HANAN & NISA (Bagian 1)
New York 2018
Namaku Nisa, aku seorang psikolog. Perkerjaanku setiap hari adalah melayani orang-orang yang bermasalah dengan pola pikir atau trauma masa lalu. Aku bekerja di salah satu kota terpadat Amerika Serikat, Now York. Tempat dimana orang-orang sibuk berkumpul, tidak tau waktu. Mereka bekerja tanpa henti, awalnya aku berpikir mereka adalah robot. Namun pikiranku berubah setelah aku tinggal di sana.
Tahun 2017 yang lalu aku terbang dari Kota Jakarta menuju New York. Aku tidak sendirian. aku berangkat dengan seorang laki-laki yang sedang mengambil studi S2 nya Amerika. Di Washington tepatnya. Dia mengambil S2 jurusan Teknik Arsitektur. Nama laki-laki itu adalah Hanandika Baskara. Aku lebih suka memanggil dia Hanan meski teman-temannya memaggil dia dengan Dika. Menurutku nama Hanan lebih keren, karena berarti kasih sayang.
Tahun 2017 Bulan September, bulan pertama aku berada jauh dari rumah dan tinggal di negara orang. Sebenarnya aku takut sendirian, tapi Hanan selalu menemani aku. Meski hanya dua hari dalam satu minggu saja aku bertemu dengan dia. Tapi itu sudah lebih dari cukup, daripada tidak sama sekali.
“Kenapa kamu mau pergi jauh dari Washington ke New York tiap minggunya?” tanyaku.
“Cause I want to see you.” Kata Hanan.
“Kan bisa liwat video call?” tanyaku kembali.
“Memang benar dari video call aku bisa melihatmu, but can’t stem my feeling on you.” Balas Hanan.
“Unch, unch, unch… selalu bisa deh merayu aku.” Kataku.
Iya. Hanan adalah pacarku. Aku bertemu dengan dia saat kami sedang menunggu pesawat berangkat di Bandara Juanda, Jakarta. Awalnya dia mengajakku hanya untuk berbicara. Mengobrol, mengisi waktu kosong. Aku sih biasa aja dengan Hanan yang pertama kali aku lihat.
Tahun 2017 Tanggal 31 Desember. Hanan mengajak aku pergi jalan-jalan. Katanya dia ingin melihat pesta kembang api, karena langit New York sedang cerah tanpa awan. Merayakan tahun baru di tepi Sungai East, sebelah Jembatan Brooklyn. Ramai orang berkerumun waktu itu.
Sembari menunggu jam tengah malam berbunyi. Hanan mengajakku ngobrol santai dengan memakan popcorn yang dia beli sebelumnya.
“Nisa, I want to ask you something.” Kata Hanan.
“What the question?” kataku.
“Menurut kamu, kenapa waktu itu kita berdua bisa bertemu di bandara?”
“Karena kamu ingin pergi Amerika bukan?” jawabku.
“Bukan.”
“Then What?”
“Takdir.”
“Kenapa dengan takdir? Apa kamu sudah tau kalau aku bakal ketemu sama kamu?”
“Yes, I know it. Aku tau kalau aku akan bertemu dengan wanita baik dan cantik di kemudian hari. Aku selalu berdoa kepada tuhan tentan wanita cantik itu. Meski aku berdoa tanpa menyebut namanya.”
“Kenapa namanya tidak kamu sebut dalam doa kamu?” tanyaku penasaran.
“Percuma.” Balas Hanan sambil mengunyah popcorn.
“Kok percuma?”
“Karena meski aku menyebutkan nama nya. Aku tetap akan bertemu dengan kamu. Dan meski kamu menolak sekeras apapun, hasilnya akan tetap sama. Aku akan bertemu dengan kamu di bandara.” Kata Hanan sambil memegang tanganku.
Dia benar, sekeras apapun aku mengelak. Waktu akan selalu menuntun kita ke takdir yang telah direncanakan oleh tuhan. Aku setuju dengan perkataan Hanan. Tak lama setelah itu kembang api New York mengudara, meledak mewarnai langit malam dengan diiringi bunyi terompet meriah dari orang-orang di sana.
“Nisa. I love you more then I love myself. Do you want to be my girlfriend?” Ucap Hanan pelan di telingaku.
Aku tak berpikir panjang, aku tarik Hanan ke arah tubuhku. Lalu memberinya kasih sayang tanpa bicara. Dan tepat di awal Tahun 2018 Bulan Januari pukul 00.01 waktu New York. Aku dan Hanan resmi berpacaran.
Jakarta 2017
“Ah gawat aku terlambat.”
Bulan Agustus 2017, aku keluar dari kamar apartemen dengan koper besar berisi perlengkapanku. Berjalan cepat menuju lift yang hendak turun ke ruangan lobby. Jam sudah menunjukkan pukul 18.15 WIB dan pesawatku akan segera berangkat jam 19.00 nanti.
“Semoga jalan kota tidak padat.” Kataku dalam hati.
Aku berangkat menuju bandara menggunakan taksi online. Dia sudah menunggu di depan apartemenku.
Setelah masuk ke dalam mobil taksi, diperjalanan menuju bandara ternyata Jakarta padat dengan kendaraan. Untuk menenangkan pikiran dan suasani hati yang takut ketinggalan pesawat, aku menyetel music melalu earphone di telingaku.
“Lagu Sheila On 7 enak nih.”
30 menit perjalanan, aku menyuruh sopir taksi untuk berjalan dengan cepat di tol pintu masuk bandara.
“Akhirnya sampai. Terima kasih pak.” Kataku sambil turun dari mobil.
Masuk ke dalam bandara, menyetorkan tiket pada petugas. Dan duduk di ruang tunggu. Musikku masih menyala, meramaikan telingaku. aku bersyukur waktu itu pesawat yang akan aku naiki delay. Aku bisa bersantai dahulu. Menikmati lagu dengan membaca buku yang aku bawa.
Sekitar pukul 19.25 datang laki-laki dengan wajah yang lumayan tampan. Dia mengenakan jaket hitam dengan celana kaki tertutupi celana jeans. Kakinya sersepatu sneakers. Dia duduk di sebelahku.
“Penerbangan kemana mbak?” tanya si laki-laki.
“Ke Amerika transit Dubai mas. Kalau mas nya?” tanyaku ke laki-laki itu kembali.
“Saya juga sama.”
“Pemberangkatan jam berapa mas?”
“Sebenarnya jam 19.00 tadi mbak. Tapi saya dapat info dari petugas kalau pesawatnya delay.” Kata laki-laki itu.
“Sepertinya kita satu pesawat mas. Boleh lihat tiketnya?” tanyaku.
Tujuan yang sama. Pesawat yang sama. Jam yang sama. Dan tiket yang sama. Ternyata laki-laki itu adalah orang yang akan duduk di sebelahku saat pesawat nanti terbang mengudara.
“Nama saya Hanandika Baskara.” Salam perkenalan laki-laki itu.
“Saya Nisa.” Balas perkenalan yang sama kepada laki-laki itu.
“Mbaknya dari mana?”
“Saya asli Jakarta. Kalau mas nya?”
“Saya dari Bandung.”
Kami berdua sudah saling tau nama masing-masing. Perbincangan kami berlangsung lama. Si laki-laki yang bernama Hanandika Baskara itu enak diajak ngobrol. Dia bilang mengenai alasan kenapa sia terbang ke Amerika adalah untuk melanjutkan Studi S2 di kota Washington. Dan aku juga bilang kepada dia kalau aku akan bekerja di New York. Pertukaran informasi untuk membuat topik pembicaraan tetap berlanjut. Kami berdua sangat nyaman berbicara dan saling bertukar obrolan.
“Saya boleh panggil mbaknya, dengan nama Nisa?” tanya si laki-laki itu.
“Apa boloh jika saya memanggil masnya dengan nama Hanan?” balasku dengan pertanyaan yang sama. Kami berdua saling tertawa. Dia memanggilku Nisa dan aku memanggil dia Hanan. Kami tak hanya mengobrol, namun juga bertukar nomor HP. Aku merasa cocok dengan dia.
Jam 20.15 malam. Pesawat kami akhirnya tiba di bandara. Kami pergi ke pintu masuk lalu memberikan masing-masing tiket yang kami bawa kepada petugas. Berjalan menuju temapat duduk sesuai nomor di tiket pesawat. Memasukkan barang ke dalam loker. Dan kami menunggu pesawat untuk Take Off dengan melanjutkan obrolan. Momen pertama aku bertemu dengan Hanan. Momen yang tidak sengaja bagi kami, tapi telah ditentukan oleh takdir.
Komentar