NAILA DAN PERASAANNYA

“Hati-hati di jalan ya, sayang.” Begitu kalimat yang diucapkan oleh salah seorang kekasih kepada pasangannya saat salah satu diantara mereka hendak pergi. Tidak ada kalimat lain yang lebih romantis daripada hal itu. Iya, seharusnya seperti itu. Namun sayangnya tidak bagi Naila. Dia sangat buruk saat melakukan perpisahan.

Tidak ada kalimat yang terucap selain pandangan mata memandang ke arah tanah lalu mengaggukkan kepala. Seperti orang Jepang yang menunjukkan sikap sopan kepada orang lain. Perpisahan tanpa kata yang selalu Naila lakukan kepada kekasihnya atau mantan-mantan kekasihnya.

Naila adalah perempuan muda yang masih menempuh jenjang karir. Dia tergolong junior di kantornya karena baru saja lulus dari perguruan tinggi di tahun lalu. Pekerjaan yang dia lalukan adalah memasukkan data penjualan ke dalam laporan keuangan. Iya, latar belakang pendidikannya sejak lulus dari kuliah adalah seorang Sarjana Keuangan.

“Kita selesai saja, bagaimana?” Kata Andre, kekasih Naila. Kalimat perpisahan sederhana yang disambut dengan reaksi biasa oleh Naila di sebuah Kedai Kopi dekat alun-alun kota.

“Saya minta maaf, Naila. Saya minta maaf karena gagal membuat kamu selalu bahagia.”

“Iya tidak apa-apa. Saya juga terima kasih untuk segalanya. Terima kasih juga karena sudah memberikan saya pengalaman untuk pernah memanggil kamu dengan kata ‘sayang’ meski sekarang kamu ingin selesai.”

Wajah datar Naila memberikan isyarat bahwa dia sebenarnya sedang apa-apa. Berbanding terbalik dengan kalimat yang dia ucapkan kepada Andre.

Malam itu, hubungan mereka benar-benar selesai. Tidak ada lagi kalimat hati-hati di jalan, selamat malam, dan kata ‘sayang’. Yang tersisa hanyalah kesendirian di bawah lampu remang kamar tidur dengan lampu neon berwarna biru tua dan merah redup. Kamar Naila yang sempat dia hias sendiri untuk membahagiakan dirinya sendiri sejak waktu masih mengerjakan skripsi.

Rutinitas yang terjadi sejak berakhirnya hubungan mereka berdua tidak berubah. Andre sibuk dengan dunia kerjanya, begitu juga dengan Naila yang sibuk dengan laporan di kantornya. Memang tidak semua hal yang berakhir itu ada sangkut pautnya. Meski hubungan mereka selesai, masih ada hidup di hari esok yang tetap harus dilalui. Kata patah hati dan kecewa sudah biasa bagi Naila. Dan ya, tidak apa. Mungkin menangis beberapa saat di dalam kamar sudah cukup untuk mewakilinya.

Dua bulan sejak perpisahan, ada seseorang yang mengetuk pintu hati Naila. Seseorang yang setiap malam dia sempat titipkan namanya kepada tuhan dan meminta untuk dipertemukan.

“Saya ingin dia, Tuhan. Pertemukan kami berdua dengan caramu yang indah.”

Namanya Nur. Bak cahaya yang selalu terang, Nur datang ke dalam hidup Naila dengan tiba-tiba. Di antara ramai kota saat sedang memilih bacaan di sebuah toko buku, Nur menyapa Naila tanpa menyebut namanya.

“Kamu yang pernah minta tanda tangan waktu itu ya?”

Ketika masih berpacaran dengan Andre, Naila sempat datang ke salah satu gala premier penerbitan buku perdana. Buku yang bertulisakan nama Nur di halaman sampul depannya.

“Kenapa kamu suka sama penulis ini?” tanya Andre ketika hendak mengantarkan Naila ke tempat acara.

“Tulisannya bagus. Saya suka. Kamu harus baca nanti.”

“Tidak ah, saya kurang suka membaca. Lebih baik kamu yang menceritakannya dan saya mendengarkannya. Itu lebih baik daripada saya yang harus baca sendiri.” Setiap pasangan pasti ada perbedaannya. Salah satunya adalah perbedaan hobi diantara mereka. Seperti Naila yang suka membaca dan Andre tidak suka. Namun saat itu mereka berdua masih saling memaklumi dan memahami.

Pertemuan pertama Nur dan Naila terjadi di toko buku. Dan pertemuan ke dua mereka juga terjadi di sana. Kadang tuhan sudah menetapkan takdir di setiap tempatnya. Dan tidak apa, itu kuasanya. Mungkin doa Naila setiap malam baru dikabulkan ketika hubungannya dengan Andre sudah selesai. Tuhan memang tau caranya bercanda dan membuat Naila tersenyum.

“Kamu penulis buku yang waktu itu, ya?” Tanya Naila yang berdiri di lorong rak buku.

“Benar, ternyata saya tidak salah orang. Tapi maaf, saya lupa nama kamu.”

Nur dan Naila berkenalan. Saling memberi tahu nama masing-masing meski Naila masih ingat dengan jelas siapa nama Nur dan judul buku miliknya. Nur sempat bercerita bahwa buku yang waktu itu adalah buku pertamanya, cetakan pertama yang langsung laris 1000 exemplar dan menjadi best seller.

Percakapan mereka berdua berlanjut tidak hanya sampai cerita di toko buku. Bertukar kontak dan mulai saling mengirim pesan, membuat kesan tersendiri bagi Naila. Sejak hubungannya selesai dengan Andre dua bulan sebelumnya, Naila jarang sekali tersenyum. Patah hati yang dia derita membuatnya menutup semua pintu untuk siapapun yang mau masuk.

“Jadi, kapan mau terbitin buku lagi?” Tanya Naila kepada Nur, saat mereka menghabiskan waktu hari libur di taman hiburan. Dua cup ice cream menjadi sajian manis untuk mereka nikmati berdua.

“Saya masih tulis draft nya. Udah beberapa kali saya ajukan, masih ada revisi.”

“Memangnya tema yang kamu angkat itu apa?”

“Temanya biasa sih, romansa. Kisah-kisah romantis.”

Ingin rasanya bagi Naila untuk menjadi karakter utama dari tulisan Nur. Namun Naila terlalu takut untuk meminta. Dia hanya merasa bahwa dirinya bukan siapa-siapa untuk di jadikan tokoh utama di dalam buku milik Nur. Dia sadar bahwa sadar diri itu perlu untuk beberapa hal termasuk dengan perasaannya kepada Nur.

Naila suka dengan Nur. Dia suka lebih dari sekedar penikmat novelnya. Dia juga suka dengan penulisnya. Dengan Nur. Dengan bagaimana caranya menyatakan isi dalam kepalanya untuk menjadi sebuah tulisan dalam bukunya.

“Kamu sudah pernah punya pasangan, Nur? Kok tulisan kamu tentang hal romantis-romantis?” Naila memberanikan diri untuk bertanya.

“Sebenarnya, saya menulis karena saya ingin sekali punya pasangan. Kamu tau Naila, setiap orang itu selalu ingin merasakan apa yang belum sempat mereka rasakan. Dan bagi saya, salah satu cara untuk mewujudkannya adalah melalui tulisan. Sejak dulu saya suka berandai-andai, namun saya tidak pernah mendapatkan apa yang saya inginkan itu. Maka sebab itu saya mulai menulis untuk bisa dibaca oleh orang banyak. Siapa tau, setiap apa yang saya tuliskan menjadi doa yang terucapkan melalui mulut orang lain.”

Begitu cara Nur, memperbanyak doanya. Dia punya cara tersendiri untuk melakukan ihtiar kepada tuhan. Melalui tulisannya, Nur berdoa dan mengajak orang lain yang membaca tulisannya untuk ikut membantunya berdoa.

“Kalau begitu, harapan apa yang kamu taruh dalam buku pertama kamu kemarin, Nur?”

“Waktu itu saya menulis sambil berharap untuk saya mendapatkan pasangan. Namun sepertinya belum dikabulkan oleh tuhan.” jawab Nur sambil tersenyum kemudian tertawa kecil setelahnya.

Tapi tuhan selalu punya cara untuk mewujudkan doa setiap hambanya. Termasuk doa Nur yang dia selipkan di novel pertamanya. Karena beberapa malam setelah hari bersama Naila di taman hiburan, sesuatu terjadi begitu cepat. Melalui sebuah pesan singkat dari Naila yang dia kirim kepada Nur.

“Saya sedang senggang malam ini. Mau temani saya makan malam?”

Di restoran Jepang, dengan dua mangkok ramen yang sudah kosong. Naila dan Nur bercerita banyak hal. Tentang apa saja. Tentang hal yang kemudian mereka tertawakan setelahnya bersama-sama. Tentang pekerjaan yang tiada henti untuk menyelesaikan sebuah deadline atau teman satu kantor yang menjengkelkan namun selalu sepi tanpa kehadiran mereka.

Di akhir malam itu, Naila dengan berani mebcoba untuk bertanya kepada Nur, “Kalau doa kamu terkabulkan untuk punya pasangan, apa yang kamu akan lakukan?”

Nur berpikir sejenak. Memutar matanya ke atas, lalu menghela nafas untuk sesaat. “Hmm.. apa ya? Saya belum tau. Hehehe.”

“Yah, pantas saja kalau begitu. Kamu belum ada rencana, jadi tuhan belum bisa kabulkan. Coba bikin rencananya.” Jelas Naila yang mencoba memberikan masukan.

“Ah, mungkin kamu benar Naila.” Sigap Nur menjawab sambil menghentakkan tangannya seolah memukul angin, menemukan jawaban dari hal yang belum sempat dia dapatkan.

“Sekarang saya tau harus apa ketika tuhan memberikan saya pasangan,” Nur berkata dengan penuh semangat.

“Apa?” Naila bertanya.

“Menikahinya.”

Mendengar jawaban Nur itu, Naila tertawa. Dia merasa lucu dengan jawaban Nur itu.

“Sekarang, pertanyaannya dengan siapa?”

“Nah, itu yang belum saya tau, Naila. Saya masih belum ketemu jawabannya.”

Naila berhenti tetawa dan hanya menimpa dengan senyum di wajahnya. Dia berharapa ada keberanian dalam dirinya untuk berkata, “bagaimana kalau dengan aku saja?” sayangnya hal itu tidak terjadi dan berakhir hanya sebagai harapan kosong dalam hati Naila.

“Tidak apa-apa Nur,” jawab Naila.

 

*SELESAI*

Komentar

Postingan Populer