Langit & Senja

Suatu sore, Senja dan Langit sedang duduk berdua di tepi pantai terindah. Warna warna langit keemasan menjadi saksi bahwa mereka pernah menikmati keindahan lukisan tuhan yang nyata. Senja yang menggunakan pakaian tertutup islami terlihat sangat cantik. Bagi Langit, Senja adalah cinta terakhir yang dia miliki.

"Kamu tahu tidak, kenapa namaku Langit?"

"Kenapa?"

"Karena ibu dan ayahku dulu jatuh cinta saat sedang berduaan melihat langit waktu sore. Katanya, Langit itu luas. Mereka ingin anak mereka memiliki mimpi dan harapan seluas langit."

Senja yang duduk bersebelahan dengan Langit, tersenyum. Ia menanggapi dengan berkata, "kalau Senja. Namaku. Kamu tahu artinya?"

"Memang apa artinya?"

"Entahlah, kata ibu aku, itu nama yang dipilihkan oleh ayahku yang artinya hadiah untuk manusia yang bersyukur."

Di dalam kitab suci, tuhan pernah berkata dengan menyebutkan kata senja sebagai janjinya kepada seluruh manusia bahwa manusia akan melalui perjalanan hidup tingkat demi tingkat, langkah demi langkah untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.

"Menurut kamu, apa yang indah dari senja?" tanya Senja.

"Senja itu sederhana. Hadir di waktu menjelang petang dengan warna yang memanjakan mata tanpa perlu bersuara. Senja itu indah dan juga romantis karena ia hadir bagi semua orang untuk memberikan jeda pada masalah hidup setiap manusia."

Mendengar jawaban Langit, Senja kembali tersenyum. Seolah bersyukur karena ia dipertemukan dengan Langit melalui skenario tuhan yang paling tidak ia sangka-sangka.

"Aku bersyukur bisa menikah denganmu, Langit."

"Aku juga bersyukur, Senja."

Komentar

Postingan Populer