Jatuh Hati Sama Kamu
Di satu pagi, aku jatuh cinta untuk ke sekian kalinya. Memandang wajah manusia paling sempurna yang sekarang menjadi istriku. Membuatku cukup bahagia dengan cara yang paling sederhana dari semua yang ada. Dulu, aku sempat ragu akan kemampuanku dan bertanya pada diriku sendiri, "apakah aku bisa menikah dengannya?" Tapi kini, semua terjawab sudah. Aku menikah dengan Sasa, dengan cara yang sederhana. Di sebuah gedung mewah seperti istana megah, aku meminta Sasa dari ayahnya. Prosesi akad, berlangsung khidmat. Para tamu undangan juga sama-sama sepakat berkata 'sah'.
Setelah resmi menikah, kami berdua melangsungkan prosesi saling bersalaman. Tidak hanya kepada keluarga dan segenap rekan kenalan, tapi juga kepada kerabat tamu undangan yang ikut datang meramaikan. Di sela-sela waktu yang menggembirakan itu, aku dan Sasa istriku saling bersuapan. Dia menyuapiku dengan semangkuk ice cream manis yang tentu saja tidak lebih manis dari senyum Sasa sesaat setelah aku kecup keningnya dengan penuh mesra.
Hari itu adalah hari pernikahan pertamaku, dan akan aku usahakan untuk menjadi satu-satunya. Karena aku, suami Sasa, ingin menggandeng tangannya masuk ke dalam surga bersama hanya denganku. Ayahnya, yang setelah akad menjadi ayahku juga, berkata kepadaku, "jaga dia, nak. Jaga dia seperti ayah menjaganya. Jadilah imam yang baik untuk Sasa. Bimbing dia, merasakan cinta setiap hari. Dan semoga, Allah mudahkan urusan kalian semuanya."
---
Menjelang subuh. Aku bangun lebih dulu, biasanya aku hanya akan memandang ke arah kosong yang ada di sebelahku. Tapi sejak hari ini, waktuku terasa lebih bermakna. Wanita yang dulu aku kira tidak bisa aku nikahi, berada tepat di hadapanku. Dengan mata yang masih tertutup, aku memandangnya. Dalam hati berkata, "kamu kalau tidur, tetap cantik, Sa."
Berselang sebentar, aku beranjak dari tempat tidur. Menuju kamar mandi, membasuh muka, kemudian berwudhu. Bersiap untuh sholat subuh, aku membangunkan Sasa dengan nada suara lembut, "Sa, bangun. Kita sholat subuh sama-sama, yuk."
Sasa yang masih terlihat lesu setelah bangun dari tidurnya, perlahan bersiap. Menuju ke kamar mandi, mengambil wudhu, lalu menjadi makmumku. Kami berdua menunaikan ibadah sholat subuh bersama-sama. Setelah salam penutup, Sasa nepuk bahuku dari belakang. Dia, menyalamiku. Mencium tanganku, lalu berkata, "sekarang, kamu boleh, kok, kecup keningku, setelah sholat."
Aku tersenyum. Selain mengucap syukur, aku juga berkata kepada Sasa, "semoga hal-hal baik selalu datang ke keluarga kita, ya, Sa."
Untuk sesaat, kami berdua duduk saling berhadapan. Berbagi canda di sela-sela obrolan ringan selepas sholat.
"Kamu nanti mau dimasakin apa?" katanya.
"Apa saja. Yang penting resepnya selalu sama," jawabku.
"Resep apa?"
"Resep makanannya."
"Bukannya tiap makanan punya resep yang berbeda?"
"Memang, tapi semua makanan punya satu resep yang selalu sama."
"Apa itu?"
"Resep; cinta."
Sasa tertawa.
"Jadi, aku akan makan semua masakan kamu, asalkan resepnya tetap sama. Resep cinta."
Sasa melanjutkan, dia bertanya sambil tertawa, "takarannya apa aja tuh?"
Sekarang, aku yang tertawa mendengar pertanyaannya. "Belum tahu, sih. Tapi nanti, kita bisa buat itu sama-sama."
Menjalin cinta halal setelah subuh adalah hal yang selama ini aku dambakan. Dulu, saat aku belum menikah, aku selalu iri dan berandai-andai tentang kapan masa indah bercinta dengan wanita yang aku suka akan tiba. Dulu, aku hanya mampu berharap sendirian melalui doa yang aku langitkan sendirian. Mendaki mimpi, begitu terasa melelahkan saat tidak ada pasangan yang menemani. Namun sejak aku bersama dengan Sasa, entah mengapa, hari-hari yang aku lalui terasa lebih ringan dan berwarna.
"Sa, kamu ingin tahu nggak?"
"Soal apa?"
"Kalau, Jatuh hati sama kamu tidak perlu syarat yang berat. Cukup bawa kamu ke dalam taman hiburan yang ada di hatiku dan membuatmu tertawa. Cukup. Tidak lebih, tidak kurang. Bisa membuatmu senang, sudah membuatku senang juga. Asalkan aku dan kamu saling cinta, tidak ada dusta. Akan aku usahakan, surga kita menjadi kenyataan."
Sasa diam tidak bergeming. Dengan suara lembut dan senyum manis yang hangat, dia berkata, "aamiin."
Komentar