IZINKAN AKU JATUH HATI KEPADAMU

“Siapa yang akan menemanimu nanti, itu bbukan sebuah masalah. Yang penting orangnya taat agama, sholatnya dijaga, dan yang penting dia mau terima kamu apa adanya.”


Ibu selalu bilang kalau jodoh itu nggak akan kemana-mana. “Ibu selalu berdoa untuk kamu dijodohkan sama Allah dengan yang terbaik, nak.” Begitu kata ibuku ketika aku bercerita tentang bagaimana rasanya patah hati oleh seorang manusia yang aku inginkan.


“Mungkin nggak sekarang, nak.”


“Mungkin bukan dia yang terbaik buat kamu.”


“Tetap doakan dia untuk hal yang baik-baik.”


Itu kata-kata ibu satu tahun yang lalu. Ketika aku merasa bahwa patah hati karena mencintai seorang manusia adalah sebuah hal yang menyakitkan. Tidak bisa tidur dengan nyenyak. Makan juga tidak enak. Namun terus untuk dipaksa tersenyum seolah semua hal sedang baik-baik saja.


Namaku Airlangga. Sudah satu tahun aku memilih untuk tidak mendekati perempuan lagi. Mungkin trauma dan belum siap untuk menjalani hari bersama dengan orang baru. Benakku masih terbayang betapa pedihnya patah hati karena seorang perempuan yang aku cinta pergi begitu saja setelah aku sudah mulai jatuh cinta.


Namanya Putri. Perempuan cantik dengan wajah putih bak permaisuri dengan rambut yang selalu tertutup rapat oleh kerudung di kepala mungilnya. Perempuan yang sempat membuatku jatuh cinta hingga berujung pada trauma. Dia adalah patah hati terhebatku. “Aku rasa begitu,” karena setelah patah hati, aku belum juga berani untuk membuka hati kembali.


Sempat aku mencoba mendekati perempuan lainnya. Dengan bermodal berani aku memulainya. Pramaswati. Namun aku lebih sering ingin memanggilnya dengan Quite Lady. Iya, hanya kata ‘ingin’ saja karena aku memang jarang berkomunikasi dengan dia. Entah apa alasannya, kami berdua jarang sekali untuk berbicara panjang lebar.


Tubuhku yang kurus dan muka tak tampan sering aku jadikan alasan untuk menyadari bahwa dia memang tidak suka kepadaku. Hal yang sudah wajar bagiku untuk melakukan Self-judgement sejak dari dulu.


Kami berdua adalah teman satu kantor. Iya ‘teman’ yang jarang berkomunikasi. ‘TEMAN’? entahlah, jika memang teman seharusnya lebih sering untuk berkomunikasi bukan? Atau mungkin seharusnya kami adalah dua orang yang hanya bisa saling bertemu tanpa berkata apa-apa dan hal itu bukan definisi yang tepat untuk dikatakan sebagai ‘teman’.


Pagi hari di satu bulan, sempat aku menaruh cokelat di atas meja kerjanya. Tidak hanya itu, ada sticky note yang aku tuliskan dengan kata-kata semangat untuk dia juga. Tanda rahasia bahwa aku sedang memberikan peluang pada diriku sendiri untuk mencoba membuka hati kembali. Berharap akan mendapat balasan manis juga dari Pramaswati ketika dia tau siapa pengirimnya nanti.


Iya, ‘aku berharap’ pada hal yang tidak semestinya. Cokelat manis itu mendadak berubah rasa menjadi pahit setelah dia mengembalikannya kepadaku tepat di depan semua orang kantor.


“Aku tau cokelat ini dari kamu. Tapi aku kembalikan saja.”


Tidak ada kata terimakasih atau maaf. Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Teman-teman satu kantor yang melihat itu menjadikannya bahan pembicaraan hingga berbulan-bulan. Ada yang tertawa sinis, ada juga yang mentertawakan dengan riang. Bertubi-tubi aku merasakan tekanan waktu itu.


Dalam diriku berkata, “apa aku salah untuk mencoba merasakan jatuh cinta kembali? Masa harus patah hati terus?”


Di tengah malam ketika aku tidak dapat tidur karena terbangun tiba-tiba. Keringat mengucur deras membasahi tubuhku. Entah karena apa, aku merasakan kesepian. Lampu remang yang menyala redup seolah memberi kesan bahwa kesepian memang sudah ditakdirkan untukku. Dadaku terasa sesak. Rintihan dan umpatan masih tetap aku tahan. Hingga..


“Ya tuhan, jika ini adalah takdir terbaik untukku, kenapa engkau uji aku dengan patah hati seperti ini? Aku tau aku punya banyak salah. Apa memang harus seperti ini?”


Air wudhu yang aku ambil membasahi bagian-bagian tubuh. Sajadah yang aku gelar menjadi alas untukku bercerita. Keluh kesah yang aku pendam terurai melalui derai air mata. Tak ada tempat bercerita selain menengadahkan kedua tangan hingga tubuhku kembali terlelap kembali.


Satu tahun berlalu, aku tetap saja merasakan kesepian. Tidak ada teman perempuan atau kekasih pengganti Putri. Hanya ada trauma yang ingin aku sembuhkan. Perlahan-lahan namun pasti. Aku mencoba kembali untuk tegar sendiri dan sesekali merintih kepada pemilik ilahi tentang hidup yang aku jalani.


“Satu nama aku panjatkan kembali tuhan. Untuk kali ini, jodohkanlah kami. Jodohkanlah dia dengan aku suatu saat nanti. Dan jadikanlah dia sebagai yang terbaik seperti kata ibuku dulu.”


Namanya Nas. Aku sering memanggilnya dengan nama ‘Ka’. Kenapa? Usia kami berdua berselisih satu sampai dua tahun. Dia lebih tua dariku. Pertemuan kami pertama kali adalah di kampus saat aku masuk organisasi. Iya, dia adalah salah satu seniorku yang galak dan cuek. Sempat aku takut kepadanya waktu itu.


“Namamu siapa? Ngapain kamu masuk ke organisasi ini?” dengan ketus, Nas bertanya kepadaku dulu.


Seperti kata pepatah, ‘tak kenal maka tak sayang’, tidak mengenal secara dalam berarti belum tentu itu adalah sifat aslinya. Setelah aku mencoba ribuan kali untuk berkomunikasi dengan Nas, akhirnya dia mau bercerita. Lebih tepatnya, dia mengelkanku dengan bagaimana cara dia untuk berfikir. Dan semenjak itu, aku mulai suka dengan dirinya.


“Aku sempat mencari tau di aplikasi AI tentang manusia yang paling berpengaruh di dunia. Jawabannya adalah Nabi Muhammad. Tapi waktu aku refresh jawabannya ganti. Bukan nama Nabi Muhammad lagi. Dan aku kesel banget.”


Ternyata Nas adalah perempuan yang mengutamakan agama daripada yang lainnya. Setelah aku tau dari seringnya komunikasi kami berdua, aku mulai kembali mearasakan jatuh cinta. Padahal sudah empat tahun kami tidak bertemu kembali, justru sekarang aku merindukannya dan ingin bertemu dengan dia.


Tidak ada yang tau tentang Nas selain aku sendiri. Aku tidak bercerita kepada siapapun kecuali tuhan dari doaku tentang Nas. Dan aku berharap kepada tuhan untuk dijodohkan dengan Nas.


Kata ‘entahlah’ menjadi dasar kenapa aku merasakan jatuh cinta tanpa tatap muka kepada Nas. Dan mungkin memang itu yang tuhan inginkan dariku ketika jatuh cinta. Tuhan ingin aku meminta langsung kepadanya tanpa ada perantara siapapun. Bercerita tentang perempuan yang aku inginkan tanpa perlu diketahui oleh siapapun seperti kisah Ali dan Fatimah. Cinta yang tak lagi perlu bertatap muka, namun selalu dinyatakan ketika berdoa.

 

*SELESAI* 

Komentar

Postingan Populer