HANAN & NISA (Bagian 2)
Berlin 2020
Namaku Hanan, Hanandika Baskara. Aku anak asli Kota Bandung dengan latar belakang orang tua PNS. Usiaku kini 27 tahun. Berkerja di perusahaan luar negeri sebagai juru gambar. Lebih tepatnya perancang bangunan bertingkat yang biasa disebut orang-orang sebagai Arsitek. Menggeluti dunia gambar adalah salah satu kesenanganku sedari kecil.
Aku kini bekerja Di Berlin, German. Satu negara dengan tempat Presiden ke-3 Indonesia menyelesaikan kuliahnya dulu. Meski beda kota, tapi aku sangat menikmati dan merasa bangga. Karena aku bisa kerja di negara maju seperti ini. Salah satu impian besarku terwujudkan.
Jenjang pendidikanku bisa dibilang cukup cepat dari teman-teman satu angkatanku dulu. Aku menyelesaikan kuliah S1 ku di kampus ternama di Kota Bandung, Institut Teknologi Bandung selama 3,5 tahun saja dan melanjutkan S2 di Washington University mengambil jurusan Arsitektur dan lulus dengan durasi 2 tahun.
Aku punya sepenggal kisah saat itu. Saat aku masih berkuliah S2 di America. Seorang wanita cantik dengan wajahnya yang selalu manis saat dia tersenyum. Anisa Cahya. Dia adalah orang yang menemani aku saat itu. Memicu semangat. Aku rela setiap minggu pergi menempuh waktu 3 jam perjalanan dari Washington menuju New York. Dia bekerja sebagai psikolog di sana. Yah pekerjaannya selalu bertemu dengan orang-orang yang memiliki kelainan pada mental mereka.
Meski setiap harinya Nisa selalu bertemu dengan orang-orang baru di hidupnya. Aku tidak pernah merasa sedikitpun cemburu. Aku tau kalau itu adalah memang pekerjaan yang sedari dulu dia impikan. Aku hanya berpikir positif bahwa orang-orang yang datang ke tempatnya adalah orang-orang yang memiliki masalah berlebih dalam hidup mereka.
Aku pernah bertanya kepada dia tentang apa alasannya menjadi seorang psikolog. Jawabannya menarik. Nisa bilang bahwa semua orang butuh tempat untuk berkeluh kesah tanpa ada yang menghardiknya. Nisa juga bilang kalau orang yang penuh dengan masalah jalan keluarnya hanya ada dua. Kalau tidak perenungan ya tempat untuk bercerita.
Kadang menjadi rumah bagi jiwa yang tak punya tempat tinggal adalah sebuah pertolongan bagi sebagian orang. Dan Nisa benar, dia selalu menjadi tempat dimana aku bisa bercerita dan melepas penat. Tak hanya aku, Nisa juga selalu bercerita mengenai pasien-pasien yang dia tangani. Mulai dari yang remaja hingga orang tua. Mulai yang diputuskan oleh kekasihnya hingga yang bingung dengan pribadi tua karena tak lagi bekerja.
Nisa orangnya kuat. Dia wanita tangguh nomer 3 setelah ibu dan nenekku. Aku berani mengakui itu karena Nisa tak pernah sedikitpun mengeluh karena menaggung beban pasiennya. Hanya pada saat dia benar-benar lelah. Dia menagis dalam dekapanku. Meneteskan air mata sebagai pertanda kalau dia tak sanggup lagi menahannya. Saat itu dia menganggapku seperti rumah untuk pulang, sebagai ganti karena jauh dari negara sendiri.
“Hanan, terima kasih karena bersedia ada saat aku sedang ingin menghilang.” Ujar Nisa.
“Nisa, are you okay?” tanyaku kepada Nisa.
“Im okay Hanan. Im just tired.” Balas Nisa.
“Im here if you need a place to rest. Kamu bisa menghibungi aku saat kamu benar-benar ingin pergi dari kesibukan kerjamu.” Kataku dengan mengelus rambut Nisa.
Nisa menyandarkan tubuhnya di bahu kiri ku. Meminta untuk selalu menemaninya.
Kisahku di saat itu adalah hal yang sulit aku lupakan. Kangen rasanya berbincang dengan Nisa. Namun itu adalah cerita di Tahun 2020. Kini aku berpisah dengan dia, tak lagi mendengar tentang kisahnya sebagai psikolog. Yang jelas kini aku tidak lagi bersama dengan Nisa. Dan Berlin adalah tempat terakhir aku bertemu dengannya.
Rain in New York Airport 2020
Hubunganku dengan Nisa telah selesai. Kami berpisah karena pekerjaan dan ego masing-masing. Aku yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami berdua. Aku yang mendapat tawaran pekerjaan di German memilih untuk terbang meniggalkan hati yang selalu menjadi semangat untuk aku mekakukan pekerjaan. Nisa Cahya. Perasaanku akan tetap sama selama aku masih hidup bahkan mungkin berkeluarga. Aku berdoa selalu agar kita bisa bertemu kembali.
Aku berpisah dengannya saat kami berada di Bandara Kota New York. Dia mengantarkanku. Menemaniku hingga pesawat datang hingga berangkat terbang mengudara. Kami berdua cukup lama menghabiskan waktu di sana. Pesawatku terlambat karena delay akibat badai malam. Pesawat yang seharusnya terbang pukul 20.00 waktu setempat, molor ingga pukul 23.00 malam.
Perbincangan kami hanya seputar mengenai alasan aku pergi ke German. Nisa sebenarnya masih tidak rela pergi jauh dari aku. Dia selalu butuh satu tempat untuk menagis. Melepas letih melalui air mata.
“Kamu masih beneran mau berangkat menuju German?” tanya Nisa.
“Iya. Aku harus berangkat.” Balasku.
“Kenapa sih kamu harus pergi? Kenapa tidak mencari kerja di Kota New York saja?”
“Tidak bisa Nisa. Aku harus berangkat menuju German. Itu karena impian aku sejak dulu.” Kataku kembali.
“Aku takut sendirian Hanan.”
Nisa sangat takut sendirian. Apalagi kini dia berada di negeri yang jauh dari rumahnya.
“Kamu tidak akan sendirian Nisa.” Kataku sambil menatap dalam mata Nisa.
“Bagaimana bisa? Hanya kamu yang aku punya di sini. Dan sekarang kamu akan pergi jauh. Kita tidak akan bisa bertemu kembali.” Kata Nisa dengan mata berkaca-kaca penuh air mata.
“Kalau kamu kangen aku, atau ingin mencari tempat untuk menangis. Aku akan hadir sebagai hujan untuk menutupi air mata kamu yang jatuh.”
Aku mengajak Nisa pergi keluar bandara. Berdiri di tengah guyuran hujan. Sambil meminta maaf karena aku akan terbang jauh malam itu. Aku tidak perduli kalau harus masuk ke dalam kabin pesawat dengan badan basah kuyup. Aku melakukannya karena aku ingin bersama dengan Nisa sebelum aku berangkat.
“Sekarang menangislah Nisa. Dekap aku dengan tubuhmu seerat mungkin.” Suruhku kepada Nisa dibawah hujan.
Nisa melakukannya. Dia mendekapku erat. Hujan deras waktu itu menyamarkan suaranya.
“Terima kasih untuk waktunya. Mungkin kita tidak akan bertemu dalam jangka waktu lama. Aku akan menunggumu, Hanan.” Kata Nisa dengan suara pelannya.
“Maafkan aku Nisa. Aku harus mengakhiri hubungan kita sampai sini. Takdir kita sepertinya bertemu di bandara, dan harus berakhir di Bandara juga.” Kataku setelah Nisa melepas dekapannya.
Berat untukku juga karena harus pergi dan mengakhiri hubungan di antara kami. Aku melakukannya agar Nisa bisa mendapat rumah baru dalam hidupnya di New York. Akan sangat berat untuk nya jika dia akan tetap menugguku hadir kembali. Tapi aku tetap aku berusaha sekeras mungkin agar takdir mempertemukan kami kembali.
Takdir kami berdua telah ditentukan. Pertemuan pertama di Bandara Jakarta waktu itu harus berakhir juga di Bandara New York. Dengan situasi yang sama. Hujan mengiringi pertemuan dan perpisahan kami. Takdir tidak pernah bisa kami lawan. Tapi semoga saja dengan kami dapat bersama dengan saling mendoakan. Suatu hari nanti. Pasti.
Komentar