Lari Terus, Kapan Mau Berhenti?
Puisi; sastra yang tertulis abadi dari batin yang terus lari dari segala macam riuh dunia. Mengais setiap hari bukan lagi sebagai penanda lemah hati. Air mata yang jatuh itu memberikan tanda tak bersuara bahwa semua manusia juga pernah merasakan hal yang sama; Lelah. Ingin berhenti lalu menyerah.
“Mau sampai kapan kamu seperti ini?”
“Mau sampai kapan kamu lari?”
Dua pertanyaan itu muncul dalam benak Ical setiap kali dia terbangun di tengah malam. Rasa resah dan kecewa menyelimuti ketika dia sadar bahwa apa yang dia kejar selama ini adalah hal sepi. Tak jarang juga dia merintih lirih sambil memegang dadanya sendiri lalu terkungkung di atas kasurnya.
“Rasanya sesak,” begitu kata Ical saat tidak ada yang mampu menolongnya dari dirinya sendiri yang terus menghujatnya setiap detik.
Pagi harinya, Ical keluar dari dalam kamarnya. Dengan kantung mata yang sedikit legam dan berwarna sedikit gelap, dia bersiap. Mandi, sarapan, lalu mengikat tali sepatu di teras rumah. Secangkir kopi susu hangat dia siapkan sendiri setiap harinya. Satu batang rokok menjadi paduan sempurna untuk dia sesap sesaat sebelum keluar dari rumahnya.
“Gimana mau sampai, sedangkan kamu saja tidak tau tujuannya?”
“Sebenarnya aku nungguin kamu, Cal. Udah lama. Udah hampir satu tahun aku selalu tunggu kamu buat dateng ke aku. Cerita banyak hal, dan kita ketawa sama-sama tanpa takut buat saling kecewa. Cuma kamu sama aku, nggak ada orang lain. Cuma kita sama keadaan yang seharusnya bisa datang lebih cepat tapi kamu yang selalu lari minta buat dikejar,” kata Aruna ketika Ical duduk menemaninya di sebuah taman.
Aruna melanjutkan, “sebenarnya kamu nggak perlu lari kemana-mana, Cal. Tinggal duduk, ajak bicara orang yang benar-benar mau dengerin cerita kamu. Nggak perlu takut.”
Ical yang mendengar nasihat dari Aruna tak dapat membalas perkataannya. Mulutnya membisu, seribu kata yang memutar dalam pikiran Ical terikat terjerembam seperti untaian benang kusut. Ical hanya tertunduk termenung.
Aruna adalah teman yang senantiasa mendengarkan Ical bercerita tentang pikirannya. Tentang rasa gelisah yang selama ini Ical alami. Teman satu-satunya yang selalu memberikan dukungan ketika Ical hendak menyerah. Seorang wanita tangguh yang memiliki hobi berpetualang. Hobi yang berbanding terbalik dengan Ical yang lebih suka mengurung dirinya dalam kesendirian.
“Kamu tuh, mau sampai kapan kayak gini, Cal?”
“Nggak semua hal bisa kamu tanggung sendirian. Masih ada aku. Aku, Cal!!” Aruna menghela nafas sesaat. “Maaf, memang nggak semua hal aku bisa bantu selesaikan. Tapi setidaknya berbagi lewat cerita itu bisa ringanin benan kamu.”
Suasanya hening untuk sementara. Membiarkan angin yang berhembus mengisi ruang diantara sela obrolan mereka berdua. Kini dunia juga ikut merasakan kekesalan yang Aruna alami. Semua mendengar keluh kesah Aruna atas Ical.
“Sebenarnya, kamu anggap aku ini apa, sih, Cal?”
Aruna sebenarnya tau, kalau pertanyaannya tidak akan dijawab oleh Ical secepat yang dia inginkan. Aruna hanya ingin sebuah kepastian dan keberanian dari dalam diri Ical yang selama ini dia tahan. Keberanian yang selalu tertutupi oleh rasa takut yang teramat besar hingga membuat Ical kesulitan untuk berbicara. Aruna hanya ingin membatu lagi, dengan cara yang lainnya.
“Kalau kamu gini terus. Kamu nggak akan sampai ke tujuan, Cal,” lanjut Aruna yang kemudian dibalas oleh tawa kecil Ical.
“Gimana mau sampai ke tujuan? Aku sendiri masih belum tau tujuannya mau ke mana, Ar,” jawab putus asa Ical. “Gimana caranya mau mulai kalau tujuan akhirnya aja belum bisa aku tau? Kamu lucu, Ar. Hahaha.. lagian kenapa sih, kamu effort banget buat bantu aku? Aku ini nggak butuh bantuan kamu, Ar.”
Mendengar kamilat yang dilontarkan oleh Ical, membuat Aruna marah. Api yang seharusnya tidak menyala dalam diri Aruna, justru tersulut menjadikannya lebih membara.
Aruna terhentak lalu berkata, “Aku benci sama kamu, Cal.”
Aruna patah hati. Dia pergi meninggalkan taman dengan langit sore yang cerah dengan langkah yang tergesa-gesa. Tidak menoleh sedikitpun kepada Ical, dia membiarkannya benar-benar sendirian untuk kali ini.
Ical kemudian memandang ke arah langit sore yang cerah. Dadanya kembali sesak. Sempit hati yang dirasa semakin membuat nafasnya sulit untuk bekerja seperti biasanya. Dalam hal ini, Ical juga patah hati. Bukan kepada Aruna, melainkan dirinya sendiri.
“Kenapa lari terus? Apa nggak capek?”
Dipertengahan malam, ical kembali terbangun. Dadanya sesak, nafasnya terengah-engah. Tak ada tempat berlari untuk Ical. Dia sendirian di dunia ini. Lantas bagaimana cara Ical untuk menghadapi segala maasalah yang ada, jika dirinya tidak tau harus ke mana.
Air wudhu dia ambil untuk syarat ibadahnya. Penuh rasa bersalah Ical mengelar kembali sajadanya yang telah lama terlipat di dalam lemari. Isak tangis mengiringi setelah selesai dia melakukan salam terakhir.
“Tuhan, aku harus bagaimana? Tak ada tempat lain yang dapat aku singgahi lagi. Semua orang telah pergi termasuk Aruna. Aku salah apa hingga kau buat seperti ini? Masih ada kah tempat untukku mengadu tentang masalah hidup? Aku lelah.”
Dalam tidur lelapnya di atas sajadah, Ical kembali merasakan tenang. Seolah semua bebannya terangkat begitu cepat hingga dia kembali terbangun di keesokan paginya.
Pandangannya kini teduh. Seperti tanpa beban, Ical memulai kembali rutinitas paginya. Mandi, sarapan, lalu menyeruput kopi susu yang sudah mulai hangat di atas meja. Tali sepatu dia ikat kencang, rokok tak lupa dia nyalakan. Satu batang sebelum berangkat. Namun kali ini lebih terasa nikmat.
“Kali ini, kau tak perlu melawan dunia, Ical. Kau hanya perlu yakin dan kalahkan dirimu sendiri. Untuk sisanya, biar Tuhan yang mengurusnya.”
*SELESAI*
Komentar