Hadiah Terbaik



Sore itu terasa sangat menenangkan. Di teras rumah, aku dan Sasa duduk berdampingan. Di depan kami, ada minuman hangat yang Sasa suguhkan sebagai teman perbincangan. Dua minggu yang lalu, tepatnya setelah prosesi akad selesai dengan cara yang sederhana, Sasa resmi menjadi istriku. Menjadi teman hidup untuk selamanya.

"Aku masih nggak percaya, kita beneran nikah. Kamu, jadi nikahin aku," katanya.

"Aku bersyukur, mimpiku untuk jadi suami kamu menjadi kenyataan."

"Aku senang," katanya kembali, kali ini sambil merebahkan kepalanya ke pundakku. "Kita jalani semuanya sama-sama, ya."

Aku hanya menangguk setuju tanpa mengucapkan sepatah kata. Memandang ke arah langit sore yang mulai berganti warna. Menyambut kuning keemasan di samping seorang perempuan yang aku cintai.

"Kita siap-siap, ya," ajakku kepada Sasa.

"Kita mau kemana?" tanyanya dengan nada lembut.

"Memberikan hadiah tuhan kepadamu."

"Apa?" balas Sasa yang mulai bingung.

"Sudah, kita siap-siap saja dulu."

Kami pun bersiap. Aku mengganti pakaianku dengan baju koko putih dan juga sarung yang punya cap hewan gajah sedang duduk, tidak lupa, aku menyusur rapi rambut, kemudian menutupinya dengan sebuah peci hitam. Sasa, mengganti juga pakaiannya dengan setelan yang punya warna putih serupa dengan pakaianku. Dia terlihat begitu cantik. Sangat cantik. Hingga akhirnya kami berdua siap, aku memberikannya satu tas kecil dengan isi mukenah dan sajadah di dalamnya.

"Ini hadiah dari tuhan?" tanyanya kembali.

"Belum, ini masih hadiah dariku. Setelah kita keluar dari rumah, akan aku beri tahu hadiah tuhan yang sesungguhnya."

Di luar, langit sudah mulai berwarna jingga. Aku merapikan alas kaki untuk Sasa pakai. Katanya, "kamu romantis."

Kami akhirnya mulai berjalan keluar rumah menuju sebuah tempat. Di tengah perjalanan, Sasa menagih hadiah tuhan yang aku ucapkan tadi. Lalu aku berkata, "kamu sudah dapat hadiahnya, Sa. Nggak perlu lagi menagihnya."

"Memang, apa hadiahnya?"

Aku menunjuk ke arah langit, "senja, itu hadiahnya. Hadiah terindah yang tuhan berikan bagi pejalan kaki yang sedang menuju masjid."

Sasa hanya diam. Dia berhenti sejenak, kemudian memandang ke arah langit. Matanya berbinar kagum, dia tersenyum manis tepat di sebelahku. Hanya satu kata yang dia ucapkan, "alhamdulillah."

Setelah sesaat dia mengucap syukur, Sasa memelukku. "Makasih ya, mas. Aku senang dan bersyukur menjadi istrimu. Semoga aku bisa menjadi istri yang baik untuk kamu, sampai ke surga nanti."

Dengan nada lebut, aku mengamininya, lalu membalas pelukannya dengan penuh kelembutan yang aku bisa.

Adzan mahgrib telah berkumandang. Aku dan Sasa melanjutkan langkah menuju masjid, untuk menjemput waktu beribadah. Dan saat itu, adalah waktu dimana seolah tuhan memberikan hadiah kepadaku secara bertubi-tubi. Seorang istri yang cantik dan baik hati, serta waktu yang sempurna untuk kami saling berbagi cinta, menikmati senja berdua.

Komentar

Postingan Populer