Setelah Lama Berpisah, Akhirnya Kita Bisa Sama-sama
Perjalan ini membosankan. Setiap langkah yang dilalui terasa sunyi. Meski nyaring berbunyi di telinga, tetap saja tidak ada satu orang yang menemani di sebelahnya. Pria yang kini berumur 27 tahun itu tengah menuggu kekasihnya untuk hadir melengkapi bagian yang kurang dalam hidupnya.
Namanya Awan. Setiap menjelang pagi, matanya sudah terjaga lebih dulu mengalahkan suara ayam jantan yang hendak memulai hari. Beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi bukan untuk sekedar membasuh muka. Awan selalu merangkai kalimatnya di waktu selesai beribadah.
Ketika langit mulai biru kemerahan, Awan baru memulai rutinitasnya. Memasak untuk dirinya sendiri. Menikmati hidangan hangat pagi hari. Menu favoritnya adalah secangkir kopi pahit dengan asap yang masih mengepul mengudara. Teman sejatinya adalah batang rokok dan tablet kecil yang sedang membuka panel berita. Hobinya membaca. Awan rela menghabiskan waktu paginya untuk mengetahui kabar dunia lalu dia rangkum ke dalam buku harian miliknya.
Biasanya, Awan akan menjelaskan secara detail tentang apa yang telah dia baca dengan menulis beberapa kesimpulan. Namun pagi ini berbeda. Setelah dia selesai membaca berita pada tablet kecilnya. Pikirannya tiba-tiba melayang dan membayangkan tentang dirinya yang mulai merasakan kesepian.
Awan pikir, mungkin sudah saatnya bagi Awan untuk menjemput jodohnya. Meski dirinya tidak tau siapa orangnya. Awan hanya mampu berdoa di waktu yang sama. Saat itu juga, batinnya mengharap kemurahan kepada sang pemilik segala untuk dipertemukan dengan orang yang akan melengkapi bagian terakhir dari dirinya.
Pukul sepuluh pagi. Sebuah pesan masuk melalui ponsel milik Awan. Sebuah ajakan untuk melakukan reuni bersama teman satu angkatan semasa zaman SMA dulu. Pesan itu dari sahabat lamanya yang bernama Nadira.
“Weekend ini lagi free kah? Ada undangan reunian bareng temen-temen SMA. Lo mau ikut hadir atau nggak?”
Sudah lebih dari satu dekade Awan tidak bersua dengan teman-teman satu SMA-nya. Terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai manager cabang, membuat Awan tidak memiliki waktu untuk bermain atau sekedar menikmati hari.
Pesan dari Nadira tidak Awan balas, dia hanya sekedar membuka ruang pesan itu lalu menutupnya kembali. Hingga malam tiba, rasa kesepian yang menyelimuti dirinya membuatnya berpikir ulang tentang ajakan Nadira untuk ikut ke acara Reuni Sekolah. Bimbang dan ragu karena telah lama tidak bertemu menjadikan Awan berpikir sedikit lebih lama, meski akhirnya dia memberikan balasan dengan mengim sebuah pesan.
“Kebetulan gue lagi kosong. Kayaknya gue bisa ikut deh. Kirim aja lokasi sama jam nya. Gue dateng.”
Setelah mendapatkan detail waktu dan tempat dari Nadira. Satu minggu kemudian awan datang ke acara reuni SMA tersebut. Beberapa orang terlihat asing di matanya karena tubuh mereka juga ikut bertumbuh seiring bertambahnya usia. Dari kejauhan, terdengar sapa seseorang yang memanggil namanya. Awan sempat kebingungan karena suara itu tampak tak asing.
“Lo beneran dateng juga ternyata,” itu suara dari Nadira, “susah juga hubungin lo, ya. Lebih dari sepuluh tahun gue cari kontak lo, dan akhirnya ketemu juga.”
Masih ada rasa canggung di dalam diri Awan karena mendapati sahabat lamanya yang dulu terlihat dekil dan bertubuh kecil itu telah berubah menjadi wanita cantik dengan tubuh tinggi hampir setara dengan Awan.
“Lo beda banget, ya, sekarang. Gue sampai pangling ngelihatnya.”
“Jelas beda dong. Manusia nggak cuma bertambah usia aja, tapi juga bertumbuh.”
Reuni SMA yang dirayakan dengan meriah itu berlangsung sekitar lima jam. Dari siang hingga menjelang malam. Dengan penampilan dari beberapa musisi dan sambutan dari beberapa orang yang menjadi penyumbang dana terbesar untuk Acara itu.
Sebelum pulang dari acara itu, Awan berpamitan kepada Nadira. “Gue balik dulu ya. Lo masih lama?”
“Eh udah mau balik? Gue nebeng boleh nggak?”
“Lo berangkat tadi naik apaan emangnya?”
“Tadi tuh gue berangkat bareng sama adik gue. Kebetulan dia juga acara yang satu arah sama tempat ini. Jadi gue sekalian aja.”
Nadira kembali meminta, “Gue nebeng, ya?”
Awan yang sudah lama tidak mengantarkan seorang wanita pulang, sedikit merasa bingung harus bagaimana memberikan respondnya. Tidak ada cara menolak yang terlintas di dalam kepalanya, akhirnya Awan memperbolehkan Nadira untuk menumpang mobilnya.
Di dalam mobil, Awan dan Nadira lebih banyak diam daripada berbicara satu sama lain. Nadira yang seorang wanita dengan rasa benci akan keheningan memulai obrolan meraka. Dengan modal radio yang diputar di dalam mobil, Nadira berkata, “Gue tau nih, lagu ini. Lagu yang udah ada sejak dulu waktu kita masih SMA. Judulnya ‘Kita’ dari Sheila On7.”
Awan yang juga merasa mulai resah dengan situasi canggung sebelumnya membalas perkataan Nadira. “Ah, gue baru sadar kalau ini lagunya Sheila On7.”
“Iya, bener. Lo tau nggak, kalau band ini adalah salah satu band yang gue suka. Lagu mereka, selain enak di denger, juga relateble sama anak-anak muda bahkan sampai sekarang.”
“Iya, gue juga masih sering denger. Lagu yang paling gue suka tuh yang judulnya ‘Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki’.”
Panjang lebar mereka membahas soal band favorit mereka. Percakapan mereka mulai melebar kemana-mana. Membahas tentang makanan yang ada di acara reunian masih kalah enak sama masakan mbok kantin yang jual siomay di sekolah dulu, hingga tempat pelarian mereka ketika sudah jenuh dengan pelajaran sekolah. Tempat yang sering mereka sebut dengan markas rahasia.
“Eh, udah lama ya, kita nggak ke sana. Mau reunian di sana lagi nggak?” Nadira mengajak Awan seketika.
Awan yang terkejut, membalas dengan kembali bertanya, “Haa? Kapan?”
“Sekarang gimana? Momen langka nih, gue bisa ketemu sama lo.” Dengan nada penuh semangat, Nadira mengajak Awan. “Kapan lagi, ya, kan?”
Tepat di belakang gedung sekolah SMA mereka ada gedung terbengkalai yang belum selesai pembangunannya. Meski tampak usang dan berdebu, masih ada lampu yang menyala untuk menerangi bangunan kosong itu. Di lantai paling atas, mereka berdua menandai tempat itu dengan nama mereka yang ditulis pada dinding-dindingnya.
“Masih ada, ya, nama kita di tembok ini,” kata Nadira ketika memandang ke arah salah satu dinding.
Awan menjawab, “Iya.” Singkat dengan tatap mata penuh makna. Ada rasa rindu masa sekolah di saat itu juga.
Pemandangan dari lantai paling atas itu menunjukkan detail keindahan lampu kota yang bersinar terang. Membuat Nadira dan Awan duduk sambil memandang ke arah sana. Mereka berdua diam untuk waktu yang sedikit lebih lama. Meresapi perasaan rindu mereka dengan masa SMA yang menyenangkan.
“Lo kangen masa SMA nggak?” tanya Nadira kepada Awan.
“Kalau dipikir-pikir lagi sih, gue kangen juga sama masa-masa itu. Masa dimana kita bisa ngerasain seneng terus tanpa perduli buat kesepian,” kata Awan.
“Gue juga.” Nadira menghela nafas panjangnya. “Tapi gue lebih kangen sama orangnya. Bukan cuma sama kenangannya.”
“Lo kangen gue?”
“Ini rahasia ya, jangan kasih tau siapa-siapa.” Nadira mengecilkan volume suaranya lalu berbisik di telinga Awan. “Iya, gue kangen sama lo.”
Awan yang mendengar kalimat itu dari Nadira hanya diam seribu bahasa. Matanya terkejut sementara waktu.
“Gue nggak salah denger? Sejak kapan?”
“Sejak lo hilang kabar setelah lulus sekolah lebih dari sepuluh tahun lalu.”
Awan mengubah posisi duduknya. Kini dia menatap bukan ke arah lampu kota, melainkan cahaya yang jauh lebih indah. Mata Nadira.
Nadira menjelaskan, “udah sejak lama gue ceri cara buat bisa ketemu sama, Lo. Dan baru ketemu waktu kemarin.”
Awan masih menatap mata Nadira, “Kalau lo kangen sama gue, boleh nggak gue suka sama lo?”
“Lo mau nembak gue buat jadi pacar, lo?”
“Enggak, gue nggak mau lo jadi pacar gue. Tapi gue mau lo jadi istri gue.”
Kali ini giliran Nadira yang dibuat diam seribu bahasa oleh perkataan Awan. Nadira terkejut tidak mampu menjawab. Sedangkan Awan, kembali mencoba peruntungannya.
“Jadi gimana, lo mau nggak?”
Tanpa kata, Nadira hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya sebagai tanda jawaban untuk Awan. Tatapan mata mereka tidak teralihkan meski malam itu angin sedang bertiup kencang. Justru cuaca yang dingin itu terasa hangat ketika Awan dan Nadira saling bercuiman.
*SELESAI*
Komentar