Nostalgia
Aneh ya, kita sudah sama-sama bilang buat selesai tapi kenyataannya kita masih saling ingin. Masih saling berharap untuk bisa terus sama-sama padahal situasi waktu itu, di taman kota, kita sudah saling bilang kalau itu adalah pertemuan terakhir kita. Aku sadar, kalau cinta itu sebenarnya saling mengerti dan saling mendukung keputusan satu sama lain.
Sekarang, aku sudah menikah dan kamu juga akan menikah beberapa waktu ke depan. Kita kembali bertemu di tempat terakhir bertemu sama seperti waktu itu. Saat kamu bilang sudah ada orang yang kamu balas pesannya padahal di waktu yang sama, aku juga menunggu balasan pesan dari kamu. Kamu memilih orang itu pada akhirnya.
"Selamat, ya. Aku senang mendengar kabar bahagiamu ini."
"Nanti jangan lupa datang sama istri kamu, ya," katamu dengan senyum yang masih tetap indah kepadaku.
"Iya. Nanti aku ajak dia juga."
Sudah satu tahun kita tidak bertemu setelah pertemuan terakhir di taman kota waktu itu. Bunga yang dulu mekar merona, sekarang juga masih sama indahnya. Hanya saja, sekarang suasananya berbeda.
"Makasih, ya untuk semuanya. Aku senang bisa ketemu sama kamu yang sebenarnya sempurna tapi aku rasa kita tidak ditakdirkan buat sama-sama sampai menikah."
Aku saat itu hanya tersenyum. Tidak ada pertanyaan 'kenapa' dari dalam diriku. Enah mengapa, aku waktu itu menerima semua keputusanmu dengan lapang dada saja.
"Sudah enam bulan aku sama dia mengobrol. Dia teman masalaluku, sudah lama juga aku menyukainya. Dan baru sekarang aku bisa dekat dengannya."
"Aku senang mendengarnya."
"Kamu tidak apa-apa kalau aku cerita soal ini ke kamu?"
Selayaknya waktu-waktu sebelumnya. Mendengarkan keluh kesah setiap perasaan yang dialami oleh seseorang yang kita cinta itu memberikan bahagia, aku juga sama. Aku juga bahagia kalau dia bahagia.
"Tidak. Aku tidak apa-apa. Lagi pula, dari dulu juga kamu tetap sama. Cerita apapun ke aku."
Kamu tersenyum saat itu. Tatapanmu mengarah ke arah langit seolah sedang membayangkan hal bahagia yang akan terjadi bersama seseorang yang kamu sebut teman masalalumu itu.
Saat itu, tidak ada rasa perih dalam diriku. Tidak ada resah yang datang secara tiba-tiba. Aku hanya merasakan kosong saja. Seperti ruangan yang sudah aku persiapkan dengan rapi di dalam hatiku harus menunggu penghuninya sedikit lebih lama dari yang aku kira.
"Oh iya, istri kamu apa kabar? Kamu menikah tidak berkabar. Tiba-tiba saja sudah punya pasangan. Aku jadi terkejut."
"Istri aku baik, kok. Dia sedang ada di rumah sekarang," jawabku.
"Lalu, kok kalian bisa menikah?"
Selepas kami berdua berpamitan di taman kota sore itu, beberapa hari kemudian, aku pergi ke rumah seorang perempuan. Hanya bermodalkan nekad dan keyakinan, aku berangkat pukul tujuh pagi. Peralanan jauh, sekitar tiga jam perjalanan, akhirnya aku sampai. Perempuan itu menyambut kedatanganku dengan ramah. Secangkir teh hangat, makanan seadanya yang ada di atas meja, dan beberapa obrolan manis yang untuk pertama kalinya, membuatku merasa bahwa perempuan itu adalah manusia yang akan mengisi ruangan di dalam hatiku yang kosong. Tanpa menunggu kesempatan untuk datang, aku membuat kesempatan itu sendiri. Dengan berani, aku mengajaknya untuk menikah.
"SAH?"
"SAH," begitu kata para saksi.
Ternyata, jodoh itu datang di saat kita sudah benar-benar siap untuk berani menerima dengan lapang dada tentang sesuatu yang bernama patah hati.
"Kalian sudah berapa lama kenalnya?"
"Sudah lama, tapi aku dan istriku baru bertemu tiga kali saja. Di pertemuan pertama, aku mencoba untuk mengenalnya. Di pertemuan ke dua, aku melamarnya. Dan di pertemuan ke tiga, aku menikahinya."
"Komunikasi kalian lancar, sebelumnya?"
"Tidak. Aku dan dia sering lost contact. Justru aku lebih sering menghabiskan waktu denganmu sampai akhirnya aku menyukaimu tapi tidak aku ungkapkan."
"Kenapa?"
"Karena aku rasa, mengukapkan perasaan kepadamu juga akan memiliki akhir yang sama. Bahkan akan lebih cepat untuk kita berpisah dan aku merasakan patah hati."
"Tapi kamu bisa bertemu istri kamu lebih cepat?"
"Belum tentu. Mungkin saja aku akan bertemu dengan istriku lebih cepat, tapi kalau saat itu terjadi, mungkin juga aku belum siap untuk menerima patah hati dengan lapang dada. Bahkan mungkin saja, aku menjadikan istriku itu sebagai pelampiasan patah hatiku lebih dulu."
"Aneh, ya," balasmu singkat.
"Ya, begitulah takdir. Kita hanya bisa menunggu waktunya saja. Tidak bisa mempercepat atau memperlambatnya. Namun kalau sudah waktunya, dia akan tiba juga."
"Bukan itu."
"Lalu apa?"
"Tapi aku yang aneh. Sudah bertemu denganmu yang baik hati, tapi justru memilih yang lainnya. Yang aku sendiri juga tidak berani untuk menjamin apakah pilihanku itu lebih baik dari kamu atau tidak."
Dulu, aku berharap untuk kita berdua bisa selalu sama-sama. Kamu menjadi istriku, dan aku menjadi suami kamu. Tapi kehendak hatimu berkata lain waktu itu, dan begitu juga denganku yang pada akhirnya memilih untuk menerima semua keputusanmu. Padahal saat itu, aku sedang menyiapkan yang terbaik untuk kita berdua.
Seperti makanan yang telah masuk ke dalam perut. Aku mengubur perasaanku kepadamu dalam-dalam. Tidak membuangnya juga tidak menyiramnya, apalagi merawatnya. Aku mendiamkan perasaan itu begitu lama. Membiarkannya bersarang laba-laba, berdebu tanpa pernah lagi aku sentuh.
Surat undanganmu aku terima dengan hati terbuka. Dengan segenap rasa yang tersisa, aku berkata kepadamu untuk hadir saat akadmu. Setidaknya, aku masih bisa melihat cantik parasmu dengan gaun pengantin yang kamu gunakan. Meski bukan denganku yang bersanding di sebelahmu.
Komentar