THE LAST MATCHA

Tentang Nara. Wanita muda yang tengah gundah dengan masalah dalam hidupnya. Usianya akan masuk 27 tahun di pertengahan tahun ini. Meski begitu, keresahan terbesar yang dia alami sejak dua tahun lalu adalah masalah pernikahan. Pertanyaan yang sering dia jumpai adalah “kapan akan menikah?”

Nara tidak mendapatkan pertanyaan itu dari orang lain saja. Dirinya sendiri juga sering mempertanyakan hal yang serupa ketika malam tiba. Ketika dia berdiri di depan cermin kaca saat berdandan cantik. Ketika hujan sedang deras mengguyur area luar rumah.

November. Bulan akhir menuju perayaan tahun baru. Hujan di bulan itu sedang deras-derasnya. Nara berteduh di teras ruko yang sudah tutup. Beberapa percikan air yang jatuh dari langit sempat membuat pakaiannya basah. Namun itu bukan masalah untuknya. Justru, hal lainnya yang membuat hari itu menjadi penuh kesan dalam diri Nara.

Sebuah notifikasi pesan masuk, mengembang di layar ponselnya.

“Ra, lo lagi di mana?”

Nara membuka pesan itu lalu membalasnya, “Lagi di depan ruko nih. Sorry, kayaknya gue dateng telat. Lo udah di cafe?”

“Udah sampe nih.” Sebuah pesan gambar menyusul. “Gue udah pesenin minuman favorit lo, nih. Masih panas.”

“Wah, Matcha.”

Nara yang berteduh di teras ruko itu tertawa kecil. Dia gemas akan perilaku Kala yang sederhana namun selalu bisa mengubah suasana hati Nara.

“Oke, gue tunggu ya. Ati-ati aja di jalan. Tunggu hujannya reda dulu.”

“Lo nggak ada niatan buat jemput gue kah?”

“Niat sih ada, tapi motifasinya kurang.”

“Gue kasih semangat aja gimana?”

“Nggak ah, nanti ada yang cemburu.”

Nara dan Kala sudah lama bersahabat. Dalam diri Nara, dia menyimpan sebuah rasa kepada sahabatnya itu. Namun sahabat selalu punya batasan tertentu untuk tetap menjadi sahabat. Ada hal yang harus dijaga untuk membuat semua hal tetap baik-baik saja. Seperti menghargai satu sama lainnya. Termasuk dengan menghargai hubungan asmara yang terjalin di salah satu antara mereka.

Kala sudah memiliki pacar. Namanya adalah Senja. Wanita pendiam yang punya selera mood berubah-ubah. Terkadang suka marah tiba-tiba, kadang suka cuek tiba-tiba. Namun ketika suasana hati Senja sedang baik-baik saja, Kala mendapat kesempatan untuk berjumpa dengan Nara.

Setelah Nara sampai di cafe, Kala menyambut sahabatnya itu dengan sapaan hangat. “Ra, celana lo basah semua tuh.”

“Iya, gue kan habis kehujanan, La. Ya basah dong, kalau nggak basah, gue pasti nggak buat lo nunggu lebih dari satu jam di cafe ini.”

“Iya, sorry. Lagian gue kan udah traktir lo Matcha, nih.” Kala menyodorkan sogokannya berupa Matcha yang tadi hangat.

“Dih, apaan. Lo nyogok gue, ya?”

“Hehehe.”

Nara dan Kala akhirnya mengobrol panjang lebar. Selayaknya sahabat yang lama tidak bertemu, mereka berdua membahas banyak hal. Tentang Nara yang kini tengah sibuk bekerja dan Kala yang kini sudah mulai mengembangkan bisnisnya. Semua hal dalam dunia mereka ceritakan bersama dengan gelak canda di dalamnya. Hingga tiba pada inti cerita, Kala akhirnya menceritakan tentang hubungannya dengan Senja.

“Ra, Januari nanti gue mau nikah sama Senja.”

“Ha? Beneran? Cepet banget. Bukannya kalian baru jadian tiga bulan, ya?”

“Iya, tiga bulan. Tapi gue juga sadar kalau gue juga butuh istri, Ra. Dan feeling gue bilang kalau Senja adalah orangnya.”

Berita baik yang seharusnya menjadi kabar bahagia untuk Nara itu membuatnya menelan ludah dengan keras. Membuat sesak beberapa detik. Namun dia mencoba untuk tetap tersenyum di hadapan sahabatnya itu.

“Jadi? Mungkin ini adalah pertemuan kita terakhir sebelum gue nikah sama Senja, Ra. Gue minta do’a nya, ya.”

“Gue seneng dengernya, La. Akhirnya lo nikah juga,” ucap Nara berbohong dengan segala hal. Termasuk dengan dirinya sendiri.

Sebenarnya, sudah lama sekali Nara menyukai sahabatnya itu. Namun karena hubungan yang terlalu dekat, menjadi sahabat justru membuat sekat diantara mereka. Dan Nara, hanya dapat berbohong seolah semuanya baik-baik saja meski pada kenyataanya sebaliknya.

Sebuah undangan berbentuk hati, berwarna merah diberikan Kala kepada Nara.

“Nih, undangan pernikahannya. Lucu kan? Senja sendiri yang buat desainya. Dan kebetulan gue juga suka.”

Dua nama yang indah tertulis di undangan itu. Nala dan Senja. Dan satu nama yang hanya dapat membaca dengan hati yang tersayat membuat sesak. Nara. Dia menerima undangan itu.

“Ini undangan pertama?”

“Iya, karena lo itu spesial. Jadi lo harus terima undangan gue yang pertama.”

“Kalau spesial tuh seharusnya nggak gini, La.”

“Ha? Jadi gue salah, ya?”

Yang salah bukan cara Kala memberikan undangannya. Bagi Nara, yang salah itu pasangan Kala. Seharusnya, nama Nara yang tertulis bersama dengan Kala. Bukan orang lain. Karena yang lebih lama mengenal Kala adalah Nara.

Di malam tahun baru. Nara menghabiskan waktunya sendirian di dalam kamar. Tirai gorden menutup jendela kamarnya. Kembang api yang pecah menyala di angkasa, membuat siluet bayangan Nara yang sedang menangis. Dia sedih karena patah hati.

“Seharusnya gue, La. Gue.. bukan Senja.. gue yang suka sama lo, gue yang pengin nikah sama lo. Tapi kenapa bukan gue yang lo pilih. Nggak adil. Ini nggak adil, La. Gue.. gue..”

Terlalu sedih Nara untuk melanjutkan kalimatnya, dia hanya mampu mengurai air matanya sederas-derasnya membasahi pipi. Tisu yang memenuhi ruangan kamarnya adalah bukti betapa sedihnya Nara malam itu. Malam tahun baru yang seharusnya dia sambut dengan gembira justru memunculkan satu kalimat tanya.

“Kalau lo nikah sama Senja, apakah gue masih bisa nikah sama, lo?”

Hati Nara sedih. Dadanya sesak. Ludah yang dia telan terasa pahit. Kenyataan untuk jatuh cinta pada sahabatnya adalah sebuah kesalahan besar bagi Nara. Hingga akhirnya, kecewa sudah tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Yang ada hanyalah kata, “makasih buat Matcha terakhirnya, La.”

 

*SELESAI*

Komentar

Postingan Populer