Untuk Ibu
Mati itu bukan jalan terakhir. Bukan juga jalan keluar. Justru mati adalah jalan awal menuju hidup tanpa waktu. Jadi ketika hidupmu terasa berat, bersyukurlah karena kamu masih hidup. Tak apa jika sesekali memiliki rasa untuk ingin menyerah. Tapi jangan mati dulu. Karena masih ada hal besar dan hebat yang sedang menunggu untuk kehadiranmu.
Selepas Isya, aku pergi keluar dari sarang berukuran tiga kali tiga. Sarang sering membuatku takut untuk beranjak karena selalu merasa aman jika berada di dalamnya. Ruangan kecil yang penuh dengan harapan kosong tanpa kepastian.
“Kita mau kemana? Gimana kalau cari makan dulu untuk mengisi tenaga?”
Melaju perlahan. Menuju mesin peenyimpan uang. Berkeliling mencari dan mengamati, “enaknya makan apa ya?”
Aku teringat bahwa ketika hidup sedang nampak tidak baik-baik saja, aku selalu membeli seporsi tahu telur. Tidak terlalu pedas, asalkan ada bumbu kacangnya. Jangan lupa bahwa paduan paling enak adalah kombinasi yang terkunyah di dalam mulut antara tahu, telur, bumbu kacang, potongan lontong, dan kerupuk mungil. Tidak akan lengkap jika seluruh kombinasi itu masih ada yang kurang satu.
Tepi jalan kota yang ramai. Satu gerobak yang terdapat tulisan ‘Tahu Telur’ aku temui. Segera aku melipir dan memesan satu porsi sesuai kriteria yang aku inginkan lengkap dengan kerupuknya juga. Penjual-pun lekas membuatkan dan aku menunggu pesananku datang.
“Hari ini ibu ulang tahun.”
Sejak aku kecil, satu wanita yang selalu ada dan tidak pernah pergi kepanapun. Yang selalu memberikan dukungannya ketika aku ingin menyerah. Yang selalu memberiku pelukan hangat saat aku sedang membutuhkan rumah. Yang rela berdoa untuk diriku tanpa perduli dengan kondisi yang sedang dia derita. Dia adalah ibuku.
Ibu selalu tahu makanan kesukaanku. Ibu selalu tau apa yang aku perlukan. Ibu selalu berdoa untukku demi masa depan terbaikku. Meski aku akui bahwa aku adalah anak yang nakal, tapi ibu selalu hadir saat dunia kejam kepadaku.
Di satu hari, ibu bilang kepadaku, “kalau gagal hari ini, besok dicoba lagi. Kalau capek hari ini, besok pasti berhasi.” Dengan nada lembut yang selalu aku ingat, ibu tidak pernah menutup obrolan kami berdua tanpa memberikan jalan keluar.
“Ya sudah, sekarang ayo makan dulu.”
“Pesananku datang. Sayangnya bukan dari ibu.”
Bekerja jauh dari rumah dan keluarga. Membuatku harus terbiasa dengan kesepian. Tidak ada lagi suara teriakan dari ibu yang menyuruhku untuk jangan bermalas-malasan.
“Cepetan mandi, nanti kesiangan,” ocehan yang selalu aku ingat ketika pagi hari sebelum berangkat ke sekolah. Ibu selalu cerewet kalau aku bangun kesiangan dan tidak segera bergegas.
“Kamu itu kenapa selalu susah buat dibilangin, sih? Ibu capek!”
Kebohongan besar yang selalu ibu ungkapkan padahal justru menjadi alasan kenapa ibu selalu berjuang untuk terus hidup. Sisa makanan yang hanya satu porsi selalu diberikan kepada anak-anaknya dan rela menahan lapar hanya untuk melihat anaknya tersenyum riang.
“Ibu nggak makan?”
Sesekali aku menawarkan untuk berbagi porsi dengan ibu, tapi ibu selalu menolak. Katanya, “Ibu sudah makan. Kamu habiskan saja makanannya.”
Apalagi yang lebih menyesakkan dari sebuah penyesalan? Tidak ada. Penyesalan datang karena kita membuang waktu secara cuma-cuma. Bentuk rindu yang hadir adalah konsekuensi dari semua hal yang menimpa setelahnya.
Makan malamku sudah selesai disiapkan. Dibungkus rapi dalam kertas minyak yang diikat oleh satu karet berwarna merah. Ada satu ikat kerupuk yang juga dimasukkan dalam plastik pembungkus makanannya. Lengkap. Tapi ada yang kurang. Aku lupa kalau sekarang aku jauh dari kata pulang. Dari ibu yang selalu memberikan kasih sayang.
“Selamat Ulang Tahun”
Perutku kenyang. Makanan masuk pelan-pelan. Minuman terakhir membuatku tidak merasakan sedak. Hatiku mengucap syukur. Rinduku mulai menusuk. Dalam batinku, aku berkata, “Aku ingin pulang, Bu.”
Tidak bisa aku pungkiri bahwa jauh di tanah perantauan membuatku sadar apa itu pulang. Bukan sekedar kembali ke rumah dan bertemu dengan mereka yang ada di dalamnya. Pulang lebih dari itu, yaitu dimana kita kembali ke tempat di mana kita diterima dengan penuh kasih sayang.
Setiap kembali ke rumah, aku selalu memeluk ibu. Mencim keriput keningnya. Merangkul tubuh rentanya. Merasakan pulang dalam hitungan detik yang lebih lama dari biasanya. Selimut kasih sayang yang tidak pernah pergi meninggalkan dan selalu menunggu untuk datang.
“Anak ibu sudah pulang. Gimana? Capek atau nggak?”
Tidak pernah aku menjawab dengan pasti dari pertanyaan itu. Hanya kepalaku saja yang menggeleng seolah berkata tidak. Tapi semua ibu memiliki ikatan yang sama kepada anaknya. Tau maksud dari gerak tubuh dan tatapan sayu mataku. Ibu kemudian pergi ke dapur lalu menyeduh hangat teh manis untukku.
“Ini teh nya. Di minum dulu. Kamu pasti capek.”
Hanya secangkir teh manis. Hanya sekecil adukan sementara. Memberikan kasih tiada henti dan harapan bahwa semua hal sebenarnya baik-baik saja. Ibu menyuruhku untuk membasuh diri. Mengganti pakaian lusuh dari yang tertata rapi dari pintu lemari.
“Kasih sayangnya seluas samudra. Hatinya sekuat baja. Tubuhnya kian menua.”
Hari ini buku ulang tahun. Ucapan selamat seharusnya mendarat di hatinya. Namun aku tidak mengucapkan sepatah kata. Jangankan memberikan ucapan, menyapanya saja aku tidak lakukan. Aku ini anak durhaka atau bagaimana?
Semua hal di dunia ini punya masanya. Setiap masa punya orangnya. Sejak kecil aku selalu bersama dengan ibu. Bahkan ketika hari ini adalah hari ulang tahunku dan tidak ada yang memberikan selamat, ibu selalu menjadi orang pertama yang memberikan ucapan.
“Entah sekuat apa hati ibu. Kalau perumpamaannya seperti baja. Ibu lebih dari itu. Ibuku lebih kuat. Ibuku lebih tangguh. Meski kini, waktuku bersama dengan ibu tidak sesering dulu.”
Setiap hari, ibuku merindukanku. Dia selipkan diantara doa selepas beribadah. Duduknya selalu lebih lama dari semua orang yang ada di dalam rumah. Ibu mendoakan kami semua. Tangannya dia angkat sebagai tanda bentuk meminta. Rintihannya tidak jarang menguraikan air mata. Tapi begitulah ibu, selalu ingin yang terbaik untuk semua anggota keluarganya.
“Ketika dunia sedang runyam. Ibu hadir dalam bentuk kasih sayang.”
Kadang ingin menyerah. Kadang ingin mati saja. Kadang ingin lari. Tapi doa ibu lebih penting. Keinginannya jauh lebih baik dari semua hal yang aku inginkan. Kehidupan lebih mapan. Masa depan yang lebih indah dari hidupnya sebelumnya.
“Kalau ada apa-apa itu cerita. Jangan kamu pendam sendiri. Kalau takut nggak ada yang dengar. Masih bisa sholat lalu berdoa. Minta semuanya kepada yang maha kuasa.”
Pesan ibu dari dulu selalu sama. Selalu minta untuk jangan pernah meninggalkan sholatnya. Kalau ada waktu lebih, gunakan untuk mengaji. Siapa tau ketika kamu sholat lalu berserah diri. Allah kasih jalan keluarnya. Bahkan Allah selesaikan masalahnya.
Aku belajar banyak hal tentang keajaiban dari nasihat ibu. Tentang banyak hal yang aku tidak ketahui termasuk menjadi diri sendiri. Aku sering kalah melawan diri sendiri, namun ibu selalu menguatkan.
“Coba lagi. Pasti bisa. Nggak ada yang nggak bisa.”
“Caranya gimana?”
“Pelan-pelan. Ulangi lagi. Pelan-pelan.”
Aku percaya, kalau ibu sudah bilang seperti itu. Pasti Allah kasih kemudahan. Buktinya adalah Ijazahku yang tertahan karena aku belum menyelesaikan skripsiku selama dua tahun, akhirnya bisa aku pegang sekarang.
Awalnya semua terkesan tidak mungkin karena aku bekerja jauh dari rumah. Libur kerja juga hanya tiga bulan satu kali. Tapi ibu selalu mengingatkan bahwa apa yang kita tekuni pelan-pelan pasti membuahkan hasil di hari kemudian. Dan benar saja, selama dua tahun berlalu, apa yang ibu katakan menjadi nyata. Ijazahku berada dalam genggamanku.
“Terimakasih, Bu. Selamat Ulang Tahun. Maaf belum bisa kasih apa-apa. Dan belum jadi siapa-siapa.”
*SELESAI*
Komentar