Pemberani

Hal yang tak pernah Naila sangka akhirnya terdengar oleh ke dua telinganya. Saat itu suasana kota Surabaya sedang panas-panasnya, Nabila datang menghampirinya bersama setumpuk laporan di kedua tangannya, "Nai, ini berkas lanjutan yang kemarin. Sama ini, Ada undagan nikah buat Lo, dari Andra."

Andra, laki-laki dengan tinggi kira-kira seratus tujuh puluh an yang selalu berdandan rapi saat pergi ke kantor itu akhirnya membagikan kabar bahagianya kepada Naila. Melalui undangan yang dititipkan kepada Nabila, Naila bertanya, "kok dia nggak kasih sendiri undangannya ke gue?"

"Wah, nggak tahu ya. Gue cuma dititipin gitu sama dia. Kalau alasannya tadi gue lupa tanyain. Coba lo kontak dia sendiri, deh."

Naila menerima setumpuk berkas dari Nabila sekaligus satu tanya yang membuatnya berpikir keras tentang Andra. Naila tahu, kalau sebenarnya Andra adalah sosok ideal yang Naila impikan, namun satu kata dari sebuah pesan yang Andra kirimkan membuatnya sadar bahwa sebenarnya dia berhak untuk mencintai siapa saja yang dia inginkan dengan sebuah syarat bahwa dicintai kembali bukan merupakan jaminan mutlak untuk bisa dia terima.

"Maaf."

Satu kata saja dari Andra dan itu cukup. Naila merasa kecewa pada kenyataan pahit bahwa jatuh cinta kadang tidak berujung bahagia. Ada kalanya jatuh cinta membuat seseorang patah hati, jatuh tenggelam ke palung kecewa paling dalam sendirian. Gelap dan tidak ada sebuah harapan untuk kembali melihat cahaya yang terang.

"Gimana, Nai, lo bakal dateng nggak, ke nikahannya Andra minggu depan?" Tanya Nabila saat jam kantor sudah masuk ke jam rawan.

Saat semua orang bersiap untuk pulang, Naila masih bertahan dengan tumpukan berkas yang belum dia selesaikan seratus persen. Berniat untuk mengalihkan kenyataan pahit yang ada di dalam hatinya, Nabila duduk di kursi kosong sebelah Naila.

"Gue bingung, Nab."

"Lo, masih ragu buat dateng atau nggak ke nikahannya si Andra?"

"Bukan. Bukan itu. Tapi, hal yang lainnya."

"Apaan?"

Naila mulai bercerita soal perasaannya ke Andra. Sedah lama sekali Naila menyukai Andra, bukan karena penampilannya saja, tapi karena pribadi yang ada di dalam diri Andra. Baik hati, humoris, suka mencairkan suasana saat kondisi mood Naila buruk. Tiba-tiba memberikan ucapan selamat pagi padahal di hari itu tidak ada kejadian istimewa apapun.

"Pagi, Nai."

Senyum yang mengembang di bibir Andra selalu mampu menjadi pelangi bagi Naila di setiap harinya. Sikap ramah dan perhatian kecil yang Andra lakukan adalah alasan lain bagi Naila untuk menyukainya.

"Nih kopi yang nggak terlalu pahit, buat lo, Nai. Hari ini kayaknya bakalan banyak tugas dari atasan, so keep this coffee for safe your energy till the end of this day."

Kesan yang sempurna di mata Naila. Yang membuatnya seolah sedang berperan menjadi ratu kerajaan saat pagi hari bersama dengan Andra.

"Thank's, Ndra."

Iya. Itu ucapan terimakasih bagi kopi yang Andra berikan kepada Naila setelahnya. Ucapan yang sama juga, setelah Andra mengirimkan pesan berisi kata maaf di malam hari saat Naila telah menerima undahan pernikahan dari Andra.

"Jadi, lo mau dateng ke nikahannya atau nggak, Nai?"

Lemas diri Naila untuk memberikan kepastian. Tapi nampaknya, ucapan terimakasih akan lebih bermakna jika dia sampaikan secara langsung di atas panggung megah pernikahan Andra bersama wanita yang bukan dirinya.

"Makasih ya, udah mau dateng, Nai," ucap Andra kepada Naila yang datang di hari pernikahannya.

"Happy Wedding, ya, Ndra," sambil menyembunyikan luka di dalam dirinya, Naila tersenyum.

Hidangan yang lezat telah di sediakan di atas meja. Nasi goreng, ayam kecap, ice cream, dan jus buah lengkap disantap para tamu undangan. Sayangnya, tepat setelah memberikan ucapan selamat kepada Andra dan mempelai wanitanya, Naila bergegas untuk segera pulang. Tidak ada santapan pemuas patah hati yang dihidangkan di sana. Mungkin perut yang lapar akan kenyang dan terisi penuh oleh nasi goreng dan ayam kecap, perasaan riang akan menjadi lebih bahagia bersama rasa manis dari ice cream dan jus buah, namun hati yang patah akan tetap memberikan luka meski kita menyantap makanan yang ada di pesta pernikahan seseorang yang Naila suka.

"Gue, udah jadi pemberani, kan, Nab?"

"Iya, lo itu pemberani, Nai."

"Setidaknya gue dateng di hari bahagianya, meski akhirnya air mata gue jatuh juga waktu pulang dari sana."

Komentar

Postingan Populer