Mesona dan Doa Yang Dia Tuliskan
Ada merah meron yang terwarnakan dengan malu di pipi wanita itu. Paras yang cantik. Kulit yang pulih. Rambut yang tertutup rapat oleh hijab. Serta kacamata yang menjadi ciri khas sebagai pelindung di bola matanya.
Selepas mahgrib, Mesona pergi ke surau untuk menyempurnakan agamanya. Bersama dua orang teman sebaya yang selalu menemaninya berjalan menapaki tanah tertutup paving secara beriringan. Mereka bertiga berbincang menghabiskan waktu sebentar di perjalanan.
“Bagaimana hubunganmu dengan pacarmu itu?” tanya Rahayu kepada Yasmin di sebelahnya.
“Pacarku sibuk. Dia bekerja di pabrik hingga larut malam. Tapi aku selalu mendoakannya untuk bisa punya banyak uang lalu pergi melamarku. Menemui kedua orangtuaku,” balas Jasmin kepada Rahayu dengan raut wajah yang penuh dengan pengharapan.
“Ah, pacarmu pegawai pabrik. Pasti lama untuk menabungnya. Mungkin sepuluh tahun lagi kamu akan dilamar olehnya. Tau sendiri bukan, upah yang diterima oleh buruh pabrik itu berapa seberapa banyak?”
“Aku tau itu. Maka dari aku berdoa untuknya. Agar tuhan memberikan pacarku itu rezeki yang lebih untuknya.”
“Percuma saja, kita juga tidak akan tau apa yang terjadi jika pacarmu itu diberikan rezeki lebih oleh tuhan untuk saat ini. Bisa saja ketika rezekinya bertambah, seleranya juga ikut berubah. Bukan kamu lagi yang dia ingin nikahi. Bisa saja orang lain.”
Mesona yang mendengarkan obrolan Rahayu dan Yasmin selama perjalanan menuju surau, hanya membalas beberapa kata saja. Sesekali dengan senyuman yang manis. Bahkan jika kedua temannya itu tertawa lepas, Mesona hanya meresponsnya dengan senyum kecil yang dia tutupi oleh talapak tangannya. Mesona memang terkenal sebagai pendiam yang memilih untuk lebih mendengarkan. Dia lebih nyaman untuk menutup rapat mulutnya daripada ikut berbicara hal yang tidak dia mengerti.
Di satu kejadian, ketika sore hari, Mesona yang waktu itu sedang menyiram bunga di halaman rumahnya kedatangan seorang teman ayahnya. Ketika orang itu bertanya, apakah ayah sedang berada di rumah, Mesona hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian mempersilahkan duduk sang tamu itu, sebelum pergi masuk ke dalam rumah untuk memanggil ayahnya.
Di kejadian yang lainnya. Ketika sedang menemani sang ibu ke pasar, Mesona mendapati beberapa penjual sedang asik berbincang dengan sang ibu setelah proses negosiasi telah disepakati. Mesona mengamati bahwa di sana ada ikan segar yang sedang menunggu pembelinya. Ikan yang menanti untuk masuk ke dalam wajan penggorengan. Dalam benaknya bertanya dan pikirannya ikut bekerja. Rasa penasaran yang timbul membuat Mesona juga suka untuk belajar serta mencari tau, “kira-kira ikan segar itu bisa diolah menjadi masakan apa saja?”
Di teras surau sudah ada wanita-wanita lain yang menunggu waktu untuk mengaji. Ada juga yang tengah melantunkan ayat-ayat suci di dalam surau untuk mereka ulang setelah pertemuan sebelumnya. Mesona, Rahayu, dan Yasmin segera melepas sandal mereka lalu masuk juga ke dalam surau. Membuka kitab suci yang telah mereka bawa dari rumah.
Menjelang isya, mengaji bersama di surau itu berhenti untuk sesaat. Sholat berjamaah dengan berlangsung khitmat bersama dengan pria-pria yang datang setelah adzan berkumandang. Mesona juga ikut dalam barisan pemburu surga itu. Mukenah rapi berwarna putih polos dia kenakan. Berdiri di shof tengah area wanita hingga waktu sholat telah selesai.
Hampir pukul sembilan malam. Acara mengaji bersama di surau akhirnya selesai. Semua yang terlibat dalam kegiatan tersebut, pulang ke rumah masing-masing. Kali ini, Yasmin dijemput oleh pacarnya yang baru saja pulang bekerja dari pabrik menggunakan sepeda motor. Rahayu dan Mesona pulang berdua saja.
Di perjalanan pulang, Rahayu yang suka sekali berbicara, bertanya kepada Mesona, “Mes, umur kamu kan udah masuk dan layak untuk punya suami. Kapan kamu akan menikah?”
“Aku belum tau. Mungkin suatu hari nanti,” jawab Mesona dengan suara lembutnya.
“Masa harus tunggu sampai kamu tua, baru menikah? Lagian, menikah itu pahalanya banyak loh. Ibadahnya seumur hidup. Hadiahnya surga.”
“Justru karena hadiahnya surga, pahalanya banyak, dan ibadahnya seumur hidup. Pasti masalah yang dihadapi juga banyak. Cari pemimpin sekaligus imam keluarga yang baik itu nggak semudah nemuin uang receh yang jatuh di jalan, Yu. Aku nggak mau kalau dapat suami yang nggak bisa jadi imam yang baik.”
“Tuh, lihat si Yasmin. Setiap kali pulang ngaji pasti ada yang jemput. Nggak capek-capek harus jalan kaki kayak kita gini,” Rahayu mengerutkan wajahnya. Menunjukkan bahwa ada rasa iri di dalam dirinya.
Mesona tersenyum mendengarnya, “kamu kalau ingin dijemput sepulang ngaji, cari suami. Jangan cari pacar. Cari pasangan tuh yang halal sekalian, jangan yang nggak jelas. Pacaran tuh termasuk salah satu dosa, Yu.” Dia tertawa kecil lalu melanjutkan, “kata kamu mau ngejar surga. Ya nikahlah solusinya. Iri kok sama yang ngelakuin dosa. Percuma dong ngajinya.”
Jawaban monohok yang diucapkan oleh Mesona membuat Rahayu terdiam. Selama sisa perjalanan pulang, Rahayu tidak lagi berbicara. Baginya, Mesona terlalu pintar untuk diajak berbicara dan berdebat.
Sampai di dalam kamar. Setelah mengucap dalam dan mencuim tangan ayah yang menunggu di teras rumah. Mesona segera berbenah. Mengganti pakainnya dengan pakaian tidur. Alih-alih naik ke atas kasur, Mesona justru duduk di meja belajarnya. Membuka buku catatan yang berisikan doa dan segala harapan. Di dalam buku itu dia selalu menuliskan keinginannya untuk diberikan kekasih hebat dan sempurna sebagai suaminya. Tidak perlu tampan yang penting punya pemikiran. Tidak perlu kaya yang penting bijaksana. Tidak perlu yang menawan asalkan menjalankan perintah tuhan.
Sesederhana doa yang dia panjatkan, pena di tangannya mulai menulis sebuah harapan. Semudah mengangkat kedua tangan selepas ibadah, Mesona ingin mencurahkan keresahannya. Goresan tinta yang membasahi kertas putih membentuk kalimat indah. Sebuah puisi memenuhi setiap barisnya. Harapan untuk dia menikah dengan pilihan tuhan Mesona tuangkan seluruhnya.
*SELESAI*
Komentar