SENDIRI DULU
---
“Jika bicara tentang kita yang sekarang
Tak ada lagi bayangnya”
---
ASING. Sepertinya itu kata yang pantas untuk kita yang pernah sama-sama dekat lalu menjauh hingga akhirnya tanpa kabar sama sekali. Kata yang cocok untuk berpura-pura tidak pernah saling kenal padahal dulu sering sekali berbagi cerita ketika masih sering bersua.
Aku masih ingat bagaimana rasanya aku ketika kamu bercerita tentang urusanmu kepadaku. Rasa semangat yang menggebu ketika kamu sedang bergembira. Menceritakan semuanya tanpa ada sedikit celah untukku menyanggah.
“Dengerin dulu, aku mau cerita. Hari ini..” setidaknya begitu kata kamu kepadaku ketika kamu sudah dalam posisi ternyaman di atas meja yang sama dan kita saling duduk berhadapan. Di kedai kopi, di kafe tua atau modern, atau mungkin ketika kita duduk bersila di bawah pohon rindang taman kota.
Kamu memulai ceritamu dengan penuh semangat. Bahkan bara api dari rokok yang aku nyalakan tidak mampu menandingi betapa bahagianya dirimu ketika bercerita. Sedangkan aku hanya mendengarkan setelah kamu bilang, “matikan rokoknya. Nanti asapnya ganggu.”
Terlalu bahagianya aku mendengarmu bercerita, aku hanya mampu menatap wajahmu yang indah itu sambil tersenyum. Mungkin suasana hatiku waktu itu juga didukung oleh angin yang berhembus pelan mengibaskan rambutku. Tidak dengan rambutmu karena tertutup rapat oleh kain yang selalu selaras warnanya dengan baju yang kamu pakai.
---
“Tak terpungkiri rasa bahagia ku dikala kita merebut hari”
---
Kata ‘selamat pagi’ tidak luput aku ucapkan kepadamu meski hanya melalui pesan singkat yang kemudian kamu balas di tengah hari. Alasannya, “maaf aku baru bangun.” Dan tidak apa, karena sebelum lima menit berlalu, aku lekas memberikan kabar bahwa, “tidur kamu berapa jam? Baru bangun jam 10 siang?”
“Ya, namanya juga mahasiswa tingkat akhir yang masih nunggu wisuda dan belum dapet kerja. Pasti banyak waktunya untuk mengejar mimpi, dong,” emoticon tertawa tidak lupa kamu kirimkan di pesan berikitnya.
“Itu namanya pengangguran,” balas pesanku serupa dengan memberikan emoticon tertawa juga.
Di tengah malam yang seharusnya penuh dengan bintang namun tertutup awan. Kita masih sempat untuk saling memberikan kabar. Dongeng sebelum tidur kadang aku berikan ketika kita sedang melakukan panggilan berdua.
“Ceritanya tentang patah hati terus, ah.. nggak ada cerita lainnya?”
“Ya gimana lagi? Aku belum pernah punya cerita cinta sendiri. Gimana kalau kamu yang cerita dan aku yang dengerin?” kataku dengan tertawa untuk selalu membuat cair suasana. Biasanya ketika suasana sudah cair, kamu juga ikut tertawa. Dan di saat itulah aku merasakan bahwa bahagia tentang cinta itu sesederhana itu.
---
“Tak kasat mata kau menghilang
Menyisakan lara”
---
Waktu terus berlalu, kita sebenarnya masih saling berbicara dan berbagi cerita. Namun benar kata Marcell dalam lagunya yang berjudul ‘Firasat’ yang dalam penggalan liriknya bilang, “firasat ini, rasa rindukah atau tanda bahaya?” karena tiba-tiba saja aku merasakannya. Seperti ada yang salah. Rasa tidak enak bercampur dengan degup yang tidak bisa berhenti.
Satu penggilan tidak terjawab. Dua panggilan tidak terjawab. Lima panggilan tidak terjawab. Pesanku tidak kamu balas sekian jam. Satu hari kamu menghilang. Dua hari kamu baru memberikan kabar kembali.
“Maaf, aku kemarin main sama temen aku.”
“Kasih kabar satu hari aja memang nggak bisa kah?”
“Maaf.”
“Aku telpon juga nggak kamu angkat. Padahal panggilannya masuk. Kamu kenapa?”
Tidak ada balasan selanjutnya, kamu kembali menghilang. Bahkan untuk hantu yang menggentayangi tau caranya berpamitan daripada dirimu. Kamu tiba-tiba ada dan hilang lagi. Aku bingung dan bertanya kepada diriku sendiri tentang, “kita itu sebenarnya apa?”
---
“Membasuh tiap cerita cinta yang telah mati”
---
Taman kota, pedestrian yang ramai dengan pejalankaki, jalanan kota yang lenggang dan lampu dari gedung-gedung tinggi menemaniku berjalan. Sendirian juga tidak masalah bagiku. Sudah terbiasa dengan kesepian membuatku memaklumi keadaan yang sebenarnya tidak aku inginkan. Tuhan menjauhkan kita menjadi tidak lagi saling bercerita.
Kamu buat mati rasa karena trauma akan sebuah cinta. Memberikan lara pada jiwa yang sebenarnya ingin merasakan bahagia. Tidak ada lagi kata kita karena memang kita bukan siapa-siapa.
“Kita cuma temenan kan? Kenapa aku harus lapor ke ke kamu? Dari awal kita dekat, aku sudah bilang kalau jangan berharap sama aku. Kamu ingat itu kan?”
Kalimat menusuk yang kamu berikan kepadaku itu membekas hingga saat ini. Kalimat yang membuatku sadar bahwa ternyata hanya aku yang ingin kamu menjadi kekasih. Sedangkan kamu sebaliknya, kamu tidak ingin seperti itu.
“Terimakasih untuk semuanya. Aku senang karena kamu sudah mendengar dan menemani aku di setiap waktu. Tapi maaf, aku nggak bisa.”
Detik itu juga aku sadar bahwa sebaiknya kamu dan aku tidak perlu lagi saling berbagi kabar. Sesekali saja kita bersua melalui postingan satu sama lain. Terserah kamu mau komentar atau hanya sekedar memberikan suka pada hal yang aku unggah.
---
“Ku disini tanpa cinta bukan buatku terjatuh lagi untuk kedua kalinya”
---
Sekarang, setiap malam tiba, sunyi datang menyapa. Aku terbaring di atas kasur sambil memandangi langit-langit rumah. Membayangkan betapa bahagianya aku dulu ketika di waktu yang sama masih ada kamu yang tiba-tiba bercerita. Menyapaku singkat lalu bilang, “aku ingin cerita.”
Tapi setelah itu, aku sadar bahwa setiap orang itu punya masanya, setiap masa punya orangnya. Dan kita berdua juga sama halnya, menjadi dua orang yang pernah bertemu dalam satu masa yang kemudian berlalu begitu saja karena roda kehidupan juga terus berputar.
Kamu sibuk dingan urusanmu. Dan aku sibuk dengan urusanku juga. Kabar terakhir yang aku tau adalah tidak lama setelah kamu pergi, kamu sudah memiliki kekasih. Padahal dulu, aku yang selalu berharap dan berdoa untuk menjadi orang itu. Menjadi kekasihmu.
Tidak masalah. Dua tahun sudah berlalu, dan aku kini masih baik-baik saja. Masih sendiri tanpa tau akan bertemu dengan siapa lagi untuk menjadi penggantimu. Meski ada beberapa orang yang mencoba untuk dekat denganku, aku masih sering memikirkanmu. Na’as nya adalah ketika aku mencoba untuk membuka hati dengan mencari penggantimu, justru aku semakin takut akan patah hati kembali.
---
“Aku tak ingin hatiku kecewa lagi
Sekarang kupilih tuk sendiri dulu”
---
Di awal tahun, aku kembali bercerita dengan satu perempuan setelah dirimu pergi. Kami tidak pernah bertemu, hanya sesekali berbagi kabar melalui pesan singkat saja. Dulu dia sempat dikenal sebagai perempuan yang cuek dan tidak perduli sana-sini. Hingga aku mendengar bagaimana caranya berpikir dari dirinya sendiri, aku mulai jatuh hati.
Setiap malam panjang aku mulai berani untuk melangitkan doa tentang dia. Tentang satu nama yang selalu sama setiap harinya. Dia bukan dirimu, dia penggantimu dalam doaku. Dan aku harap tuhan menjodohkanku dengannya. Suatu hari nanti.
*SELESAI*
Komentar