak ada bintang. Tapi juga nggak ada awan. Benar-benar cuma langit aja,” kata Nina yang duduk menemani Gerhana di atas atap rumahnya. Malam ini giliran Gerhana yang pergi ke rumah Nina.

“Nggak juga, langit nggak benar-benar sendirian. Masih ada bulan yang kelihatan, tuh.” Telunjuk Gerhana mengarah ke arah bulan yang bersinar terang dengan bentuk lingkaran utuh.

“Ah iya, kamu benar, Gerhana. Lagipula kamu lebih suka bulan daripada senja atau matahari, kan?”

“Gerhana…” Ucap Gerhana menyebur namanya sendiri sambil tertawa kecil.

“Iya, itu nama kamu. Sama seperti nama fase bulan. Yang sering di tunggu tapi juga sering dilupakan.”

Benar kata Nina. Orang-orang selalu menunggu gerhana bulan yang jarang sekali terjadi, namun sering dilupakan ketika momentum itu telah selesai. Kadang ketika geerhana bulan datang dengan keindahannya, banyak orang mengabadikan momentumnya menggunakan kamera ponselnya, ada juga yang menyalakan kembang api sebagai bentuk perayaan. Namun hilang senyap ketika gerhana itu telah selesai.

“Mau sampai kapan kamu bersedih?”

“Entahlah, Na. Nasib tidak ada yang tahu.”

Bagaikan malam tanpa cahaya. Gelap bagi Gerhana untuk muncul karena tertutup oleh awan kesedihan. Nina lebih suka Gerhana yang menceritakan tentang impiannya daripada melihatnya hanya termenung menatap luas angkasa yang gelap setiap menjelang pagi tiba. Di tengah luas dunia yang penuh warna, Gerhana lebih memilih untuk menutup diri dari dunia luar. Hanya orang-orang terdekatnya saja yang diperbolehkannya untuk datang dalam dunianya. Pelampiasan seorang Gerhana adalah menyendiri di tempat sepi.

“Mau sampai kapan kamu dirundung oleh kedukaan?”

 

*SELESAI*

Komentar

Postingan Populer