BACKBURNER

Hari ini.

10 Panggilan tak terjawab.

 

I can’t lie it feels nice that you’re calling

You sound sad and alone and you’re stalling

 

Aku masih ingat bagaimana suara itu menggema di telingaku. Suara yang lembut dengan rasa sedih ketika kamu berbicara. Tentang bagaimana perasaan kamu kepada seseorang yang kamu suka padahal kamu tau, dia tidak memilih kamu. Kamu bercerita banyak tentangnya kepadaku.

“Kayaknya aku suka ke dia, tapi dia enggak, deh.”

“Kok bisa gitu?”

He cares, but it turns out he's like that to a lot of women too.”

Sudah empat tahun berlalu, kamu bercerita tentang sosok yang kamu suka kepadaku. Waktu itu aku masih mendengarkanmu bersedih ketika malam tiba. Ketika laki-laki yang kamu suka ternyata memilih yang lainnya daripada dirimu. Dan yang aku bisa hanyalah membuatmu berhenti untuk tidak lagi bersedih.

“Makasih ya, udah dengerin ceria sedih aku.”

“Iya sama-sama”

Hingga malam semakin larut, aku menunggu balasan selanjutnya darimu. Namun sayangnya, hingga pukul setengah dua tidak juga kamu membalasnya. Saat pagi tiba, notifikasi pesan darimu masih belum ada. Tak tau harus apa, aku kembali menghubungimu.

 

And for once I don’t care about what you want

As long as we keep talking

 

Melalui beberapa waktu, kita berdua semakin dekat dengan cara saling berbagi cerita. Kamu bercerita tentang hidup dan masalahmu sedangkan aku yang bercerita tentang mimpi dan harapan masa depan.

“Udah siap berangkat kerja?”

“Udah kok, udah sarapan juga.”

“Eh, sarapan sama apa nih?”

“Bikin minuman sereal sama roti sih.”

“Kayak orang Belanda, ya. Jadi pengin ngerasain tinggal di sana deh. Bangun pagi, sarapan, terus jalan-jalan di kota Amsterdam sama menikmati cuacanya, sepertinya seru.”

“Seru sih. Dingin-dingin gitu vibes nya. Kalau di sini panas.”

Cerita sama kamu selalu bikin semuanya terasa ringan. Seperti beban berat yang aku rasakan, bisa tiba-tiba hilang entah ke mana. Mungkin sepertinya begitu rasanya jatuh cinta kepada orang yang kita suka dan mendapat balasan perhatian darinya. Seperti bebas dari penjarahan yang penuh dengan ketakutan.

 

Well whether we’re free of will or predestined

Clearly I’ve not learned my lesson even now

 

Semakin sering kita bercerita, duniaku semakin penuh dengan warna. Mendengar suaramu seperti alunan melodi paling indah di telingaku. Tidak perduli siang atau malam, kita masih sering bercanda. Sesekali aku buat kamu tertawa, hingga tanpa sadar rasa itu hadir.

I miss you

Tiba-tiba aku mengucapkannya. Mengirimkan sebuah pesan kepadamu dengan berkata jujur bahwa aku sedang merindukanmu. Padahal, seharusnya hal itu tidak boleh terjadi.

“Tumben banget bilang kangen.”

“Emangnya kangen bisa diatur?”

Kamu tidak membalasnya.

Terpalang oleh ego, aku mencoba mencari alasan dengan bercerita bahwa aku baru saja datang ke pernikahannya teman satu angkatanku semasa kuliah. Suasana mewah dan meriah ada di sana. Gaun pengantin yang indah membuatku merasa ingin untuk memiliki pasangan. Lebih tepatnya aku ingin dirimu yang menjadi pasanganku.

 

Maybe I’m just not better than this I haven’t tried

Maybe life’s less romantic when I don’t wanna die

 

Setidaknya aku pernah berusaha untuk itu. Berusaha untuk menjadikanmu milikku, meski pada akhirnya cerita tentang hubungan kita harus berakhir tanpa sebuah pesan terakhir.

 

 

Keinginanku terwujudkan, harapanku terkabulkan, semua hal yang aku lalui tanpa sadar membawaku ke titik yang berbeda. Pencapaian yang aku rasakan sekarang seolah hampa ketika tempat untuk bercerita sudah tidak ada. Rasanya sepi sekali hidup ini. Setiap hari penuh dengan warna abu-abu.

Dua tahun yang lalu, aku pernah dekat denganmu. Jam rawan yang kita lalui berdua terasa menyenangkan. Tidak ada ketakutan bahkan, aku tidak merasakan kesepian. Mungkin karena terlalu sering diberi perhatian, aku jadi seperti dianggap penting.

“Kamu udah pulang belum?”

“Belum, masih di kantor. Kenapa?”

“Nggak apa-apa. Tanya aja.”

“Kamu gimana hari ini?”

“Lancar sih kerjanya. Cuman aku agak bosen karena kerjaannya gitu-gitu aja.”

 

You’d think I’d be a fast learner

But guess I won’t ever mind crisping up on your backburner

 

Aku selalu menghiraukan pikiran itu. Pikiran yang membuatku sempat merasa bahwa ‘aku ini sebenarnya sedang apa?’ karena kamu tidak juga menjelaskan tentang, “kita itu apa?

Kamu perhatian kepadaku dan aku juga sama. Saling berbagi kabar, saling berbagi kisah. Tapi kita sama-sama tau kalau kita berdua tidak lebih dari sekedar teman cerita. Namun aku menolak keras hal itu. Tetap saja bodoh dan tidak perduli kalau kenyataannya adalah ‘kita berdua berbeda’.

Kamu sedang lari dari kesepian dan kebetulan hanya ada aku yang mau mendengarkan. Kamu tidak menganggapku ada, kamu hanya butuh teman bicara agar suasana hatimu tetap berwarna. Dan kamu tau, itu adalah hal yang paling kejam. Membiarkanku jatuh cinta sendirian.

 

It’s pathetic but at least you are too

I don’t know what to do

I don’t like anyone except sometimes you

 

Banyak lagu cinta yang aku kirimkan kepadamu sebagai kode bahwa aku sudah menyukaimu. Di antara percakapan kita, aku selipkan kalimat rayu dengan harapan bahwa kamu akan sadar hal itu. Tapi semakin sering aku melakukannya, semakin sering juga aku berbohong kepadamu bahwa semua hal tadi adalah lelucon.

Tidak ada yang tau kapan orang itu akan jatuh cinta. Begitu juga dengan aku yang merasakan cinta datang dengan tiba-tiba setelah terbiasa. Dan menyedihkannya, aku masih terus berusaha padahal kamu sudah bilang kalau, “jangan berharap sama aku.”

 

And now you’re sounding like a hurt puppy

You look ugly when you cry

But I’m the one you think to call

 

Kamu tau, berapa lama aku berjuang untuk sembuh? Dua tahun. Begitu lama aku menutup pintu hati dari siapapun yang ingin mencoba masuk. Tidak ada yang mampu membukanya kecuali kamu untuk yang terakhir kalinya.

Panggilan beruntun tidak kamu jawab. Kamu menghilang. Lalu hadir sesaat hanya untuk mengucapkan maaf. Kamu bilang kalau ponselmu mati, tapi kamu unggah postingan sedang menikmati kopi malam hari berdua dengan laki-laki lainnya.

Kecewa.

Aku yang kamu hubungi ketika sedang bersedih, tapi dengan siapa kamu pergi ketika bahagia? Aku yang menguatkanmu untuk terus hidup dan melawan sepi, tapi dengan siapa kamu tertawa ketika lukamu itu telah selesai?

 

How do you feel lucky and appalled

At the same time

After everything you put me through

I somehow still believe in you

 

Rasa sakit itu masih tersisa. Meski belum sepenuhnya mereda, aku coba untuk sembuh dari sayatan luka yang telah kamu buat berdarah. Tidak nampak dari luar memang, tapi setiap kali malam datang, aku merasakan kesepain. Sepertinya itu adalah kesepian darimu.

Ketika siang dan hariku sungguh kacau, aku masih berharap kamu akan datang lalu memberikanku sebuah kabar. Sayangnya hal itu sukar terjadi karena aku sadar bahwa kita tidak mungkin kembali seutuhnya.

Kamu sudah milik dari yang lainnya. Kekasihmu. Pacarmu itu. Sudah memiliki hatimu sepenuhnya. Dan aku bisa apa selain menonton postingan mesramu bersama dirinya.

 

Maybe I’m just not better than this I haven’t tried

Cause maybe you’ll finally choose me after you’ve had more time

 

Setelah kamu pergi. Aku masih berharap bahwa kamu akan kembali untuk menemui diriku lagi. Mengucapkan kata maaf, dan kita akan kembali seperti sediakala. Hingga aku senantiasa berdoa, memasukkan namamu di dalam lantunannya. Dan sepertinya tuhan tidak merestuinya, karena semakin aku meminta, semakin jauh jarak kita berdua.

I hope he doesn’t strike me down

Menurutmu, bagaimana kalau suatu saat nanti kamu kembali kepadaku dan aku menerima itu? Apakan semua akan baik-baik saja? Atau justru sebaliknya? Kamu kembali akan pergi ketika lukamu mereda dan aku kembali terluka.

Lelah rasanya berjuang sendirian melawan sakit setiap kenangan tentangmu hadir secara tiba-tiba. Tapi aku bisa apa selain menangis tanpa suara agar tidak didengar oleh siapapun? Sadar bahwa pertemuan kita hanyalah salah satu takdir tuhan. Aku memutuskan untuk mencoba mengikhlaskan.

 

I know that it’s sad that I settle for the backburner

Guess I won’t ever mind

As long as you still think of me

 

*SELESAI*

Komentar

Postingan Populer