Puncak 2868 MDPL
Namanya Kania. Impiannya sederhana. Tersenyum menjadi sebuah hobi untuknya. Teman-temannya sering memanggilnya ‘Nia’. Kata ramah sudah seperti kehidupan bagi dirinya di mata banyak orang. Suka membantu bukan lagi sekedar kewajiban. Keluarganya menekannkan apa itu murah hati. Dua puluh tiga tahun dia telah hidup. Semua hal yang terkesan baik-baik saja mulai berubah pelan-pelan.
Perantauan. Tuntutan pekerjaan. Jauh dari yang disayang. Menjadikan Nia kini sendirian. Kesepian hadir dengan tidak diundang. Satu catatan kecil dia selipkan di dalam dompetnya. Kata rindu pulang dia lantunkan ketika malam sedang penuh bintang. Semangatnya dia coba untuk jaga hingga lelap menutup paksa kedua matanya.
“Semuanya akan baik-baik saja. Dan akan tetap selalu sama.”
Ponselnya berbunyi. Notifikasi pesan masuk. Sebuah kabar dari kawan lama Nia baca. Ajakan pergi melakukan pendakian dia terima. Senyum terpampang nyata dari wajah manisnya.
“Besok kita pergi sama-sama. Aku jemput kamu, ya.”
“Jadi ke gunung mana?”
“Kamu ikut aja. Kali ini puncak gunungnya punya indah yang sama kayak senyum kamu.”
Teman masa sekolah yang mengajaknya melakukan pendakian itu bernama Arga. Teman satu kelas sekaligus teman dekatnya. Tidak menyangka Nia akan mendapat ajakan secara dadakan. Meski begitu dia tetap mengiyakan. Batinnya mengira mungkin dia bisa melepas kesendirian ketika tekanan pekerjaan tidak ada berhentinya.
“Perjalanan dimulai. Kita berangkat sama-sama.”
“Kamu tau, Nia, apa yang seru dari sebuah pendakian?” tanya Arga kepada Nia sebelum memulai perndakian. Di loket pendaftaran, mereka berdua bersiap dengan mengecek perbekalan masing-masing. Kebutuhan yang seharusnya ada dalam tas mereka harus disiapkan sebelum memulai perjalanan mereka.
“Sudah pasti pemandangan indah yang ada di puncak gunungnya kan?” jawab Nia dengan rasa senang tak tertahankan. Nia membayangkan bagaimana indahnya puncak gunung ketika mereka sampai di sana nanti. Seperangkat alat untuk berfoto ria, dia siapkan di dalam tasnya. Nia ingin mengabadikan momentum ketika sampai di puncak gunung menggunakan kamera miliknya.
“Iya, sampai di puncak itu memang tujuan utamanya. Tapi bukan itu yang seru. Yang seru dari pendakian adalah proses menuju puncaknya.” Agra selesai bersiap. Tasnya dia taruh ke pundaknya.
“Nanti akan ada fase dimana kamu merasakan capek. Tapi jangan nyerah buat bisa sampai ke puncaknya, ya.” Arga memberikan semangat sambil tersenyum ke arah Nia. Perjalanan mereka menuju puncak gunung dimulai.
“Menuju Pos 1 Pendakian. Belum sampai tujuan.”
Nia dan Arga berjalan beriringan. Langkah kaki mereka bergantian dan terus menapak tanah, langkah demi langkah. Sudah masuk jauh ke dalam hutan, pos pendaftaran tidak lagi kelihatan. Cuaca cerah, angin juga memberikan semilirnya. Dua manusia itu sumringah sambil sesekali mengobrol dan tertawa.
“Ini perjalanan menuju pos 1 itu berapa lama?” tanya Nia kepada Arga yang berjalan di sampingnya.
“Kira-kira satu jam setengah dari pos pendaftaran tadi. Nggak terlalu lama,” jawab Arga.
“Kita masih lama?”
“Yaa.. kalau dari posisi kita sekarang seharusnya masih butuh satu jam lagi buat bisa sampai ke pos 1.”
Nia menggumam dalam benaknya, “ternyata masih jauh.”
“Tenang.. kalau kamu menikmati prosesnya, nggak akan terasa kok.”
Langit biru dengan beberapa awan tipis nampak jelas oleh mata. Dedaunan hijau dari rindang pepohonan meneduhkan langkah mereka. Jam masih sore, belum menunjukkan waktu petang akan datang cepat. Tapi Nia sudah tidak tahan dengan perbekalan yang dia bawa. Terlalu berat katanya.
“Kita istirahat dulu, ya,” sahut Nia dari belakang Arga yang berjalan di depannya.
“Nah, kamu kalau capek lebih baik bilang kayak gini, nggak apa-apa.”
“Iya, aku capek. Kita istirahat sebentar, ya.”
Nia duduk di bawah salah satu pohon besar yang tumbuh dengan ranting dan daun hijau yang rimbun. Teduh rasanya. Meski berkeringat, namun Nia mencoba menikmati prosesnya. Air minum dia keluarkan dari sisi tasnya.
“Gimana? Capek?” tanya Arga kepada Nia yang selesai minum.
“Capek sih. Tapi nggak masalah. Ini masih perjalanan menuju pos 1. Pemandangannya juga bagus dari sini. Aku jadi semakin nggak sabar buat sampai ke puncak.”
Mereka berdua bersandar. Duduk berdampingan tidak saling memandang. Mata mereka tertuju pada keindahan dunia dengan langit biru yang luas. Meski tertutup oleh beberapa dahan pohon. Mereka berdua bersyukur dan tersenyum bersama-sama.
“Pos 1 Pendakian. Lelah. Pelan-pelan.”
Beberapa orang sudah berdiri di sana. Ada tenda yang terpasang. Sebagian yang lainnya hanya menumpang untuk lewat saja. Beberapa lainnya saling menyapa ketika berpapasan.
“Kita istirahat dulu atau tetap lanjut?” tanya Arga memberikan pilihan.
“Memangnya berapa lama lagi buat sampai ke puncak?” dengan nafas yang Nia coba untuk atur kembali karena kelelahan, dia bertanya.
“Kalau kita sudah di pos 1. Jarak buat sampai ke puncak kira-kira sekitar empat jam jalan kaki.”
“Masih lama, ya..” Nia membaringkan tubuhnya. Meletakkan tas yang dia bawa ke tanah. “Kita istirahat dulu deh, gimana?”
“Ya nggak apa-apa. Tapi semakin lama kita istirahat, semakin lama juga buat sampai ke puncaknya. Kamu nggak apa-apa?”
“Yahh.. kepalang tanggung sih. Tapi lima menit aja buat istirahat di pos 1, nggak apa-apa ya?”
“Iya. Nggak apa-apa.”
Selama istirahat di pos 1, Nia dan Arga berbicara banyak hal. Tentnag pekerjaan dan kesibukan mereka masing-masing. Tentang bagaimana kondisi di kantor masing-masing.
Arga dan Nia sudah lama tidak bertemu. Sudah enam tahun lamanya. Terakhir kali mereka bertemu dan saling bercerita adalah ketika mereka akan lulus dari sekolah menengah atas. Yang Nia ingat saat itu, Arga hanya menyampaikan bahwa dia akan melanjutkan kuliahnya di luar negeri.
“Oh iya, kuliah kamu dulu gimana? Jadi ambil jurusan managemen?” Nia membuka obrolan ketika Arga duduk di sampingnya.
“Jadi kok. Bersyukurnya sekarang aku udah lulus.”
“Kamu jadi ambil kuliah di mana, Ga?”
“Nggak jauh-jauh. Kebetulan waktu aku habis SMA, ada program beasiswa buat ke Australia. Aku coba daftar dan ikut seleksinya, eh lolos dan bisa berangkat. Jadi kuliahku sepenuhnya ditanggung sama beasiswa.”
“Wah hebat kamu. Aku jadi iri,” Nia memanyunkan bibirnya sesaat. Lalu kembali tersenyum, “tapi nggak apa-apa. Lagian aku juga udah lulus.”
“Oh iya, kamu kuliah ambil jurusan apa?” tanya Arga.
“Aku ambil Arsitektur sih. Karena dari kecil aku suka gambar, jadi aku ambil jurusan itu. Dan orang tua juga setuju.”
“Keren kamu, Nia.”
“Pos terakhir. Puncak gunung sudah terlihat. Berapa lama lagi?”
“Ini kita masih lama? Udah berapa jam dari pos tiga tadi?” tanya Nia dengan nafas yang tidak lagi bisa dia atur.
“Dikit lagi sampai puncak kok. Sabar.”
Waktu sudah petang. Bintang-bintang mulai muncul bertaburan. Bulan tidak lagi menyapa dengan terang. Hawa dingin tidak terasa. Keringat justru membasahi tubuh. Lelah dan letih bersatu dalam tubuh. Kaki yang sudah bergetar namun tetap melangkah. Perlahan ingin rasanya menyerah.
“Berapa lama lagi, Ga? Masih jauh nggak?”
Tubuh Nia sudah benar-benar lelah. Dari jauh ada beberapa cahaya kecil menyala. Kata Arga, itu kota mereka berangkat tadi. Terlihat kecil dari atas gunung padahal penuh gedung-gedung tinggi di sana.
Arga menunjuk ke arah kota yang kecil itu. “Kamu tau nggak, Nia. Kalau kita ini sebenarnya kecil dan nggak bisa apa-apa selain berusaha. Kalau kamu sadar, kamu yang sekarang adalah kamu yang sama ketika ada di sana.”
Nia yang tidak kuat karena lelah akhirnya menjatuhkan dirinya sendiri ke tanah. Dia menoleh ke arah yang Arga tunjuk. Lampu-lampu kota yang kecil. Nia mendengarkan ucapan Arga itu dengan perenungan hingga memunculkan sebuah pertanyaan.
“Lalu kenapa?”
“Coba deh kamu pahami, kamu yang ada di samping gedung tinggi yang ada di kota sama kamu yang ada di sini. Mungkin jika kamu ada di samping gedung itu, kamu nggak akan bisa lihat atapnya. Tapi kalau kamu lihat dari sini, kamu nggak hanya lihat atap gedung itu aja. Kamu bisa lihat dunia yang lebih luas juga.”
Nia membatin, “apa hubungannya?”
Melihat Nia yang sudah lelah, Arga memutuskan untuk bermalam di tempat mereka berhenti saat ini. Tenda dia keluarkan dari dalam tasnya. Dia rakit tenda itu perlahan. Merangkai bingkai demi bingkai, menyelimuti dengan kain tenda. Lalu terakhir menancapkan pasak ke dalam tanah.
Tenda telah berdiri. Api kompor portable telah menyala. Minuman hangat tersaji di genggaman. Arga dan Nia menikmati sisa malam di pos pendakian terakhir berdua. Rasa sepi yang selama ini dirasakan oleh Nia, lenyap seketika. Langit penuh bintang mengantarkan mereka ke obrolan panjang sebelum menuju puncak gunung.
“Puncak. 2868 MDPL”
Kalau saja menyerah lalu kembali. Mungkin pemandangan indah ini tidak akan didapatkan. Kadang perjuangan yang kita rasa berat dan ingin menyerah, sering menipu diri kita sendiri. Padahal jika kita nikmati prosesnya, kita akan sampai pada ujungnya.
Matahari terbit dari ufuk timur dengan warna merah yang merekah. Sinar langit berubah merona ketika malam berpamitan kepada fajar pagi. Bulan tidak langsung menghilang. Bintang yang semalam bertebaran, kini kalah bersaing cahayanya. Hawa segar tanpa polusi mengembalikan tempo nafas Nia ketika sudah berada di puncak gunung.
“Selamat datang di puncak dengan ketinggian 2868 MDPL, Nia,” kata Arga menyapa Nia yang berhasil mengalahkan dirinya sendiri untuk bisa sampai puncak.
*SELESAI*
Komentar