KALA PATAH HATI

Setiap orang pasti punya pelariannya masing-masing. Wine, judi, perempuan, atau bahkan mengejar impian mereka adalah beberapa opsi lain dari bagaimana cara setiap orang melampiaskan emosi mereka karena satu hal. Entah itu patah hati karena kecewa, putus cinta atau di tinggal nikah padahal dunia sudah sempat mendapat kabar tentang sebuah pertunangan sebelumnya. Kabar yang hendak untuk dilaksanakan namun justru harus berujung pada sakit hati, kemudian merubah insan yang merasakannya.

Berkendara keliling kota ketika malam tiba, sudah menjadi pelarian bagi Kala Mahendra dari patah hatinya karena luka masa lalu nya. Kekasihnya yang memilih menikah dengan laki-laki lain padahal dia telah menyusun rencara matang menjelang proses lamarannya.

“Tadi filmnya seru banget. Aku sampai mau nangis karena terharu.”

“Kamu kebawa suasana banget, sih, sampe mau nangis segala. Padahal adegannya juga nggak begitu romantis-romantis amat.”

“Ihhh, itu tuh romantis tau. Bayangin aja, si cewek dalem film itu dilamar sama cowoknya dengan cara terjun dari langit.”

“Kamu mau dilamar kayak gitu juga?”

“Keren sih kalau aku dilamar kayak gitu caranya,” kata Nadin kemudian diam membayangkan.

Sepanjang perjalanan pulang dari gedung bioskop. Percakapan malam itu antara Kala dan Nadin terasa sangat indah seolah dunia berkata tanpa suara, memberikan momentum untuk mereka menghabiskan waktu bersama menikmati lampu-lampu kota. Tak hanya itu, kisah mereka yang sudah berjalan baik-baik saja selama tiga tahun, ingin segera Kala akhiri di atas panggung pelaminan.

“Nadin, malem ini film nya lucu, romantis, kamu suka nggak?”

“Iya, aku suka banget. Makasih ya, udah selalu temenin aku ke mana aja. Makasih udah selalu ada sama hibur aku.”

“Iya, sama-sama. Aku juga seneng kalau kamu seneng.”

Dengan niat yang telah Kala pandam dari sebelum masuk pintu bioskop, akhirnya dia memberanikan diri dengan berkata, “aku mau bilang, Nad,” bersama nada suara yang halus, Kala mengeluarkan satu kotak berwarna merah dari dalam sakunya, sebuah cincin emas. Perlahan dia memberikan, membuka dengan degup jantung yang tidak seperti biasanya.

“Nadin, makasih untuk semua hal selama tiga tahun ini. Ada hal yang nggak pernah aku sangka bisa ada waktu sama kamu. Makan ice cream di depan supermarket berdua waktu hujan sedang deras-derasnya. Nonton film sampai cekikikan sendiri terus satu studio melirik ke arah kita. Sampai detik ini, aku ingin sampaikan kalau, maukah kamu jadi istriku?”

Nadin yang berdiri di hadapan Kala hanya bisa diam seribu bahasa untuk beberapa saat. Tanpa kata-kata, Nadin menatap lebih lama ke arah mata Kala. Binar matanya yang tak bersuara itu mampu di mengerti oleh Kala bahwa Nadin sedang terkejut.

“Kal, kamu kenapa romantis banget sih. Aku sampai nggak tau harus bilang gimana.”

“Ini nggak seromantis di film tadi. Maaf aku masih nggak berani ngelamar kamu pakai cara terjun langsung dari langit. Tapi aku harap, kamu terima aku, Nad.”

“Kal.. aku mau bilang ke kamu satu hal. Tapi aku minta kamu bisa terima ya.”

Nadin memegang tangan Kala, dia menutup kotak cincin Kala pelan.

“Aku udah dilamar sama cowok lain.”

Kala yang mendengarnya berusaha untuk tetap tersenyum. Kini giliran Kala yang diam tak bersuara. Nadin melanjutkan, “Udah dua hari yang lalu. Dia dateng ke rumah, bilang ke ayah sama ibu. Dan respons mereka positif. Aku nggak bisa nolak karena itu.”

“Jadi kamu terima?”

“Iya. Maafin aku, Kal. Makasih buat semuanya termasuk sama malem ini.”

Dengan hati yang mencoba untuk tetap tegar. Kala mengangguk pelan. Menelan ludah meski terasa sakit di tenggorokan bersama senyumnya. Dia tidak menangis, namun dalam benaknya terasa sesak.

Malam itu, Kala mengantar pulang Nadin ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, suasana menjadi canggung. Tanpa kata, tanpa cerita. Hanya deru suara mesin kendaraan dan kalimat Nadin yang terngiang dalam kepala Kala. Mengantarkannya untuk berkeliling kota menikmati patah hati sendirian. Melakukan pelarian yang dapat dia salurkan dengan caranya sendiri. Tidak merokok, tidak minum wine, tidak menghancurkan diri. Kala memilih untuk diam dan ikhlas meski pikiran dan perasaannya hancur berantakan.

Kini, satu tahun telah berlalu. Hubungan Kala dan Nadin musnah tanpa ada kata pisah. Kata pamit yang seharusnya terjadi, menuntunnya untuk dengan berat hati menghadiri akad Nadin. Secara terpaksa namun harus, Kala berkata “Sah” setelah mendengar ucapan sakral dari mempelai pria yang telah resmi menjadi suami Nadin.

“Selamat ya, Nad. Semoga sakinah mawadah warahmah.”

Begitu kalimat yang terucap dari mulut Kala kepada Nadin dan suaminya. Di atas panggung mereka berjabat tangan untuk yang terakhir kalinya sebelum Kala memutuskan untuk menghilang. Menutup kabar bukan hanya dari Nadin, namun dari pengetuk hati yang lainnya. Yang hendak masuk ke dalamnya dengan suka cita.

Di satu waktu, beberapa bulan setelah pernikahan Nadin. Kala bertemu dengan wanita yang lainnya. Seorang wanita yang lembut tutur katanya mencoba untuk mendekati Kala dengan sebuah ajakan makan malam bersama. Namun Kala yang belum selesai dengan masa lalunya, memilih untuk menolak ajakan tersebut. Dia membiarkan dirinya untuk larut dalam kesedihan sendirian. Tak perduli dunia berkata bagaimana, karena bagi Kala hanya ada sepi setelah jabat tangan terakhirnya dengan Nadin.

Setiap malam di ujung akhir pekan, Kala lebih sering menghabiskan waktunya untuk berkeliling kota sendirian. Dia berusaha tetap menghidupkan api cinta dalam dirinya sebagai usaha sederhana untuk tetap hidup di dunia ini. Sesekali dia berhenti, entah duduk di depan supermarket sambil menikmati kopi sendiri atau melamun di tepi jalan ketika suasana hatinya mulai kacau.

Namun bagi Kala, itu lebih baik daripada melakukan pelarian diri dari perasaan yang menyiksa. Yang hadir secara tiba-tiba lalu membuatnya patah untuk kesekian kalinya. Dan hingga kini, Kala masih belum menemukan pengganti Nadin. Pengisi ruang ceria dalam hidupnya.

Komentar

Postingan Populer