NAMAKU ARUNIKA
Bagaimana kalau seorang remaja cewek menembak atau mengutarakan perasaanya terlebih dahulu kepada cowok yang membuat si cewek itu jatuh cinta? Karena dari pengalaman teman-teman cewekku, mereka selalu gengsi jika cowok yang mereka sukai bahkan sering pergi kencan dengan mereka tak kunjung mengikatnya dengan status hubungan yang jelas. Malu katanya. Tapi bagi aku itu bukan sebuah masalah.
Namaku Arunika. Yang berarti matahari pagi yang terbit dari timur, itu kata orang tuaku yang memberiku nama. Perjaanku saat ini adalah sebagai penulis cerita novel dengan genre romantis. Gaji bulananku cukuplah untuk kehidupan sehari-hari dan membayar tagihan pajak secara rutin. Kesukaan ku pada dunia tulis aku mulai sejak duduk di bangku SMP dulu. Waktu itu awal aku menulis karena ada sebuah surat di loker meja tempat aku duduk. Kiriman itu berupa puisi yang indah. Aku masih ingat dengan betul nama pengirimnya. Dia adalah cinta pertamaku saat aku kuliah dulu.
Sena Malik Ibrahim. Nama seorang cowok yang saat itu mengirimiku surat puisi sewaktu SMP dulu. Aku dan Sena adalah teman SMP yang hanya saling sapa, tapi menjadi pacar sekaligus mantan pertamaku semasa hidupku. Dia kini bekerja di sebuah perusahaan asing ternama, tempat nya bekerja adalah tempat dimana kalian dapat menjangkau informasi secara online. Jika kalian berpikir itu adalah Google, kalian benar. Aku akui dia itu pintar karena dia dulu sempat menjuari lomba coding tingkat nasional ketika SMK.
Kisah cintaku bersama Sena bermula ketika aku kuliah. Waktu itu pukul 9 pagi. Kegiatan pra-study kampus berlangsung. Aku datang terlambat karena aku bangun kesiangan. Kakak tingkatku juga keras-keras nada bicaranya. Ada salah satu kakak tingkat yang katanya kejam kepada adik tingkatnya. Namanya Kak Rangga. Mahasiswa Fakultas Informasi Teknologi Universitas Indonesia. Oh iya aku lupa belum memberi tau nama kampusku dan apa jurusan yang aku ambil waktu itu. Aku kuliah di Univesitas Indonesia Fakultas Informasi Teknologi. Sama dengan Kak Rangga dan Sena.
Kembali ke cerita dimana aku terlambat di hari pertama aku masuk kuliah. Kak Rangga memarahi lalu dia bilang, “Kenapa kamu terlambat?” dengan suara yang membentakku. Aku meminta maaf atas kesalahanku. Tapi dia tidak menerimanya, alhasil Kak Rangga memberiku hukuman sit-up 10x waktu itu. Saat hendak menjalani hukuman, seorang cowok mendekat ke arah ku. Dia bilang, “Sudah kamu nggak usah sit-up biar aku aja, aku nggak mau kamu kecapekan.” Spontan aku kaget mendengar suaranya yang tidak asing di telingaku. Saat aku menoleh dan menatap wajah cowok itu aku terkejut bukan main. Dia adalah Sena, teman SMP yang dulu mengirimi aku surat puisi.
Setelah dia menggantikan posisiku yang terkena hukuman dari Kak Rangga. Dan kegiatan pra-study berakhir. Aku semakin dekat dengan Sena, bertukar nomor hp, Kaman siang di kantin bersama hingga saling membantu mengerjakan tugas dari dosen yang sama di malam hari. Aku lakukan berdua bersama Sena. Senang aku menikmati waktu-waktu itu. Kalau kata orang yang melihat kami berdua itu seperti dua insan yang terkena lem, selalu merekat satu sama lain. Tapi menurutku kami berdua seperti rembulan dan bintang. Saling menjadi cahaya di waktu malam tiba, dan jika salah satunya menghilang merasa ada yang kurang. Filosofi romantis dariku. Tapi aku lebih suka filosofi milik Sena. Katanya kalau dia bersamaku itu seperti dia memegang kertas dengan pena, dia bisa menuliskan puisi romantis sebebas-bebasnya ketika melihat aku tertawa. And he saying to me, “you’re beautiful if you showing to me your real smile.” Aku suka itu.
Semester demi semester aku mewati bersama Sena, saat aku senang dia tertawa dan saat aku sedih dia membuatku tertawa. Intinya dia selalu hadir untuk melihat aku tertawa. pernah aku bertanya kepada Sena kenapa dia suka membuatku aku tertawa.
“Apa alasan kamu selalu membuat aku senang?” tanyaku kepada Sena sambil menatap wajahnya.
“Coz, you’re my shoulder. Aku selalu bisa bersandar saat kamu tertawa, bagiku tawa kamu itu membuat semangatku kembali. And the other side, you’re my vacation place. Tempat dimana aku bisa menemukan kebahagian seperti taman bermain pribadi.” Kata Sena yang memberiku jawaban pasti akan alasannya kenapa dia selalu membuat aku tersenyum.
Tanpa pikir panjang, aku bilang kepada perasaanku yang sesungguhnya. Perasaan yang aku simpan sejak SMP dulu.
“Sena apa kamu masih ingat saat aku menemukan puisi romantis yang ada di dalam lker meja sewaktu kita masih SMP dulu?” tanya ku ke Sena.
“Oh puisi itu? Aku ingat kok. Itu puisi yang iseng aku tulis lalu aku bingung mau kirim kepada siapa. Jadi aku taruh saja di loker meja kamu. Memang nya kenapa?” tanya sena setelah menjawab pertanyaanku.
“Aku suka ke kamu dari waktu itu.” Kataku kepada Sena lirih.
“Sebelum kamu bilang suka sama aku sekarang. Aku sudah lebih dulu suka sama kamu Ika. I love you first, before you say love to me now.” Balas Sena sambil menatap kedua bola matuku dalam-dalam.
“Ayok pacaran.” Ajakku ke Sena.
Posisi kami yang saling berhadapan itu mengajak kami untuk saling memajukan kepala masing-masing. Mendekat secara perlahan sambil memejamkan mata. Sena membalas iya dangan cara yang berbeda. Bibir Sena menyentuh bibirku. Pengalaman pertamaku merasakan bibir cowok yang aku suka. Dan kalian pasti tau jawaban dari ajakan pacaran antara aku dengan Sena bagaimana. Semenjak malam itu Sena Malik Ibrahim adalah milikku.
Itu adalah momen yang tidak dapat aku lupakan. Memorinya aku masukkan ke dalam kotak ingatanku lalu ku kunci rapat-rapat hingga tidak ada yang bisa membukanya. Momen pertama kalinya aku menembak cowok dan lansung diterima dengan tindakan diluar dugaanku. Aku menunci kotak ingatanku itu selamanya. Sena pacarku yang aku sayangi hingga saat ini. Meski sekarang hubunganku dengan Sena telah usai. Dimana dulu aku dan Sena selalu dekat sampai waktu hubunganku berakhir tanpa benang merah yang melepas ikatannya.
Semester akhir kuliah, dimana aku sedang sibuk menyelesaikan skripsi untuk meraih gelar sarjana ku. Sena bilang ke aku kalau dia diterima di perusahaan tempat impiannya bekerja. Dia bilang, “Ika, aku berhasil diterima kerja di Google. Penempatan pertamaku kerja langsung di Amerika. I’m so happy with it.”
Aku yang mendengar kabar itu langsung dari dia merasa bengga, karena dia bisa langsung kerja setelah lulus dari kuliah. Tapi di lain sisi aku merasa kecewa terhadapnya, dia tidak bilang kepadaku sebelumnya soal lamaran kerja nya.
“Kamu kok enggak bilang sebelumnya soal lamaran kerja kamu ini?” tanyaku ke Sena.
“Kamu enggak senang kalau aku sudah diterima di Google? Ini impian aku dari dulu Ika. Kamu tau kan?” balas Sena kepadaku.
“Aku tau itu Sena. Tapi masalahnya bukan itu. Aku senang kamu sudah dapat kerja di tempat impianmu. Tapi aku kecewa karena kamu enggak bilang ke aku sebelumnya kalau kamu melamar kerja di sana. Dan penempatan kerja kamu bukan di Indonesia.” Kataku sambil menahan air mata yang hendak jatuh karena perasaan yang bercampur aduk karena Sena.
“Aku nggak bermaksud menyembunyikannya dari kamu Ika. Hanya ingin memberimu kejutan kalau aku sudah dapat kerja sebelum aku lulus kuliah.” Balas Sena sambil mengusap air mataku.
“Kamu akan pergi jauh Sena. Aku takut kalau aku nggak akan kembali lagi.” Kataku dengan air mata yang telah jatuh membasahi pipi.
Sena lalu memelukku dan bilang kalau akan kembali ke Indonesia suatu saat nanti. Saat itu emosiku meluap, air mata jatuh semakin deras membasahi pipiku. Aku melepaskan pelukan Sena waktu itu. Mengemasi barang-barangku lalu pergi meninggalkan Sena tanpa berucap satu kata pun. Aku kecewa sekaligus benci dan takut kepada Sena. Semenjak itu hubunganku dengan Sena berakhir. Aku tau, berat untukku kehilangan orang yang aku sayang sejak dulu. Tapi aku juga tidak bisa menyayangi orang dari jarak jauh. Hingga saat ini, aku tidak tau kabar mengenai Sena. Hanya melalui cerita ini aku dapat mengenangnya sebagai pelabuhan paling nyaman yang bisa aku singgahi selama aku hidup.
Komentar