KISAH MESRA
Dia yang duduk dengan tatapan tajam mengarah ke layar bercahaya. Dia yang tak pernah menoleh ketika dunia sedang kacau bersuara. Dia yang selalu terpaku dengan apa yang ada di hadapannya. Hanya satu hal yang mampu mengguncang dunianya. Suara seorang yang entah dari mana. Mimpi atau nyata. Namun telinganya seraya tergetar saat itu juga. Dengan sigap dan segera, dia menolehkan wajahnya. Suara dari seseorang yang menyapanya itu mengubah warna dunianya.
“Hai, bagaimana kabar kamu?”
Senyum di bibir tak luput dari raut muka bahagia.
Tak ada jawaban yang terdengar membalas. Dia segera menerima pelukan hangat yang mendekap erat. Rindu yang lama membelenggu akhirnya lepas.
“Aku kangen kamu.”
Bisikan itu pelan merambat melalui ruang hampa kecil di lubang telinganya. Tubuh yang terdekap diam, membalas dengan pelukan yang serupa.
“Aku juga sama. Sudah lama sekali.”
Kali terakhir mereka berdua bertemu adalah dua tahun lalu. Saat itu tugas negara memanggil kekasihnya itu untuk pergi ke medan perbatasan. Menjaga daerah rawan perang dari serangan teroris asing yang membahayakan negara dan warga sekitar.
“Kamu perginya lama sekali. Aku sampai tidak tau harus berkata bagaimana. Yang aku bisa hanya melepas peluk ketika tiba di rumah ini. Dan kamu masih sama. Melakukan hal yang sama seperti dulu. Menulis pesan untukku dari kejauhan.”
Rangkaian kata yang semula dia ketik, tercurahkan melalui air mata tanpa kalimat bernada. Kecuali satu kata yang terucap membalas pelukan itu.
“Kangen.”
“Iya. Sama. Aku juga.”
Pagi yang seharusnya menjadi sebuah agenda untuknya menyelesaikan karangan buku ke tiga nya, terhenti di hari itu. Dia memilih untuk manunda yang dapat ditunda, dan melakukan yang dapat dilakukan. Menikamati kerinduan yang telah lama tertahan adalah sebuah keharusan.
Hingga siang tiba. Tidak ada makanan yang tehidang di atas meja makan. Minuman yang seharusnya sudah tertuang dalam gelas juga masih tersimpan rapi dalam kulkas. Di atas sofa, mereka berdua sama-sama berbagi cerita tentang bagaimana cara mereka melarikan diri dari kejamnya rindu.
“Selama masa dinas, aku hanya berdoa untuk bisa pulang dengan selamat.”
“Aku juga melakukan hal yang serupa. Novel yang seharusnya bisa aku selesaikan di tahun lalu, harus aku tunda hanya untuk mendoakan kamu di setiap surat yang aku kirimkan.”
“Kalau malam tiba, barak selalu terasa dingin meski rekan-rekan menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan. Mungkin karena kamu adalah pemberi kehangatan yang sesungguhnya setelah tuhan dan ibu.”
“Ibu sudah meninggal lebih dari sepuluh tahun lalu, dan kamu masih sama. Menjadikan aku sebagai wanita pengganti ibu kamu.”
“Terimakasih untuk semuanya, ya.”
“Terimakasih juga untuk segalanya, ya.”
Menjelang malam, sore memancarkan binar cahaya indahnya. Di teras rumah, mereka berdua duduk berdampingan. Dengan secangkir teh hangat yang tertuang di atas meja, mereka menikmati keindahan langit tanpa berkata-kata. Sebentar, lalu salah satu mulai bercerita.
“Kamu masih ingat? Kita awal kita menikah, kamu sering sekalai ajak aku ke pinggir sawah. Kita duduk berdua. Menatap langit yang sama dan sama-sama berdoa untuk diberikan anak yang baik. Yang cantik seperti aku, atau yang pemberani seperti kamu. Meski hingga kini belum diberikan. Aku masih mendoakan hal yang sama loh.”
Dengan nada sedih laki-laki itu berbicara halus. Menyalahkan dirinya sendiri. “Aku minta maaf, ya. Belum bisa kasih kamu buah hati yang kamu mau.”
“Ini bukan salah kamu sepenuhnya kok. Mungkin tuhan sedang kasih ujian untuk kita berdua. Lagipula, Sarah istri Ibrahim juga baru diberikan anak ketika usianya sudah tua. Dan aku percaya, kok, kalau selagi kita masih diberikan kesempatan untuk berdoa di dunia, semua hal yang kita minta ke tuhan, pasti akan diberikan. Jadi jangan putus untuk berdoa, ya.”
Di antara kalimat yang dia ucapkan, ada senyum harap kepada pemilik semesta di sana. Harapan untuk lekas memiliki sebuah anak yang mereka dambakan sejak lama. Sejak sepuluh tahun mereka berdua menikah, doa mereka tetap sama. Satu anak yang mampu menambah warna dalam hidup. Di dalam rumah.
Malam kini semakin pekat. Teras rumah berubah terang karena lampu remang. Meja makan telah rapi kembali sejak pukul tujuh. Kamar tidur menjadi sepi. Dua orang itu duduk diatas sajadah mereka masing-masing. Melangitkan doa yang sama. Hingga dua minggu berlalu, dia merasakan mual pada perutnya.
“Mau periksa ke dokter?”
Akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk periksa ke salah satu rumah sakit. Dengan kondisi lemas, dia berusahan untuk terlihat baik-baik saja. Pemeriksaan kandungan dilakukan. Dokterpun memberikan kesimpulan.
“Kondisi ibunya lemas, sepertinya sedang isi. Jadi, saran saya untuk selalu jaga kesehatan.”
Dalam batin yang tergejolak, pasangan itu akhirnya sama-sama saling berpelukan. Mengucap syukur sedalam-dalamnya. Doa yang tiada hendi mereka panjatkan akhirnya diwujudkan oleh pemilik segalanya. Anak pertama mereka akhirnya tiba di dunia.
Setelah sembilan bulan setelah masa kehamilan, suara isak tangis bayi kecil terdengar dari dalam ruang persalinan. Keduanya bahagia atas karunia tuhan yang tiada tara. Nama yang disiapkan sejak lama akhirnya menemui pemiliknya.
ANJANI LARASATI. Lahir di bulan Oktober tepat di tahun perayaan ulang tahun pernikahan mereka berdua sebelas tahun yang lalu. Putri dari wanita penulis novel dan laki-laki pemberani yang rela mempertaruhkan nyawanya untuk negara.
Komentar