TUTUP BUKU, BUKA LEMBARAN BARU CHAPTER 1.3

Harusnya, aku sudah bisa move on dari kamu. Harusnya udah nggak mikirin kamu lagi karena memang nggak boleh. Kalau kamu yang inginnya pergi tanpa pamit, seharusnya aku nggak berhak buat kangen sama kamu. Kamu punya hak untuk menyangkal itu dan aku punya kuasa untuk menahan diri supaya harapan aku ke kamu nggak datang terus setiap malam. Yang maunya pergi, nggak boleh kita tahan. Yang mau datang, biarkan saja untuk datang, jangan dilawan.

Kadang sesak banget waktu di enam bulan pertama setelah kamu hilang. Yang tiba-tiba sendiri padahal sebelumnya punya temen cerita. Struggle buat bisa berdiri lagi temuin jati diri sendiri. Setiap malam aku bangun dan nggak jarang buat nangis karena masih patah hati. Tapi yang namanya perasaan juga butuh untuk diungkapkan meski harus lewat air mata.

Selama enam bulan, aku coba buat cari pengganti kamu. Teman lama, teman baru, tempat yang nggak biasa aku kunjungin tiba-tiba aja aku datengin karena kalau ke tempat biasa, aku selalu keinget sama kamu. Dan bagi aku itu nggak nyaman sama sekali.

 

Rasanya nggak adil kalau aku yang harus sedih, padahal aku yang selalu mengusahakan semuanya buat kamu.

 

Kamu bercerita tentang hidup dan masalahmu sedangkan aku yang bercerita tentang mimpi dan harapan masa depan.

“Udah siap berangkat kerja?”

“Udah kok, udah sarapan juga.”

“Eh, sarapan sama apa nih?”

“Bikin minuman sereal sama roti sih.”

“Kayak orang Belanda, ya. Jadi pengin ngerasain tinggal di sana deh. Bangun pagi, sarapan, terus jalan-jalan di kota Amsterdam sama menikmati cuacanya, sepertinya seru.”

“Seru sih. Dingin-dingin gitu vibes nya. Kalau di sini panas.”

Cerita sama kamu selalu bikin semuanya terasa ringan. Seperti beban berat yang aku rasakan, bisa tiba-tiba hilang entah ke mana. Mungkin sepertinya begitu rasanya jatuh cinta kepada orang yang kita suka dan mendapat balasan perhatian darinya. Seperti bebas dari penjarahan yang penuh dengan ketakutan.

“Kamu udah pulang belum?”

“Belum, masih di kantor. Kenapa?”

“Nggak apa-apa. Tanya aja.”

“Kamu gimana hari ini?”

“Lancar sih kerjanya. Cuman aku agak bosen karena kerjaannya gitu-gitu aja.”

 

You’d think I’d be a fast learner

But guess I won’t ever mind crisping up on your backburner

 

Aku selalu menghiraukan pikiran itu. Pikiran yang membuatku sempat merasa bahwa ‘aku ini sebenarnya sedang apa?’ karena kamu nggak juga menjelaskan tentang, “kita itu apa?

Sungguh perih waktu semesta mengajakku untuk bercanda dengan caranya yang nyata. Aku perlahan mencoba untuk tidak lagi jatuh cinta sama kamu. Meski berat, aku harus merelakan perasaanku ini. Aku tidak lagi berharap untuk mendapat balasan cinta atau mungkin sekedar obrolan belaka. Aku memilih diam serta lirih berdoa dalam hati, semoga hal baik segera hadir, sebagai pengganti kamu.

 

Aku memilih diam bukan untukmu

Namun aku sedang membuka jalan bagi hal baik lainnya untuk datang

 

***

Komentar

Postingan Populer