PENDUDUK LANGIT JUGA IKUT BERDOA
“Perjalanan ini sepi kalau kamu tempuh sendiri. Maka dari itu berdoalah. Siapa tau, doa yang kamu panjatkan dijawab dengan penuh keberkahan. Menagislah sejadinya diatas sajadah tempatmu bersujud. Siapa tau, air yang menetes dari matamu itu menjadi sungai yang mengalir di surgamu.”
Langit seraya memancarkan sinarnya melalui pancaran bintang yang tak hingga jumlahnya. Seseorang sedang memandangi keindahannya jauh dari tanah bumi yang dia pijak. Termenung menatap gemerlap bintang sendirian. Setidaknya, Dewa masih sempat merasakan tenang setelah ramai dunia siang menghantamnya.
“Bagaimana bisa, deadline yang seharusnya bisa selesai kemarin. Sampai hari ini masih belum selesai?”
“Saya tidak mau tau, bagaimana cara kamu menangani ini semua. Kamu yang bertanggung jawab. Kamu yang harus menerima resikonya.”
Begitu kalimat panjang yang harus Dewa dengar dengan kedua telinganya ketika tugas yang telah diberikan kepadanya tidak selesai sesuai dengan terget yang direncanakan. Tegas Ibu Arita menjelaskan panjang lebar seharian di dalam ruangannya, siang tadi.
Beberapa orang yang mengetahui hal itu hanya dapat diam. Tidak menasihati, tidak menenangkan, apalagi menolongnya. Tidak ada dari mereka yang perduli karena setiap orang juga punya masalahnya sendiri-sendiri.
Sore hari, panggilan masuk dari anggota keluarganya. Memberitahu tentang kabar duka atas kepergian sang ibu secara tiba-tiba. Adiknya yang bernama Fara menghubunginya, “Mas, ibu berpulang.” Dengan nada tersedu dari suara sang adik.
Dewa hanya bisa diam terpaku. Tidak berbicara sepatah katapun. Hanya mendengarkan isak tangis adiknya itu setelah memberikan kabar kepergian sang ibu. Panggilan yang belum sempat tertutup dan Dewa membalas berkata, “Mas pulang sekarang, Dik.”
Terlambat. Sesampainya di rumah duka yang dulu sempat cerita dengan canda tawa seluruh anggota keluarga, kini ramai dengan orang berziarah. Membaca surah yasin. Dan dari luar pintu rumah, nampak tubuh yang telah dibaringkan. Dengan kafan yang telah mengerukupi seluruh tubuh dan hanya menyisakan bagian wajah putih pucat sang ibu.
“Ibu. Dewa pulang. Dewa pulang, bu.”
Air matanya terurai panjang bak aliran sungai dari hulu menuju hilir. Dewa tak mampu menahan sedihnya. Hari yang berat bagi dewa harus dilalui bersamaan. Kecaman dari atasan, pikiran yang berlebihan, dan sebuah kepulangan sosok paling dia sayang terjadi dalam satu waktu sekaligus.
Dewa, nama yang terdengar kuat jika disandingkan dengan namanya. Namun Dewa yang kehilangan ibunya mampu jatuh dari singgasana tempat dia duduk. Tidak ada lagi kata pulang. Tidak ada lagi tempat berpelukan. Kini kesepian melanda datang dengan ketakutan. Yang Dewa lakukan hanyalah mendekat kepada pemilik kehidupan.
Di ruangan kecil berukuran tiga kali tiga meter. Dewa menggelar sajadahnya. Dia memulai sholatnya dengan takbir lirih. “Allahuakbar”.
Dadanya perih. Nafasnya sesak. Hingga akhir sholat, Dewa terus menjatuhkan air matanya. Berharap tak ada yang tau karena dia sengaja bersembunyi di ruang sempit, namun Tuhan tidaklah buta dan tuli. Tuhan tau dan dia mengetahui. Bagaimana rasanya menjadi seorang Dewa tanpa kekuatan.
“Tuhan. Kalau engkau telah menetapkan ini semua, aku terima dengan lapang dada. Semoga engkau tempatkan Ibu di tempat paling mulia. Engkau yang maha mendengar dan penuh kasih sayang, aku memohon. Untuk ibu dan untuk keluargaku.”
*SELESAI*
Komentar