Tak Lagi Memaksa, Kini Aku Berpasrah

Tak lagi ada yang tersisa ketika hati mulai sepi. Merasakan dalam diri tak ada lagi yang menemani. Hampa terasa mencekam di semua lini waktu. Beban berat menerpa tanpa henti kesana kemari. Pertanyaannya adalah “kapan semua ini bisa selesai terobati?” diri sendiri juga butuh penanganan khusus setiap hari.

 

Panggilan itu meluluh lantahkan diriku sendiri.

 

Menjelang petang, salah seorang teman bertanya kepadaku, “bagaimana harimu?”

Tak ada balasan yang aku ungkapkan. Bibirku hanya tersenyum kecil lalu sesaat kemudian kepalaku kembali tertunduk.

Di depan cermin, aku coba yakinkan diri bahwa semua hal yang ‘mungkin’ itu masih bisa diusahakan. Masih bisa diwujudkan. Dengan tegap aku berdiri, dada yang membusung meski kaki sedikit bergetar. Pandangan mata tajam meski degup jantung kian cepat berdebar.

“Semuanya masih bisa aku usahakan.”

Gelap menerpa, sepi menjelma. Langit memang sedang terang tanpa awan dan penuhdengan gugusan bintang bertebaran. Namun rasanya aneh, hatiku sepi dan pikiranku mulai ber kelahi sana-sini. Tak bisa aku kendalikan, dia bergerak sendiri.

“Selamat ulang tahun, Ibu.”

Seharusnya aku memberikan ucapan kepada wanita yang tak pernah menyerah kepadaku. Hari ini adalah ulang tahunnya dan aku belum meberikan apa-apa kepadanya. Alih-alih aku memberikan ucapan, kabar saja lupa aku sampaikan.

“Mengenaskan, jadi diri sendiri saja gagal. Bagaimana mau membahagiakan orang lain?”

Aku buka media sosial dari beranda laman ponselku. Gulir video dan foto aku jajaki satu persatu. Sekiranya tuhan suka bercanda, beberapa postingan sempat aku baca. Lagu-lagu yang entah apa maksudnnya, kudengarkan dengan seksama. Membuatku berpikiran bahwa, “apa ini cara tuhan memberikanku petunjuk?”

Tiga jam lamanya aku bergelut dengan isi hati. Tak kunjung henti resah dalam diri. Sadar bahwa sekarang sudah masuk dini hari; seharusnya menjadi waktu penting untuk mendekatkan diri kepada pemilik ilahi.

Sayangnya kamu kalah sama dirimu sendiri.

 

Umpatan; kekecewaan; keresahan. Segala bentuk penyalahan aku berikan kepada diriku sendiri. Self Judgement adalah istilah menyalahkan diri sendiri yang sering aku gunakan untuk lari dari kenyataan. Pergi tanpa berpamitan, lalu minta pertolongan untuk diselesaikan.

Katanya, pena dan tinta akan menjadi penyaluran energi dalam diri jika dituangkan pada selembar kertas putih. Aku mulai menulis keresahan kepada tuhan. Keluhan tentang, “kenapa hidupku harus seperti ini?”

Sebenarnya, ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk berdialog kepada pemilik semesta. Sembahyang, membaca kitab suci agama, atau meneladani tata cara hidup dari penyampai wahyu. Namun apakah aku bisa melakukan itu semua?

“Entahlah, aku hanya manusia yang berselimut dosa. Tidak lebih baik dari siapapun di dunia ini.”

Bulan masih bersinar terang. Kali ini mulai diiringi oleh sayup-sayup lantunan ayat-ayat tuhan. Toa masjid berbunyi nyaring. Telingaku mendengarkan sampai membuatku berdenging. Gejolak hati mulai meronta. Seolah berkata dengan nada mendobrak, “berserahlah, berdoa, lalu minta pertolongannya.”

Tak kuasa menahan bimbang. Aku linglung tak karuan. Pada akhirnya, air wudhu aku ambil untuk bersuci. Setelahnya, aku bersujud kepada-Nya. Tak ada air mata, tak ada kata. Hanya berserah tanpa tau apa yang sebenarnya aku inginkan. Mungkin karena, “tuhan lebih tau yang aku butuhkan.”

 

Lantas sekarang bagaimana? Mau menyerah atau terus melangkah?

 

Singkat cerita, fajar datang. Adzan subuh berkumandang. Waktu malam berlalu begitu saja. Mataku masih menyala dan aku lanjutkan menunaikan kembali perintah-Nya.

“Kali ini aku tak lagi meminta. Aku benar-benar hilang arah. Aku memilih berserah.”

Biasanya, selepas beribadah, aku meminta sambil menyebutkan satu nama. Namun kali ini, setelah beberapa hari terlewati, aku memilih untuk berkata, “ya sudahlah. Siapapun orangnya nanti, semoga tuhan berikan yang terbaik.”

Memang belum ada hasilnya. Tapi tuhan tidak pernah tuli dalam mendengarkan. Kemurahan hati dan kasih sayangnya melebihi luasnya bumi. Dan aku bisa apa? Tidak ada. Hanya meminta lalu berpasrah. Terserah.

 

*SELESAI* 

Komentar

Postingan Populer