Sudah Siapkah Untuk Buka Hati?
Sebuah pertanyaan melayang ketika dunia sedang riuh. Meski langit sore itu cerah bersama warna kemerahan yang menghitam secara perlahan. Pikiran Nala melayang membayangkan hal yang selama ini dia selipkan dalam doanya. Sebuah hal yang menjadi harapan mengenai, “bisakah aku menyandingnya dalam ikatan pernikahan?”
Setelah dua tahun berlalu, Nala memulai kembali niatannya untuk dekat dengan seorang wanita. Niatan yang pernah dia tutup rapat-rapat karena rasa kecewa akibat patah hati terhebatnya. Ditinggalkan ketika sedang sayang-sayangnya oleh wanita yang sempat dia anggap akan menjadi pelabuhan terakhir hatinya. Patah yang lebih perih daripada tersayat oleh sebuah pisau belati.
Dua tahun lebih Nala menutup hatinya. Bahkan pernah ada satu orang wanita yang mencoba untuk mengetuk sebagai permintaan izin masuk, namun tidak pernah dia buka. Wanita itu sempat bertanya, “kenapa kamu begitu dingin kepadaku?”
Nala menjawab dengan wajah datar meski dalam dirinya, dia merasa bersalah. “Maaf, sepertinya saya belum bisa.”
Hingga akhirnya wanita itu memilih pergi dan memutus hubungan dengan Nala. Sosial medianya di blokir, nomornya dihapus. Lalu Nala? Dia hanya membiarkan itu semua terjadi begitu saja. Mengikhlaskan dirinya menerima cercaan yang tidak dia dengar secara langsung dari wanita itu, tapi dia tau bahwa si wanita itu kecewa dan patah hati juga.
Kini, hati Nala perlahan dibuka olehnya. Mulai mengizinkan manusia-manusia lain yang ingin masuk dan melihat-lihat apa isi di dalamnya. Ruangan yang sempat rapat tertutup itu berdebu. Penuh dengan sarang-sarang kenangan di setiap dindingnya. Pigura-pigura yang gambarnya mulai luntur karena sudah lama menjadi sarang serangga. Tata letak yang berantakan. Dan tidak ada cahaya terang di sana, hanya lampu lilin kecil remang jika dilihat dari kejauhan.
Satu nama selalu dia doakan. Yang menjadi bara dari api lilin kecil dalam hatinya menyala. Yang Nala coba untuk jaga agar hatinya masih terasa hangat ketika angin berhembus kencang ketika gelap tiba. Nama seorang wanita yang sempat dia temui ketika masih kuliah dulu.
“Namanya, Nas.”
“Setidaknya izinkan aku untuk terus merayu namanya kepadamu, tuhan. Agar engkau berikan dan jadikan dia sebagai milikku setelah kau jauhkan aku dengan semua wanita yang aku inginkan. Untuk satu nama ini, aku berdoa semoga engkau kabulkan.”
Harapan yang tidak pernah Nala lupa untuk dia langitkan ketika selepas beribadah. Bersama dua tangan yang menadah di atas sajadah, Nala selalu memintanya. Tak jarang pula ketika sedang berputus asa karena dunia sempat kejam kepada nya, rintihan tentang wanita bernama Nas itu juga dia langitkan.
“Katanya, ketika kita sedang terluka, kecewa, dan jatuh air mata, doa kita akan lebih mudah didengarkan. Maka dari itu, aku meminta Nas di waktu yang sama.”
Tengah malam ketika dunia sedang senyap tanpa suara. Nala terbangun dari tidurnya. Dia beribadah lalu melantunkan doanya. Di atas sajadah yang dia gelar, hatinya berbicara, “entah sampai kapan engkau akan siksa aku dengan perasaan ini, tuhan? Selayaknya tempat untuk meminta hal yang mustahil, engkau adalah yang Maha bisa untuk mewujudkannya. Izinkan hambamu ini merasakan cinta dari seseorang yang selalu engkau dengar ketika hamba berdoa. Persatukanlah kami dalam ikatan sah pernikahan, pertemukanlah kami diantara semua ketidakmungkinan. Jadikanlah kami dua manusia yang berjalan bersama menuju hadapanmu.”
Meminta belas kasih kepada pemilik semesta adalah tanda bahwa manusia memang lemah. Meski sempat berkoar ‘aku pasti bisa’ namun apa daya ketika kehendak sang kuasa tidak memberikan restunya? Jalan terakhirnya hanyalah merayu sekuat doa, dan yakin penuh percaya bahwa setiap yang diminta akan diwujudkannya.
Begitu juga Nala. Manusia lemah yang meminta Nas untuk menjadi istrinya. Penuh keyakinan dia meminta di setiap doanya, penuh harapan dia bermunajat tentang sebuah pertemuan.
“Nas, aku selalu berdoa untuk kita dipersatukan. Semoga tuhan menjodohkan kita berdua.”
Di pekan ke sekian, Nala yang sedang mengisi waktu luangnya dengan membaca buku, tiba-tiba mendengar sebuah notifikasi pesan masuk dari ponselnya.
“Masih belum tidur?”
Sebuah pesan masuk dari wanita bernama Nas.
Lekas, dengan perasaan yang tak dapat diwakilkan oleh kata-kata, Nala membalas pesan itu, “masih belum, kenapa?”
“Nggak apa-apa. Cuma mau tanya kabar kamu aja.”
“Aku baik kok, Alhamdulillah. Kalau kamu?”
“Alhamdulillah, baik juga. Kamu lagi apa?”
Entah doa Nala diijabah, atau justru tuhan sedang bercanda dengan memberikan sebuah ujian. Nala mencoba menerka. Pesan Nas, yang masuk tiba-tiba itu membuat pikiran Nala terbang melayangkan sebuah pertanyaan, “ini maksudnya gimana, tuhan?”
Nala kemudian membalas pesan dari Nas, “Nggak ngapa-ngapain kok. Lagi baca buku aja.”
“Buku apa?” tanya Nas kembali.
“Baca buku, “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’.”
“Ah aku belum baca sih, tapi itu best seller. Sering muncul di beranda TikTok.”
“Iya, kemarin beli waktu habis gajian.”
“Sekarang lebih sering baca buku? Nggak ganggu kerjaan kamu?”
“Alhamdulillah enggak. Kalau kamu sendiri gimana?”
“Baru nyelesain ide kegabutan lagi sih, kurang dipermak aja. Baru dapat secuil lirik lagu baru lagi tapi sepertinya nggak akan aku unggah dulu.”
Beberapa waktu lalu, Nas sempat mengunggah sebuah cerita di akun Instagramnya. Suara dia yang sedang bernyanyi. Suara khas dengan nada yang Nala hampir lupa karena hampir satu tahun tidak dia dengar. Waktu itu, Nala memberikan komentar, “suara kamu bagus.”
Nas menjawab komentar Nala, “sebenarnya masih kurang memuaskan buat aku, mau aku perbaiki lagi tapi sekarang masih pilek.”
“Coba unggah jadi postingan juga. Di Reels atau Feed Instagram,” saran Nala membalas pesan Nas waktu itu. Namun sayang, pesannya tidak dibalas hingga waktu yang lama. Dalam hati Nala menunggu, namun harapan kepada manusia adalah harapan kosong yang selalu akan menyita waktu. Dan Nala akhirnya memutuskan untuk tidak ingin mengganggu dengan cara membiarkan pesan terakhirnya itu.
“Kamu bikin lagu sendiri?” Nala melanjutkan pesannya dengan kembali bertanya kepada Nas.
“Yah, kurang lebih seperti yang pernah aku unggah di cerita Instagram waktu itu, sih.”
Dengan niat yang dia coba ungkapkan, Nala meminta, “Boleh jadi pendengar pertama kamu nggak?”
“Sayangnya nggak bisa.”
Sedikit rasa kecewa dalam diri Nala membaca balasan pesan dari Nas. Dia menghirup nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Menguatkan sembari mengatakan dalam hati, “Nggak apa-apa, Nala.”
Tak lama kemudian, Nas mengirikan pesan singkat kembali, “tapi mau tau tanggapan temen cewek aku nggak? Yang udah pernah denger suara aku.”
Sebuah tangkapan gambar layar yang berisikan percakapan singkat dikirimkan oleh Nas.
“Aku kira itu lagu luar. Ternyata kamu bikin sendiri…”
Nala bertanya memastikan, dia tidak tau lagunya seperti apa karena Nala tidak mendapatkan izin dari Nas.
“You create a song in English?”
“Gimana ya? Gak juga sih. Bikin lirik awal pake indonesia terus aku terjemahin pakai ChatGPT”
“Itu lagunya tentang apa?”
“Teman.”
“Oh buat teman kamu, ya. Semoga lagunya cepat selesai.”
Ada rasa cemburu dalam diri Nala seketika ketika mengetahui lagu yang dibuat oleh Nas itu untuk temannya. Nala takut, kalau Nas sudah memiliki pria lain di hatinya. Nala takut untuk kecewa kembali.
Nas mengirim sebuah pesan balasan, “Nggak bisa, aku buat lagunya tergantung mood.”
“Kamu orangnya moody-an, ya?”
“Memang.”
“Hmm, pantes kamu kayak bintang kejora yang kadang bersinar terang, tapi nggak jarang juga hilangnya.”
“Mana sekarang lagi musim hujan, lagi,” Nas mencoba membalas dengan canda.
Nala membalas, “Padahal terang, tapi kamu justru ke tutup sama awan. Jadi Nggak kelihatan. Padahal ada yang selalu nunggu buat bisa lihat sinar indahnya.”
“Masih nyeleweng dari orbitnya.”
“Masih ada juga yang terus berdoa juga buat bisa dapetin bintang terangnya.”
“Lahhh, kan bintang kejora memang bukan bintang?”
“Iya, dia Planet Venus yang kelihatan waktu menjelang malam dan subuh. Yang selalu cantik waktu dilihat. Sama kayak kamu.”
Pesan terakhir Nala tidak dibalas oleh Nas. Entah apa yang terjadi, pesan Nala itu mengembang bersama dua centang berwarna abu-abu di barisan pesan Nala. Menjadikan sebuah tanda tanya besar bagi Nala kepada pemilik semesta, “sebenarnya aku sudah siap untuk buka hati atau justru menjerumuskan diri sendiri menuju patah hati? Tuhan tolong bantu aku meyakinkan diri kepadamu bahwa Nas memang jodoh untuk diriku.”
*SELESAI*
Komentar